K u l i n o

Buckingham Palace, tempat tinggal keluarga kerajaan Inggris.

Buckingham Palace, tempat tinggal keluarga kerajaan Inggris.

Seorang anak bangsa kita, yang sudah menetap selama 17 tahun di London, bercerita kepada BBC bahwa ia menjadi betah tinggal di London karena udaranya, keteraturan sistemnya, dan banyaknya alternatif untuk bisa hidup. Tapi selain itu, yang terpenting adalah karena ia ‘terjebak’ oleh berbagai komitmen yang membelit dirinya, yang mulai dirasakan setelah tinggal di sana selama 5 tahun.

Semula ia datang ke Inggris sebagai pelajar, yang tentu ingin mendapatkan ilmu dari sebuah negara maju. Karena bukan anak orang kaya, ia pun harus kuliah sambil bekerja. Usai kuliah, ia bekerja di kedubes RI, dan ternyata di situ ia bertahan selama 10 tahun. Setelah itu, ia me-ngundurkan diri, untuk kemudian membuka sebuah usaha bersama istrinya. Kini usaha yang mereka jalankan boleh dikatakan sudah bisa menjamin hidup keluarga.

Dengan menetap selama 17 tahun, bolehlah dikatakan bahwa ia sudah kulino (terbiasa), alias sudah betah dengan segala yang ada di Inggris, sehingga menjadi seperti lupa pada negeri sendiri. Mengapa?  Seperti sudah disebut, di sana banyak pilihan untuk mencari nafkah. Kemudian, setelah mereka mempunyai perusahaan, rumah, dan sejumlah anak, alasan pertama itu diperkuat dengan banyak alasan-alasan lain yang saling berkaitan. Perusahaan dan ru-mah, misalnya, adalah ibarat gabungan akar tunggang dan akar serabut bagi tegaknya pohon kehidupan. Dan anak, sebagai generasi penerus yang selalu diharapkan untuk bisa hidup lebih baik, telah ‘terlanjur ditanam’ di sekolah-sekolah (yang tentu bermutu!) di negeri itu. Seandainya mereka –  suami-istri –  ingin pulang, maka pendidikan anak-anak itu pastilah menjadi bahan pertimbangan yang paling menentukan. Setidaknya, mereka harus menunggu anak-anak menjadi sarjana! Bila mereka, misalnya, punya tiga anak, silakan anda bayangkan berapa waktu dibutuhkan untuk menunggu mereka lulus sarjana!

Ada sesuatu yang membuat anda sedih?

Memang, kita sering merasa sedih bila mengenang saudara-saudara sebangsa menjadi kulino  dengan negeri orang; apalagi bila mereka punya hubungan darah yang dekat sekali dengan kita. Tapi, kita juga sering harus memaklumi pilihan mereka, mengingat bahwa di negeri sendiri kita tidak bisa memberikan atau memfasilitasi kehidupan mereka. Apalagi bila yang terjadi adalah sebaliknya; yaitu justru keberadaan mereka di luar negerilah yang membuat kita bisa “bertahan hidup” di sini. Kesedihan jadi berbaur dengan rasa malu.

Tapi, mengapa harus sedih dan malu, bila semua itu harus dilakukan semata-mata demi sesuatu yang kita anggap paling penting, yaitu kehidupan?

Kehidupan – dan bukan hanya hidup – memang segala-galanya bagi kita. Untuk itu, jutaan saudara sebangsa bertebaran di berbagai negara kaya, walau harus bekerja di sektor-sektor kotor dan hina, seperti menjadi pelacur dan pembantu rumahtangga. Mereka bahkan tidak takut walau harus pulang dengan fisik yang cacat karena disiksa, atau bahkan hanya bisa pulang nama. Untuk apa? Untuk bisa memiliki kehidupan, yang kalau bisa bersambung sampai ke tujuh turunan, atau lebih!

Sungguh mengagumkan!

Alangkah hebatnya kecintaan manusia pada kehidupan di dunia. Benarlah yang dikatakan Allah dalam Al-Qurãn bahwa di dunia ini memang ada mustaqarr(un) alias ‘pengikat’. Bila secara fisik manusia terikat oleh gaya tarik bumi (gravitasi), sebagaimana halnya segala hewan dan benda, maka secara ruhani manusia terikat oleh kehidupan!

Kehidupan bukan hanya soal napas. Bukan sebatas perputaran (siklus) jadual makan-minum. Kehidupan yang mengikat itu adalah keadaan-keadaan, atau status-status kita sebagai manusia di atas dunia. Di sini kita melakukan berbagai bisnis (urusan; kesibukan; usaha) dan banyak kegiatan sosial, yang membuat kita merasa ‘ada’, ‘sukses’, dan ‘terhormat’. Dengan kata lain, kehidupan adalah aktualisasi diri; adalah sarana untuk tampil ‘bersinar’ di mana-mana. Melalui apa yang kita sebut kehidupan, kita berusaha menampilkan, menonjolkan, dan mengagungkan diri, di atas pentas bernama dunia.

Tapi, dunia ini milik siapa?

Dan berapa lama kita bisa menjadi ‘orang besar’ atau ‘orang penting’, atau bahkan hanya menjadi orang kecil dan tidak penting? Berapa lama?

Lagi-lagi, bila merujuk Al-Qurãn, kesempatan untuk mereguk segala nikmat (yang sering harus didapat dengan susah payah) itu hanyalah sepenggalan waktu. Matã’un ilã hîn!

Setelah itu, kita pun direnggut dari segala kenikmatan dan keasyikan oleh  tangan  Yang Mahakuasa. Maka di manakah gerangan kehidupan berikutnya “harus” kita hadapi?

Ya. Kehidupan yang sekarang ini – di permukaan bumi mana pun –  adalah keharusan yang tak bisa ditolak.

Dan, sekali lagi, bila kita merujuk Al-Qurãn, setelah melalui kehidupan yang sekarang ini, kita “harus” – ti-dak bisa tidak – menghadapi kehidupan lanjutan, dalam waktu yang tak terhingga (abadi). ‘Malangnya’, kehidupan yang akan datang itu harus kita jalani dengan membawa bekal yang “harus” kita persiapkan dalam kehidupan sekarang.

Kata Rasulullah, kehidupan yang sekarang adalah peluang untuk berkebun; sedangkan kehidupan berikutnya adalah tempat menuai buahnya. Bila di sini kita menanam apel, di sana kita makan buah apel. Bila di sini kita berkebun duri, di sana kita harus menelan duri!

Jadi, adakah alasan untuk kulino di dunia ini, tanpa sadar bahwa segalanya akan berakhir?

Kata orang Jawa, kulino itu adalah penyebab tresno (cinta). Witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula dari kebiasaan). Memang. Karena ‘terbiasa’ hidup di dunia ini, kita pun jadi jatuh cinta kepadanya. Maka, kata Rasulullah pula, kalau sudah cinta dunia, manusia menjadi takut mati. Dan kedua hal itulah – cinta dunia sekaligus takut mati (hubbu-dun-yã wa karahiyatul-maut) yang disebut beliau sebagai penyakit wahn. Anehnya, kebanyakan manusia menganggap penyakit tersebut sebagai “normal”.

Bila situasi di sebuah tempat disebut berjalan normal, berarti di sana tak ada kekacauan. Bila masyarakat mengatakan kita normal, berarti kita tidak gila. Bila dokter memastikan badan kita normal, berarti kita sehat. Tapi, kata Rasulullah tadi, cinta du-nia dan takut mati itu adalah penyakit.

Karena penyakit itulah, kita lupa bahwa kita sama sekali tak bisa “bertaan hidup” di dunia ini.

Karena penyakit itulah, kita tak lagi punya kesadaran betapa gentingnya keadaan kita dari hari ke hari, karena  selalu dikejar kematian.

Kita lupa bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian, untuk memastikan siapa saja yang paling baik amalnya (Surat Al-Mulk); siapa yang paling patuh kepadaNya; bukan siapa yang paling piawai beraktualisasi diri, untuk mengumbar segala hasrat dan ambisi diri.☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: