Dengar, Tulis, Baca!

W. Montgomery Watt.

W. Montgomery Watt.

Bangsa Arab di masa Rasulullah dan sebelumnya, konon, hidup dalam kerangka budaya lisan atau budaya tutur. Tapi ternyata sampai sekarang kita masih bisa membaca sejumlah syair kuno warisan mereka. Menurut para ahli sejarah, di antara mereka memang ada yang bisa baca-tulis, tapi hanya sedikit. Pertanyaan kita adalah: apakah yang sedikit itu tidak bisa mempengaruhi yang banyak? Atau, tidak sudikah yang sedikit itu menularkan kemampuan mereka kepada yang banyak? Atau, yang banyak itu memang malas belajar semua?

Rasulullah sendiri selalu digambarkan sebagai orang buta huruf, dan banyak orang menjadi marah ketika ada yang berusaha membuktikan bahwa beliau sebenarnya bisa baca-tulis; lebih-lebih bila yang melakukan itu adalah seorang orientalis seperti Montgomery Watt (dalam buku Muhammad, Pprophet, and Statesman), yang cenderung menuduh Rasulullah sebagai pengarang Al-Qurãn.

Padahal, kalau cuma mau ngarang, orang buta huruf juga bisa mengarang. Abiasa, pengarang Mahabharata, juga tidak menulis kitab itu sendiri. Ia mendiktekan kata demi kata kepada Ganesha.

Bila Rasulullah buta huruf, mengapa kata pertama dalam wahyu pertama adalah iqra (bacalah), dan wahyu yang turun berikutnya adalah Al-Qalam (pena)? Layakkah Allah yang mahatahu dan mahabijaksana menyuruh orang buta huruf membaca?

Yang jelas, sejak Rasulullah menerima wahyu dan mengajarkannya, budaya lisan bangsa Arab itu secara perlahan tapi pasti terpinggirkan oleh budaya tulisan. Berkat Al-Qurãn, budaya tutur tergusur oleh budaya literatur. Mengapa? Kemurnian Al-Qurãn tidak bisa dijamin pemeliharaannya bila tidak ditulis. Karena itulah Khalifah Utsman menyelenggarakan penulisan lima mushaf  imam untuk dikirimkan ke propinsi-propinsi yang ada pada masa itu, seolah beliau tidak percaya kepada huffadz (para penghafal) Al-Qurãn. Dan, jangan lupa, da’wah Islam pun tidak akan bisa merebak sebegitu cepatnya ke seluruh penjuru dunia bila budaya lisan itu terus dipertahankan.

Anehnya, sampai sekarang umat Islam (khususnya Indonesia) adalah umat yang lebih suka bila ajaran agama disampaikan secara lisan, dan mereka tidak diharuskan membuat catatan. Padahal, ada sebuah Hadis yang mengisahkan seorang sahabat yang meminta Rasulullah mengulang sebuah pernyataan yang lepas dari rekaman ingatannya, dan Rasulullah menjawab sambil mengisyaratkan gerakan menulis, “Mengapa kamu tidak meminta bantuan tanganmu (mencatat)?”

Rasulullah juga menganjurkan para sahabat membaca Al-Qurãn dari catatan, bukan semata-mata dari ingatan. Ini tentu berhubungan dengan ketelitian, kecermatan dan pengamanaan Al-Qurãn itu sendiri. Karena ingatan memang tidak selalu bisa diandalkan, apalagi dijadikan jaminan. Bahkan, hanya dengan melihat catatan sebuah ingatan bisa dipastikan benar atau salahnya.

Kemalasan membaca selalu berdampingan dengan kemalasan mencatat. Dan itu adalah pertanda bahwa orang yang bersangkutan menjaga jarak dengan ilmu. ▲

Comments
One Response to “Dengar, Tulis, Baca!”
  1. mungkin lebih tepatnya,,al quran dalam ingatan (hapalan) dan dalam catatan saling melengkapi,,jika lupa bisa melihat catatan,,jika ada yg berusaha merubah (menambah/mengurangi) catatan al quran bisa dikoreksi oleh para hafidz Al quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: