Taubat Heroik

Michele Gito

“Kematian muslim itu indah!” kata Michelle, wanita asal Belanda yang ditinggal wafat suaminya, Bangun Sugito alias Gito Rollies, Kamis 28 Februari 2008. Entah apa yang dimaksudnya dengan “indah” itu. Tapi ia menyebut, antara lain – dengan keterbatasan ilmu agamanya –  bahwa “segala-galanya didoakan”, dan kemudian ia membayangkan seandainya dirinya kembali ke negerinya, tentu “indahnya kematian” muslim itu tak akan ia rasakan. Karena itulah sambil terisak-isak ia bilang, “Saya bukan orang Indonesia. Tapi saya mau terus di sini saja, mendampingi anak-anak saya.”

Bukan orang Indonesia, tapi ‘hanya’ Belanda, lalu kenapa Michelle? Menjadi orang Indonesia (bahkan jadi Arab pun!) percuma saja bila tak beriman. Apa pun warna kulit kita, tak ada kulit yang dibuat untuk menahan api neraka kan?

***

Indahnya kematian Gito Rollies memang diakui  banyak orang, karena penggalan terakhir dari hidupnya adalah “pertaubatan”. Hitam hidupnya sampai usia 50 tahun telah diputihkannya dengan pertaubatan sekitar 11 tahun (ia wafat di usia 61 tahun).

Mungkin pertaubatan Gito belum sempurna (lantas, siapa yang bisa sempurna?). Tapi ia wafat dengan meninggalkan ‘pesan’ yang seharusnya tajam menukik ulu hati, khususnya bagi mereka yang hidup ‘sealam’ dengannya, baik sebagai penyanyi, khususnya; maupun sebagai “penghibur” (entertainer) umumnya, yang kebanyakan cenderung ‘kebablasan’ menjadi orang-orang yang sok tidak peduli agama, dan terus asyik memperagakan segala tingkah-polah yang hanya berdampak merusak moral bangsa.

***

Mengapa kematian muslim menjadi indah? Pertama, bagi muslim, kematian bukanlah akhir kehidupan tapi awal dari sebuah kehidupan lain yang lebih baik dan kekal. Kedua, ada hadis yang mengatakan bahwa orang kafir mengalami syaqãratul-maut (sakitnya kematian), karena pencabutan ruhnya begitu sulit, sesulit menarik sutra dari duri. Sebaliknya, pencabutan ruh si muslim begitu mudah, semudah menarik benang dari tepung.

Bila anda menganggap hadis itu sebagai dongeng, mari kita pahami dengan cara lain! Orang kafir itu cinta dunia dan takut mati, sedangkan si muslim tidak cinta dunia dan tak takut mati. Dia memandang dunia seperti diajarkan Rasulnya, yakni hanya sebagai tempat persinggahan, dan di situ ia sempatkan diri untuk bercocok-tanam, menanam segala kebaikan, untuk bekal melanjutkan perjalanan.

Bagi si kafir, tiada kehidupan selain yang di dunia ini. Karena itulah dia selalu berharap untuk panjang umur, sambil terus hidup dengan gaya hedonis (memandang kesenangan, enjoy life, sebagai hal terpenting di dunia). Dan, begitu ‘malaikat maut’ datang untuk menjemputnya pulang, istilah bingung dan panik tidak cukup untuk menggambarkan perasaannya. Satu hal yang pasti, ia berusaha melawan, ngotot bertahan. Dan itulah, mungkin, yang menyebabkan nyawanya menjadi sulit lepas, sesulit menarik kain dari semrawutnya jebakan duri.

Sebaliknya, bagi si muslim, bila kita pinjam bahasa kaum sufi, kematian adalah “tanda cinta sejati” (ãyatu hubbi-shãdiq), karena ber-kat kematianlah “sang pecinta” bertemu dengan yang dicintainya!

***

Kematian seorang muslim adalah sebuah happy ending (kisah yang berakhir bahagia). Sebuah khusnul-khãtimah. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi banyak orang yang ditinggalkan.

Idealnya, kematian yang indah akan menjadi sangat indah bila diawali dengan kehidupan yang indah pula. Tapi, bukankah kebanyakan manusia justru sering ‘terpaksa’ lahir dan hidup di tengah lingkungan yang tidak mendukung tumbuhnya iman?

Justru karena itulah taubat bernilai penting dan jadi heroik! Karena taubat bukan hanya soal “kembalinya di anak hilang”, tapi merupakan sebuah pemberontakan terhadap dominasi lingkungan.

“Lebih heroik lagi,” kata seorang teman, “adalah  bila  pertaubatan itu tidak hanya bersifat spiritual serta ritual, yang ditandai dengan berubahnya gaya hidup dan penampilan,  menjadi sering muncul di masjid, pergi haji, dan kadang berceramah. Bila ada kemampuan, kenapa tidak dilanjutkan dengan melakukan berbagai usaha, memanfaatkan harta dan pengaruh untuk mengubah lingkungan, dari yang semula hanya merusak iman menjadi mendukung (kondusif) untuk pembangunan iman?”

Benar juga pemikiran teman saya itu. Apalagi bila yang bertaubat itu adalah para pemimpin kita, yang sejak lepas dari Belanda tak pernah sedikit pun menengok ajaran agama, sehingga dari orde ke orde mereka  menyusahkan rakyat saja! ▲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: