Nanotek

Iseng-iseng saya cabut sehelai uban dari kepala. Lalu saya bentangkan di atas sebuah penggaris, sejajar dengan garis-garis hitam yang mengiris jarak mulai dari ketebalan milimeter. Ternyata rambut putih saya lebih tipis dari garis-garis hitam pada penggaris itu.

Dan – bodohnya! – saya tidak tahu berapa persen bedanya!

Padahal orang sudah bicara tentang masa 25 sampai 50 tahun ke depan, yang katanya merupakan zaman nanoteknologi (nanotek), yaitu teknologi berbasis satuan nanometer, yang ukurannya adalah satu per limapuluh ribu tebal (sehelai) rambut!

Apa arti dan hebatnya nanotek?

Menurut harian Kompas tanggal 19 Mei 2006, teknologi ini akan menguasai dunia mulai tahun 2013, dan tentu merupakan anugerah besar bagi manusia, karena akan menyapu bersih permasalahan pangan dan kesehatan.

Alangkah indahnya.

Tapi, tunggu dulu! Benarkah teknologi itu menjadi berkah bagi (seluruh) manusia, bila – katanya – ia hanya bisa diterapkan oleh bangsa-bangsa penguasa teknologi tinggi? Dengan sandaran secuil informasi koran itu, di kepala sa-ya hanya tumbuh secuil apriori (pengetahuan awal) yang menyimpulkan bahwa teknologi tersebut hanya akan membelah warga dunia menjadi the powerful (yang mahakuasa) dan the powerless (yang lemah).

Sepanjang sejarahnya, teknologi memang selalu merupakan berkah bagi sebagian manusia, dan bencana bagi sebagian manusia (berikut hewan dan habitat mereka) lainnya. Tapi, teknologi selalu seja menjadi kebanggaan mereka yang menemukan dan menguasainya.

Bayangkan! Dengan penemuan nanotek, anda boleh makan apa saja tanpa harus takut sakit. Bahkan penyakit keturunan pun bisa dilenyapkan. Orang buta akan dibuat melihat, orang tuli akan dapat mendengar, orang lumpuh akan bisa lari, orang idiot bisa jadi jenius (?), dan seterusnya… entah apa lagi.

Tapi, ingat pula bahwa teknologi selalu ibarat pisau bermata dua; sehingga tidak mustahil orang melek bisa dibuat buta, orang mendengar bisa dibuat tuli, dan seterusnya. Saya tidak bersangka buruk (negative thinking). Tapi, dari pemaparan tentang nanotek itu, terasa benar betapa angkuhnya manusia yang seolah menganggap teknologi sebagai satu-satunya hal penting dalam hidup ini.

Padahal, keangkuhan itu sendiri pun sudah menjadi isyarat bahwa teknologi tidak mampu memperbaiki akhlak manusia, malah sebaliknya bisa membuat manusia menjadi semakin tidak manusiawi, dan mengabaikan nilai-nilai moral. Tanpa nanotek pun, manusia sudah bisa membantah aturan agama (Islam) yang melarang makan babi, karena bila larangan itu, misalnya, berhubungan dengan penyakit, teknologi sederhana pun (pemanasan) sudah mereka anggap cukup untuk membunuh penyakit pada daging babi (cacing pita).

Juga, dengan penemuan teknologi yang semakin hebat, manusia bertingkah seperti akan hidup selama-lamanya. Padahal, dengan teknologi apa pun, manusia tidak akan mampu menyembuhkan penyakit tua (Hadis), dan tak akan bisa lolos dari maut (Al-Qurãn).

Agama kita memang tampak seperti antikehidupan, karena selalu mengajak untuk mengingat kematian. Tapi, agama kita juga mengajarkan bahwa hidup ini adalah sebuah pengembaraan, yang tentu bisa meletihkan dan menjenuhkan. Pada titik itulah kematian menjadi jembatan menuju peristirahatan yang nyaman. Tentu bagi mereka yang beriman. Sedangkan bagi mereka yang kafir, kematian adalah lorong tak berujung, atau sumur tanpa dasar, bernama penderitaan.

Saya tidak antiteknologi. Tulisan ini pun lahir dengan bantuan komputer, sebuah teknologi canggih masa kini. Tapi, saya juga tidak lupa bahwa dengan bantuan komputer pula bom-bom cerdas dikendalikan dari jarak jauh, untuk menghancurkan musuh yang kejahatannya mungkin hanya ada dalam khayalan dan kebencian si pemilik bom.

Saya kadang curiga bahwa teknologi – khususnya yang melahirkan alat-alat perang – timbul karena ketakutan atau kebencian berlebihan (paranoid) manusia atas kejahatan sesamanya. Atau – jangan-jangan – bukan ketakutan terhadap orang lain, tapi keserakahan dirilah yang membuat manusia selalu memperbaharui peralatan untuk menyerang dan menerjang. Bukankah sejarah banyak merekam peristiwa ekspansi dan penjajahan? Bukankah dalam contoh itu pihak lemah selalu jadi korban? Juga, ketika nanotek dikaitkan dengan makanan, bukankah itu hanya mewakili kerakusan kita untuk bisa melahap apa saja tanpa harus menanggung risiko apa pun?

Benarkah, pada akhirnya, manusia bisa mencapai kemampuan untuk menepis segala risiko kehidupan? Bila itu terjadi, maka pada akhirnya kita memang tidak membutuhkan ajaran moral apa pun. Agama akan masuk museum, dan Tuhan – bila masih dianggap ada – akan dibiarkan menjadi penonton bagi segala ulah manusia yang semakin perkasa tiada tara, dan karena itu menjadi tidak bisa mati. Taraf itukah gerangan yang hendak dicapai?

Sialakan berjuang ke arah itu, bila anda mampu.

Saya cuma bisa berdoa, karena masih percaya bahwa Allah itu ada, dan Ia telah mengirimi saya tanda kematian berupa uban.

Labbaika, Allahumma, labbaik! (Saya penuhi panggilanMu, ya Allah, saya penuhi!). ▲

20/5/06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: