Perang Yang Tidak Seimbang

Menyaksikan Deddy Mizwar dengan karya-karya sinetronnya, mulai dari Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat,  Demi Masa, sampai Para Pencari Tuhan, saya terharu biru dan kemudian terhenyak sedih.

Mengapa?

Deddy sungguh membanggakan. Dialah satu-satunya aktor muslim yang bukan saja pandai berakting tapi juga menguasai bahasa film dengan baik.

Dalam sinetron-sinetron (dan film layar lebar) Deddy kita menyaksikan bahasa lisan (dialog) dan bahasa film (gambar) berpadu begitu serasi dan kompak. Selain itu, Deddy juga pandai memilih para pemain yang bisa main secara berimbang dengannya, sehingga tidak membuat dirinya jadi bintang sendirian, dan mereka bermain dengan begitu wajar, alami.

Hal itu terlihat dalam semua sinetron tersebut di atas (juga dalam Kiamat Sudah Dekat versi layar lebarnya). Khusus untuk Kiamat Sudah Dekat versi sinetron, kita terpana menyaksikan aktor-aktor kecil yang memainkan tokoh Saprol (M. Dwiky Riza), dan khususnya Kipli alias Zulkifli (Dwiki Reza Sakurta), di samping pemain tokoh Sarah (Zaskia Adya Mecca) dan Fandi (Andre Stinky).

Keistimewaan Deddy tentu saja pada kecenderungannya untuk berda’wah dengan bahasa film/sinetron, dan ia rupanya sangat siap untuk itu, baik secara teknik maupun isi. Dari segi teknik, Deddy bukan hanya menguasai cara bertutur yang humoris dan filmis tapi juga mahir bahasa gambar. Kepiawaiannya inilah yang membuat tontonan yang dihidangkannya mengalir dan menghanyutkan. Dari segi isi, Deddy mempunyai pemahaman agama cukup maju. Ketika dua kemahiran itu digabungkan – dengan harmonis, lahirlah tontonan sekaligus tuntunan yang segar dan mencerahkan. Sesuatu yang  kita rindukan selama ini.

Itu sisi yang menggembirakan dari tampilnya seorang Deddy Mizwar. Sisi buramnya, kemunculan Deddy sebagai single fighter di bidangnya telah membuat sebuah ironi terangkat ke permukaan. Ironi di bidang da’wah.

Para da’i kita umumnya tumpul wawasan kebudayaan dan khususnya kesenian. Karena itu, jangan heran bila ormas-ormas seperti Muhammadiyah, NU, Persis, termasuk FPI dan lain-lain, juga MUI,  tidak pernah melahirkan tokoh-tokoh seperti Deddy Mizwar. Jelas mereka tidak mengharamkan film dan sinetron yang baik, dan karena itu mereka mungkin memandang mubah, alias boleh-boleh saja orang menjalani profesi sebagai aktor dan aktris. Karena itu mereka tak pernah melarang peredaran film dan juga kehadiran televisi. Mereka baru berteriak bila ada film atau acara televisi yang dianggap bisa merusak moral umat.

Dalam pemikiran ormas-ormas Islam itu, yang di dalamnya bersemayam para ulama, film dan acara-acara televisi mungkin dianggap bukan sarana da’wah yang efektif. Bila kita melihat film-film Islami yang fenomenal seperti Ar-Risalah, Lion of the Desert (Karya sutradara Moustapha Akkad) dan entah apalagi (sulit disebut karena nyaris tak ada), kita tahu bahwa film-film itu bukan lahir dari pemikiran dan tangan para juru da’wah atau organisasi da’wah. Bahkan sinetron-sinetron yang ide ceritanya diambil dari beberapa majalah ‘Islami’ (yang sebenarnya menjual dongeng dan takhyul), jelas hanya melibatkan para sutradara dan pemilik rumah produksi dan stasion televisi, yang melihat horor sebagai barang dagangan.

Mereka, agaknya, tidak menyadari bahwa ketika mereka terjun ke bidang da’wah pada hakikatnya mereka terjun ke medan perang, yaitu perang kebudayaan. Bagi mereka, agama dan kebudayaan memang dua hal yang berbeda, dan mungkin malah berseberangan. Padahal dalam ceramah-ceramah – satu-satunya cara da’wah yang mereka gunakan, mungkin karena mudah dan murah, mereka hampir selalu menyinggung bahaya kebudayaan (khususnya Barat) yang menyerbu berbagai segi kehidupan, dan menimbulkan berbagai kerusakan moral.

Memang sungguh aneh. Di satu sisi ormas-ormas Islam itu jelas mewakili arus pemikiran yang percaya bahwa da’wah harus dialirkan lewat jalur kultural (budaya). Tapi bersamaan dengan itu mereka abai terhadap bahasa-bahasa kebudayaan, termasuk bahasa seni berupa film dan sinetron, yang terbukti berdampak luas dalam pembentukan kebudayaan bangsa, yang notabene cenderung tidak seiring dengan nilai-nilai Islam.

Karena itu, kembali pada Deddy Mizwar, alangkah sedihnya menyaksikan aktor yang satu ini berperang sendirian.

Sebuah perang yang tidak seimbang.

Comments
4 Responses to “Perang Yang Tidak Seimbang”
  1. reza says:

    gimana kalo ide2 dari blog abang (maksud saya nilai2 qur’an) di konversi jadi sebuah film? hm..masalah poligami juga seru tuh (pasti dijawab seru skalian alam)
    SUPAYA PERANG INI AGAK SEIMBANG

  2. Ahmad Haes says:

    Di tahun 1990an, saya diminta membuat skenario untuk fragmen sebuah tayangan yang sedang booming, yang akan ditayankan di bulan Ramadhan. Setelah skenario selesai dan sang pemesan membacanya, dia mengatakan “bagus”. Tapi beberapa waktu kemudian, ia mengatakan bawa cerita yang saya tulis “terlalu berat”. Padahal, menurut saya sih skenario yang saya tulis sama sekali tidak berat, bahkan mengandung cukup banyak humor. Pendeknya, skenario saya ditolak. Tapi, beberapa waktu kemudian, ia meminta saya melakukan riset dan menulis sebuah serial panjang yang relijius. Saya bilang, “Saya lebih suka ngajarin anda dan anak buah anda mengaji daripada menulis naskah sinetron!”
    Intinya, yang kamu sebut sebagai “nilai2 qur’an” itu sulit diterima oleh dunia entertainmant, yang tujuannya jelas hanya menawarkan hiburan, untuk memancing iklan. Karena itulah, dalam tulisan saya tentang Deddy Mizwar, saya cenderung menantang ormas-ormas dan lembaga-lembaga agama untuk memiliki televisi sendiri. Tapi ide ini agaknya tidak menarik buat mereka. Mungkin karena mereka tidak punya uang. Lebih mungkin lagi karena mereka tidak mempunyai wawasan budaya!
    Saya juga pernah mengajukan ide yang “lebih murah” kepada sekelompok da’i, yaitu mendirikan sebuah bioskop yang hanya memutar film2 Islam. Jawaban mereka adalah: Kita akan kehabisan film!
    Sebuah jawaban yang bodoh. Kalau mereka pintar, film2 atau bahan tontonan apa pun yang Islami bisa mereka temukan di seluruh dunia. Tapi, kembali soal klasik. Tak ada duit. Dan yang paling menyedihkan adalah tak adanya “wawasan budaya” itu!

  3. reza says:

    boleh tau skenario apa tuh bang? boleh saya baca? trimakasi

  4. Ahmad Haes says:

    Waktu itu saya masih menulis dengan mesin ketik, dan karena tidak mempunyai sarana pengarsipan, naskahnya sudah lenyap. Mungkin termasuk yang kena banjir atau dimakan rayap. Tapi itu tidak penting lah. Kalau memang dibutuhkan demi da’wah, saya masih bisa menulisnya lagi, bahkan mungkin secara lebih baik. InsyaAllah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: