Mengapa Nabi Kita Tak Perlu Digambar?

Ibrahim dalam imajinasi pelukis Kristen, yang kemudian ditiru oleh para pelukis Muslim ketika mereka membuat komik tentang Nabi Ibrahim dan Isma'il.

Ibrahim dalam imajinasi pelukis Kristen, yang kemudian ditiru oleh para pelukis Muslim ketika mereka membuat komik tentang Nabi Ibrahim dan Isma'il.

Bila anda seorang pelukis potret yang mampu menggambarkan keadaan fisik seorang penjahat berdasar ingatan seorang saksi atau korban kejahatan, tentu lebih mudah bagi anda untuk melukiskan bentuk tubuh Nabi Muhammad, karena kesaksian tentang bagaimana keadaan fisik beliau sebenarnya jauh lebih lengkap dan jelas.

Kesaksian itu dikemukakan bukan oleh orang-orang yang hanya melihat beliau secara sepintas tapi oleh mereka yang bergaul dengan beliau sepanjang hidup mereka, dan menjadikan kata dan perbuatan beliau sebagai pusat perhatian mereka. Karena itu, sungguh tidak aneh bila mereka mampu menggambarkan (dengan kata-kata) keadaan fisik beliau secara cukup rinci.

Di antara mereka yang memaparkan gambaran itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupu beliau, yang sejak kecil tinggal bersama di rumah beliau sendiri.

Kitab-kitab Hadits yang memuat gambaran fisik beliau juga tak kurang jumlahnya. Di antaranya adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Turmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad dan lain-lain. Bila yang anda kehendaki adalah buku sejarah lama, baca misalnya Tarikh Ibnu Hisyam, dan lain-lain.

Bila buku-buku itu sulit anda dapatkan, sekarang sudah banyak beredar cakram-cakram (compack disk) yang memuat sejumlah kitab Hadits dan sejarah Nabi dalam satu cakram saja. Dan bila anda tidak mengerti bahasanya, anda juga bisa membaca beberapa buku asli dan terjemahan yang dikerjakan dalam bahasa Indonesia.

K.H. Moenawar Cahlil, dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, misalnya, meringkas gambaran fisik Nabi Muhammad dari penuturan Hindun bin Alil Halal, Abu Hurairah, Ali bin Abi Thalib, dan Anas bin Malik, demikian:

“Bentuk badannya sedang, tidak panjang dan tidak pendek. Kepalanya besar, tulang-tulang kepalanya besar, rambutnya ikal hitam serta tebal, turun menutupi daun telinganya. Keningnya lebar: dua bulu keningnya melengkung seperti sabit, hitam tebal dan bertaut. Matanya besar dan kelihatan tajam, berkilau-kilauan; putih matanya agak kemerah-merahan; bulu matanya hitam; panjang dan lentik; sehingga menambah kuat dan tajam sorot matanya. Hidungnya tinggi kecil, mancung dan lurus serta lancip ke ujung. Mulutnya agak besar-luas; giginya bersih dan berkilau-kilauan; gigi serinya jarang serta rata. Janggutnya lebat, hitam, panjang dan teratur. Pipinya halus, sedang dan tidak mendekul. Dahinya luas, bersih dan bercahaya. Dadanya bidang, di tengahnya berambut lurus sampai ke hulu ari-ari. Tapak tangan dan tapak kakinya tebal, lurus dan rata; jari-jarinya lemas dan halus. Kulitnya halus dan bersih. Mukanya jernih dan pada air mukanya tampak jelas tanda-tanda ketenangan dan ahli pikir. Lehernya jenjang; bahunya besar. Perutnya rata, tidak menonjol ke muka, sebagai tanda orang yang berani lapar. Kalau berjalan badanya condong ke depan, tegak dan lurus; langkahnya cepat serta teratur. Kalau berpaling, berpalinglah seluruh badannya. Tipis dan halus daging kulit kedua tumitnya; dan kedua betisnya halus. Kumisnya baik serta teratur. Di antara kedua belikatnya ada sekeping daging merah seperti telur burung merpati sebagai tanda kenabiannya.”

Yakinlah, bila anda pelukis potret yang berpengalaman, anda akan mampu menuangkan uraian lisan itu dengan berbagai media, menjadi sebuah lukisan foto diri di atas kertas atau kanvas. Bila anda seorang perupa, anda bisa menjelmakan uraian panjang lebar itu menjadi patung perunggu, kayu, atau tanah liat. Dan harap diingat bahwa kemahiran demikian itu bukan hanya milik anda yang pernah kuliah di perguruan tinggi seni rupa. Anda pasti tahu bahwa orang-orang dulu juga banyak yang tak kalah hebat (atau malah lebih hebat?) dari anda. Tapi mengapa mereka tidak mewariskan sebuah pun gambar atau patung Nabi Muhammad?

Rupanya sejak awal sampai sekarang memang ada kesepakatan bahwa fisik Rasulullah itu tidak boleh (bahasa normatifnya haram) digambar dan/atau dipatungkan. Pertimbangan logika yang sering dikemukakan adalah karena khawatir gambar, lukisan, atau patung beliau akan diperlakukan sebagai berhala, yang akan disembah oleh umat Islam. Selain itu, bukankah Nabi Muhammad sendiri memimpin penghan-curan 360 patung yang terdapat di Ka’bah? Padahal, konon, di antara patung-patung itu terdapat patung Nabi Ibrahim dan Ismail, yang merupakan bapak moyang beliau sendiri! Mengapa beliau tidak cenderung memuseumkan benda-benda peninggalan sejarah itu?

Nabi Musa...

Nabi Musa...

Rupanya di situlah, mungkin, perbedaan seorang nabi dengan para ahli sejarah. Bila para ahli sejarah cenderung mengumpulkan bukti-bukti fisik sebagai sarana analisis kebenaran kejadian sejarah, seorang nabi lebih mementingkan keselamatan risalah (= thesis) yang dibawanya. ‘Kebetulan’ dalam sistem kepercayaan orang Islam, risalah Nabi Ibrahim, Ismail, dan Muhammad dianggap ‘sama’. Dus, melestarikan risalah Ibrahim dan Ismail bagi Muhammad adalah lebih penting dibandingkan dengan mengamankan bukti-bukti sejarah yang berupa patung-patung mereka, yang terbukti telah melahirkan ekses berupa pemujaan yang menyimpang itu. Tapi ingatlah bagaimana Nabi Muhammad mendepak patung-patung peninggalan Arab jahiliah itu sambil ‘mengadopsi’ ritual haji mereka menjadi bagian penting dari Rukun Islam. Mengapa? Karena, rupanya, ibadah haji itu sama sekali bukan milik Arab jahiliah tapi justru merupakan warisan Ibrahim dan Ismail, yang tujuannya telah mereka simpangkan, meski bentuk ritusnya masih dipertahankan. Anda bisa menemukan keterangan tentang hal itu dalam Al-Qurãn. Sebuah Hadits Qudsi bahkan mengungkapkan bahwa ritual haji itu juga dilakukan oleh Nabi Adam!

Peristiwa penghancuran patung-patung yang pernah dilestarikan dan dipuja di Ka’bah hanyalah sebuah contoh. Tapi dari contoh itulah bisa ditegakkan sebuah logika bahwa melukis atau mematungkan nabi memang tidak dibenarkan dalam Islam, baik demi kepentingan sejarah atau pun untuk tujuan seni belaka. Hal itu ‘diundangkan’ bukan karena fisik nabi dianggap sakral, tapi karena fisik seorang nabi sama sekali terpisah dari misinya; sementara kebanyakan manusia – apalagi yang dimabuk cinta buta – sering tidak mampu memilah. Bahkan kita – karena kurang kedewasaan, mungkin – sering terjebak dalam pesona keindahan lahiriah yang sebenarnya rapuh dan  fana.

Al-Qurãn sendiri memang tidak memuat larangan itu secara langsung. Tapi jelas di situ bahkan ada larangan mengklaim Nabi Muhammad sebagai pusat keturunan. Misalnya seperti yang tersirat dari  Surat Al-Ahzab ayat 40: “Muhammad itu bukan (untuk diklaim sebagai) bapak seorang lelaki di antara kalian. Dia hanyalah seorang rasul, yakni penutup dari para nabi.”

Karena beliau ‘hanya’ seorang rasul, yang akhlaknya (kepribadiannya) merupakan hasil dari didikan Allah sendiri, menurus sebuah Hadits, maka satu-satunya yang layak diketengahkan adalah misinya untuk ‘menularkan’ pendidikan ahklak itu. Dan untuk itu, umat Islam sama sekali tidak membutuhkan sebuah gambar atau patung yang diusahakan semata-mata untuk merekonstruksi sebentuk tubuh, yang secara keseluruhan pastilah tidak berbeda dari kita semua.

Comments
One Response to “Mengapa Nabi Kita Tak Perlu Digambar?”
  1. This was a very interesting post!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: