Rejeki Tak Terduga

Ya Allah! Terimakasih atas rejekiMu yang tak teduga ini. Kalau boleh, sering-sering lah dikasih rejeki seperti ini! (Gb.: madespoint.blogspot.com).

Ya Allah! Terimakasih atas rejekiMu yang tak teduga ini. Kalau boleh, sering-sering lah dikasih rejeki seperti ini! (Gb.: madespoint.blogspot.com).

Di kota Malang, Jawa Timur, saya punya beberapa teman yang pandai pijat refleksi.

Hari itu, 19 Oktober, setelah menyelesaikan tugas rutin tiga bulanan, saya mampir ke rumah seorang teman yang punya keahlian demikian. Tujuannya semula hanya mampir karena kangen dan ingin tahu apa saja kegiatannya.  Tapi, di tengah obrolan, saya ingat tentang keahliannya itu, dan kebetulan badan saya sedang tak keruan. Seluruh tenaga rasanya seperti terkuras. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah memaafkan saya karena ‘memanfaatkan’ teman saya ini.

Saya datang ke rumahnya yang kecil namun asri, diantar teman lain yang sebenarnya juga ahli pijat refleksi, tapi saya ingin dia bisa segera pulang menemui keluarganya setelah beberapa hari meninggalkan mereka.

Saya disambut dengan ramah dan gembira. Begitu saya duduk, ia segera sibuk mencari menyediakan minuman dan makanan. Kami pun minum dan makan kue bersama. Setelah itu, saya pun menjalani pijat refleksi, mulai dari jempol kaki sampai seluruh badan.

Entah berapa lama saya meringis-ringis dan mengeluh kesakitan. Tapi setelah itu badan terasa sangat santai dan bahkan mengantuk. Kalau saja tidak ditelepon istri, yang saya tinggal di restoran ayam goreng yang dikelola istri teman ini,  pastilah saya sudah tertidur pulas.

Saya segera bergegas ke restoran tersebut di antar teman ini pula. Sampai di sana, macam-macam makanan dan minuman segera terhidang pula. Saya, istri saya, istri teman, dan si teman ini makan dan minum sambil ngobrol macam-macam.

Setelah makanan dan minuman hampir ludas kami ganyang, tiba-tiba teman saya itu berkata, “Astaghfirullah! Tadi subuh kan saya makan sahur. Hari ini (Senin) seharusnya saya puasa!”

“Ya Allah,  Mas, kamu ini bagaimana sih?” kata istrinya sambil tertawa. “Batal dong puasanya!”

“Ah, nggga!” jawab teman saya dengan tenang. “Ngga batal, wong saya lupa! Ini namanya rejeki min haitsu la yahtasib alias rejeki yang diberikan Allah dari arah yang tak terduga.”

Kami semua tertawa.

Tapi, itulah memang salah satu ‘aturan main’ dalam Islam.

Jelasnya, teman saya tidak salah. Puasanya tidak batal, walau ia sudah minum dua-tiga gelas air, kue, tahu goreng, ayam, dan entah apa lagi! Semua dilakukan dalam keadaan lupa bahwa ia hari itu sebenarnya berniat puasa.

Tengkyu Allah!

Sekali-sekali saya juga mau doong!

Comments
2 Responses to “Rejeki Tak Terduga”
  1. Tukang Iga Bakar says:

    Waktu makan Allahnya ada dimana tuh kok sampai hilang kesadaran…

  2. Ahmad Haes says:

    Jangankan waktu makan, waktu puasa aja ga tau Allah ada di mana! (Emang siapa yg nyuruh mikirin Allah?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: