Keju Dan Kelapa

Bila makan roti manis, bapakku selalu memilih yang berisi keju atau kelapa, dan kurang suka roti isi coklat, kecuali bila terpaksa.

“Kenapa sih Bapak sukanya roti keju dan kelapa?” tanyaku suatu hari.

“Keju mengingatkan bapak pada kejujuran,” katanya sambil tertawa.

“Dan kelapa?”

“Kelapa, … kelapa mengingatkan bapak pada kelapa .. rrr… an!” katanya pula sambil tertawa lebih keras.

“Terus,  kenapa bapak nggak suka coklat?”

“Suka juga, kalau tak ada yang lain. Coklat itu kan ciptaan Allah juga!”

“Iya!  Tapi kenapa Bapak ja-rang mau makan coklat?”

“Kenapa ya?  Mungkin karena waktu kecil Bapak hanya anak orang miskin, dan harga coklat itu mahal. Bapak hanya makan coklat kalau dikasih dermawan nyasar. Jadi, karena itulah, mungkin, Bapak kurang suka coklat.”

“Jadi, bagi Bapak, coklat itu identik dengan kekayaan?” desak-ku.

“Iya. Konsep bawah sadar Bapak mungkin begitu!”

“Terus, kalau coklat identik dengan kekayaan, dan Bapak nggak suka, berarti Bapak nggak mau jadi orang kaya?”

“Bukan! Tapi, bagi Bapak, kekayaan itu kadang identik dengan ketidak-jujuran!”

“Ah, Bapak ngarang aja!”

“Mungkin!  Tapi, rasanya karangan itu ada benarnya deh.”

“Iya sih. Tapi, rasanya ada yang salah juga! Kalau Bapak bilang coklat identik dengan kekayaan, keju juga identik dengan orang kaya lho, Pak. Malahan identik dengan penjajah. Kata Nenek, keju itu kan makanan Belanda.”

“Iya juga sih. Tapi namanya itu lho, keju, keju … ju …rrr …an. He he!”

“Ah, itu kan bisa-bisanya Bapak aja!”

“Mungkin! Tapi, yang penting, kalau kamu kaya nanti, kamu harus suka makan keju.”

“Maksud Bapak supaya aku jadi orang kaya yang jujur, kan?”

“Ya. Selain itu, kamu juga harus suka makan kelapa.”

“Supaya selalu ingat orang-orang yang masih kelaparan, kan? Insya-Allah!  Aku akan jadi dermawan, Pak!”

“Salah!  Jadi dermawan bukan cara yang benar untuk menolong orang miskin. Malahan, sikap dermawanmu bisa jadi justru me-nempatkan orang-orang miskin sebagai obyek, sebagai alat, untuk membuatmu terkenal dan mendapat pujian! Bahkan, yang Bapak dengar, orang-orang miskin itu sering jadi ‘dagangan’ pemerintah dan LSM, untuk mendapat bantuan luar negeri.”

“Wah, bingung deh aku!  Pikiran bapak itu sering kali tampak rumit.”

“Ha ha!  Dan kalau menyebut kata rumit, apa yang kamu bayangkan?”

“Apa lagi? Benang kusut!”

“Benar, tapi itu mewakili pikiran negatif.”

“Terus, yang positif apa, Pak?”

“Sistem! Sistem apa pun. Komputer, internet, otak kita, dan lebih-lebih lagi jagat raya. Itu semua sistem. Rumit tapi tidak kusut.”

To the point aja, Pak!  Bapak mau menyampaikan pesan apa? Jangan bertele-tele seperti sastrawan gagal.”

“Ah, dasar anak muda!  Malas berpikir. Bapak hanya ingin mengatakan bahwa kelaparan, kemiskinan, itu bukan masalah yang bisa diatasi dengan kemurahan hati atau kedermawanan. Lagi pula, berapa banyak sih jumlah dermawan di bumi ini? Kemiskinan adalah masalah sistem. Tepatnya, kemiskinan itu adalah dampak, adalah ekses, dari sistem ekonomi, … yang menempatkan rakyat jelata di luar sistem itu!”

“Waah, itu tuduhan serius lho Pak!”

“Malah, Bapak pikir, sistem ekonomi yang ada itu, dari dulu sampai sekarang, adalah sistem yang dibikin orang-orang kaya, para pemilik modal, untuk melanggengkan status mereka, dan untuk kelestarikan kemiskinan itu sendiri.”

“Waah, tambah serius tuh tuduhan Bapak!”

“Makanya, kalau kamu jadi orang kaya, apalagi berkuasa, tanggapi masalah kemiskinan ini dengan serius!”

“Seserius apa, Pak?”

“Anakku, kemiskinan itu sebenarnya hanya ilusi, seperti ilusi pesulap David Coperfield!”

“Bapak ini katanya harus serius, kok malah bercanda lagi?”

“Lho, ini serius!  Kemiskinan itu memang ilusi. Sulap!”

“Jadi, maksud Bapak, kemiskinan itu bukan kenyataan?”

“Iya. Kemiskinan itu sebenarnya tidak ada. Ia menjadi seperti ada karena peran para ilusionis. Para tukang sulap!”

“Siapa mereka?”

“Para orang kaya, para penguasa, yang pintar dan serakah.”

“O, ya?  Bapak kok semakin ngaco sih?”

“Kamu kan pernah baca buku-buku sejarah. Kamu pasti tahu mengapa dulu para penjajah datang ke negeri kita …”

“Karena negeri kita kaya dengan rempah-rempah, barang tambang, dan banyak lagi.”

“Nah, kekayaan negeri kita itu kan anugerah Allah buat kita. Tapi kenapa kita malah hidup miskin?”

“Karena kita bodoh, sehingga kekayaan kita dikuasai para penjajah, dan kita menjadi pelayan serta budak mereka di negeri kita sendiri.”

“Nah! Sekarang para penjajah sudah pergi. Tapi, kenapa  rakyat kita tetap miskin?”

“Karena mereka tetap bodoh.”

“Bodoh! Tapi seharusnya mereka tidak miskin.”

“Kenapa?”

“Karena mereka tetap pemilik negeri ini kan?”

“Hmh, ya, ya, tentu saja.”

“Lalu, menurutmu, bila  sekarang mereka miskin, siapa yang menjadi perampok milik mereka itu?”

“Waduh, ini teka-teki yang sulit, Pak!  Saya jadi pusing nih. Sudahlah, saya pamit kuliah ya Pak?”

“Hmh, dasar anak sekarang. Kuliah orang lain dikejar, kuliah orangtua sendiri malah diabaikan?”

“Kuliah Bapak kan nggak bisa bikin aku jadi sarjana.”

“Benar juga. Tapi sayangnya, kesarjanaanmu nanti itu, juga belum tentu bisa menjawab teka-teki Bapak.”

“Ah, Bapak memang suka ngeledek! Sudah ya, aku permisi, Pak. Assalamu ‘alaikum…!”

Wa ‘alaikumus-salam! Eh, tunggu! Bapak masih punya teka-teki untukmu. Kalau kamu nggak bisa jawab, tanya saja dosenmu!”

“Teka-teki apa lagi?”

“Kenapa kelapa disukai tupai yang jago melompat itu?  Dan kenapa pula keju disukai tikus?”

“Hmh, teka-teki encer!  Kelapa disukai tupai, karena bisa dijadikan minyak goreng, dan si tupai bisa menjualnya dengan harga mahal di luar negeri. Terus, keju disukai tikus, karena tikus adalah teman Belanda. Puas?”

“Ha ha!  Kamu lucu, Nak!”▲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: