Olahraga Atau Olahjiwa?

Kalau ini olahraga bukan ya?

Kalau ini olahraga bukan ya?

Kata “olah” pada “olahraga” mengingatkan bahwa raga (badan) adalah sesuatu yang berproses.  Begitulah kenyataannya. Raga kita, sebagai bagian dari alam, tak pernah berhenti berproses. Menariknya, proses tersebut berjalan ke dua arah. Ke depan (maju) dan ke belakang (mundur). Lebih menarik lagi, hal itu – maju dan mundur –  terjadi secara bersamaan, walaupun pada ‘permukaan’ yang berbeda. Contoh yang paling mudah adalah umur. Pada saat kita merayakan pertambahan umur, diiringi lantunan syair “semoga panjang umur”, saat itu pula kesempatan hidup kita berkurang.

Lalu apa arti olahraga bagi kehidupan?

Dulu istilah untuk olahraga adalah “gerak badan”. Istilah yang memang kurang tepat; karena lebih bermakna umum. Kita tak pernah berhenti bergerak.

Sebaliknya, olahraga adalah istilah yang lebih ‘tendensius’, yaitu mengajak manusia berusaha mengolah (memproses) raganya agar menjadi lebih baik, atau setidaknya berusaha menghadang proses mundur yang terjadi karena berbagai pengaruh (lingkungan, makanan, minuman, gaya hidup).

Lebih jauh lagi, ternyata, olahraga bisa dikaitkan dengan berbagai segi kehidupan manusia, mulai dari yang bersifat pergaulan antartetangga sampai antarbangsa. Pendeknya, seperti yang kita lihat, olahraga tidak melulu berkaitan dengan sesuatu yang kita sebut raga. Penulis malah ‘curiga’ bahwa olahraga, jangan-jangan, malah lebih bermakna olahjiwa. Lho, kok bisa?

Ya! Karena, kenyataannya, olahraga hanya dilakukan oleh manusia-manusia yang sadar bahwa mereka butuh kesehatan, pergaulan, prestasi, eksistensi, dan seterusnya. Pendeknya, olahraga, meski namanya berbau fisik dan permukaan luar, hakikatnya adalah sesuatu yang amat sangat (berbobot) filosofis. Berkaitan dengan pandangan dan sikap hidup manusia, bangsa-bangsa, pribadi-pribadi. Karena itulah, dalam kontes olahraga apa pun, faktor-faktor non-teknik sering menampilkan peran pentingnya.

Karena itu pula, seorang pelatih kerap kali harus berperan sebagai ‘guru spiritual’ bagi olahragawan yang dibinanya. Akhirnya, dalam suatu pertandingan, kondisi raga yang prima harus digabungkan dengan kondisi jiwa yang prima pula. Di sini, teori-teori yang menyangkut kecerdasan intelektual dan emosional punjadi harus dilibatkan.

Selanjutnya, untuk apa semua itu – penggabungan fisik dan kecerdasan prima –  dilakukan? Apakah hanya demi satu tujuan pragmatis: merebut kemenangan dalam suatu event  pertandingan?

Rasanya, bila hanya itu tujuannya, terlalu dangkal. Seorang olahragawan bakal jadi individualis! Bila mengelompok, paling banter ia jadi primordialis. Bila kelompoknya meraih kemenangan, jadilah ia manusia arogan yang kelewat bangga dengan kelompoknya.

Sebaliknya, bila ‘terpaksa’ jadi anggota kelompok yang sering atau selalu kalah, jadilah ia manusia yang minder. Dengan demikian, olahraga tak berperan dalam pembangunan peradaban.

Lho, apa pula kaitan olahraga dengan peradaban?

Di atas disebutkan bahwa olahraga pada dasarnya sarat bobot filosofis. Di permukaan, olahraga hanya berkait kesehatan fisik. Di balik itu, olahraga berkait pula dengan kesehatan dan kematangan mental. Hanya dengan mental yang sehat dan matanglah, fisik yang sehat bisa difungsikan guna tujuan-tujuan beradab seperti membangun rasa percaya diri individu dan umat, pergaulan yang saling hormat, dan persaingan jujur. Dengan demikian, istilah sportif (sportive) memang layak diadopsi dalam berbagai segi kehidupan. Istilah ini mengandung arti jantan (kesatria),jujur, hormat kepada kawan maupun lawan, berani karena benar, tidak arogan saat menang, tidak kehilangan moral saat kalah, siap dikritik, dan sebagainya.

Begitu. Kira-kira.

Hidup olahraga!

(Atau olahjiwa?). ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: