Laron

“Kamu itu seperti laron; memburu api untuk kehancuran. Selalu kutarik kamu dari belakang; selalu saja  kamu lepas dari pegangan.”

Demikian kata Rasulullah saw dalam sebuah hadis Muslim. Sebuah pernyataan yang bernada keluhan, atau menggambarkan keprihatinan yang mendalam. Dan, harap dicatat bahwa ini adalah keprihatinan seorang rasul, yang justru mendapat tugas memimpin manusia untuk mengejar kebaikan (hasanah) di dunia dan akhirat.

Tentu yang diumpamakan sebagai laron itu adalah sebagian dari umat beliau yang ‘nakal’; yang tidak terlalu serius menanggapi da’wah beliau. Dan yang dimaksud api tentu saja segala sesuatu yang mempunyai daya tarik, yang selalu menggoda dan membetot ‘anak-anak nakal’ itu, tanpa peduli bahwa mereka pada akhirnya akan habis terbakar.

Mengapa alat perumpamaannya kok laron?

Seperti sering kita lihat, laron adalah serangga yang muncul di rumah kita pada waktu-waktu tertentu di malam hari, dan mereka selalu merubung api (lampu). Bila yang mereka kerubuti itu adalah lilin atau lampu teplok atau obor, maka tentulah sayap-sayap mereka terbakar, dan mereka pun berjatuhan. Bila yang dikerumuni adalah lampu listrik, mereka rontok karena bertabrakan dan kelelahan.  Selanjutnya, tubuh mereka yang lembek, rapuh, dan sudah tak bersayap itu, bila tidak dicomoti oleh manusia untuk digoreng, maka mereka segera diserbu oleh rombongan semut.

Betulakah manusia sebegitu lemah dan rapuh, seperti halnya laron?

Percaya atau tidak, begitulah agaknya manusia menurut  kacamata Rasulullah, yang tentu mempunyai cara pandang yang diajarkan oleh Allah. Dan kita pun bisa memahami cara pandang beliau manakala kita berusaha membuka-buka Al-Qurãn.

Manusia yang sering merasa gagah perkasa, yang kadang memandang dirinya sebagai makhluk penakluk dunia, sebenarnya memang rapuh dan lemah. Beberapa jenis pohon dan hewan (misalnya kura-kura) ada yang bisa hidup selama ratusan tahun. Sementara manusia, jarang sekali ada manusia yang bisa hidup sampai usia seratus tahun. Dan bila ada yang ‘beruntung’ dapat mencapai usia seratus atau lebih, maka usia yang panjang itu sebenarnya bukan suatu keberuntungan, tapi sering kali malah merupakan kepayahan, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain yang harus merawatnya.

Jadi, bila dibandingkan dengan usia dan kegagahan alam semesta, keadaan manusia memang tak kalah rapuh dan lemah seperti laron.

Dan, seperti halnya laron, manusia juga punya kecenderungan untuk selalu memburu ‘api’, yang mungkin dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan, padahal sebenarnya justru membinasakan.

Api yang selalu diburu laron bernama manusia itu tidak lain adalah dunia dengan segala gemerlapnya, yang sebenarnya menipu. Membuat manusia lupa bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara.

Comments
One Response to “Laron”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: