Dulu Muslim Jatuh Cinta Pada Barat

Pada permulaan abad duapuluh hampir setiap intelektual Muslim jatuh cinta pada Barat. Mereka ingin negara mereka seperti Inggris dan Prancis, yang pada waktu itu merupakan pemuka negara-negara modern yang demokratis dan sekular. Beberapa di antara mereka bahkan bersikap berlebihan dengan menganggap bahwa orang-orang Eropa adalah para Muslim yang lebih baik dari kaum Muslim sendiri, karena masyarakat modern mereka sudah mendekati konsep egaliterisme Al-Qurãn, yang justru gagal dibangun di negara-negara Islam tradisional.

Muhammad ‘Abduh (1849-1905), Mufti Agung Mesir, amat sangat kecewa pada Inggris yang menjajah negerinya namun amat akrab dengan kebudayaan dan orang-orang Barat. Setelah melakukan perjalanan ke Paris, konon ia mengatakan, “Di Prancis aku melihat para Muslim walau tidak ada Islam; di Mesir, aku melihat Islam tapi tidak melihat Muslim. Di Iran, para mullah bergandeng tangan dengan kaum intelektual sekular, menuntut pemerintahan yang demokratis dan menyertakan keterlibatan rakyat. Ketika sebuah parlemen dibentuk pada tahun 1906, Syaikh Muhammad Husain Naini (1850-1936) menyatakan bahwa hal terbaik berikutnya adalah munculnya Juru Selamat Syi’ah, yang diharapkan menegakkan pemerintaha adil akhir zaman, karena dialah yang akan memberangus kejahatanan pemerintahan Syah.

Sungguh penting mengenang semangat awal itu. Ketika para Muslim untuk pertama kali berhadapan dengan Barat yang modern dan demokratis, mereka tidak menarik diri sambil memuntahkan isi jeroan mereka, tapi justru mengakui bahwa apa yang mereka saksikan itu adalah perwujudan dari ajaran agama mereka sendiri. Sekarang, banyak Muslim dan orang Barat memandang satu sama lain dengan kecurigaan yang mendalam.

Setelah serangan biadab 11 september, banyak orang Barat mulai percaya bahwa, seperti yang diramalkan Samuel P. Huntington, memang ada perang peradaban karena agama mereka (Islam) tidak cocok dengan kemodernan. Banyak di antara mereka yang percaya bahwa “Islam” cenderung mendorong para Muslim untuk melakukan tindakan teror dan kekerasan, mengagumi para pembom bunuh diri, dan bahwa ia (“Islam”) tidak bisa seiring sejalan dengan demokrasi Barat yang liberal. Pandangan ini bisa dipahami, mengingat kebanyakan orang Amerika dan Eropa hanya tahu terlalu sedikit tentang Islam juga situasi-situasi politik yang menyebabkan terbentuknya keadaan buruk itu.

Bila kita memang sedang melancarkan “perang melawan teror”, kita membutuhkan informasi yang cermat. Kita tidak boleh mempertahan-kan ketidakpedulian, karena sekarang taruhannya terlalu besar. Memang sangat penting mengenali musuh-musuh kita, tapi mengenal siapa-siapa yang bukan musuh juga tidak kalah pentingnya. Hanya beberapa gelintir Muslim yang terlibat dalam teror dan kekerasan. Bila media dan para politisi kita terus menghina Islam, menelan mentah-mentah pandangan stereotipe yang sudah merebak di Barat sejak zaman Perang Salib, kita pada akhirnya akan mengasingkan para Muslim yang tidak bermusuhan dengan Barat, yang menikmati atau merindukan demokrasi yang lebih baik, dan yang resah dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan atas nama agama mereka. Kebutuhan kita untuk membangun jembatan-jembatan hubungan dengan dunia Islam sudah sangat mendesak. Saya kita tidak ada proyek-proyek yang lebih mendesak dari hal itu untuk masa sekarang ini.

Karena itulah buku ini menjadi sangat penting. Alih-alih memusatkan perhatian pada “Apa yang salah?” seperti Bernard Lewis, Imam Feisal Abdul Rauf mengungkapkan apa yang bisa dilakukan Islam dan harus ditawarkannya kepada Barat. Dirinya sendiri adalah figur penghubung karena dia mengakar dalam di kedua dunia (Islam dan Barat). Dia bersekolah di Mesir, Inggris, Malaysia, dan Amerika Serikat (AS), dan masjidnya di New York City hanya terletak beberapa blok (gang) dari gedung World Trade Center. Setelah 11 September 2001, banyak orang bertanya pada saya, “Ke mana para Muslim moderat? Mengapa mereka tidak bicara?” Dalam diri Imam Abdul Rauf, kita memiliki seorang Muslim yang mampu berbicara kepada orang Barat dengan cara yang dapat mereka pahami.

Salah satu aset penting AS dalam perjuangan mereka melawan terorisme adalah komunitas Muslim Amerika. Banyak Muslim Amerika sejak lama menyadari bahwa mereka bisa mengamalkan agama mereka secara jauh kebih kreatif di AS daripada di negeri-negeri asal mereka. Bertahun-tahun sebelum 11 September, mereka berusaha membangun sebuah “Islam Amerika” yang kuat dan dinamis, membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi Muslim yang baik sekaligus patriot Amerika. Waktu saya mengunjungi komunitas seperti itu pata tahun 1999, saya menganjurkan agar – setidaknya dalam beberapa hal – mereka meniru orang Katolik Amerika. Pada masa Perang Kemerdeka-an melawan Inggris, hanya ada 1 persen dari para kolonis yang beragama  Katolik. Orang-orang Katolik pada waktu itu adalah kaum minoritas yang dibenci dan direndahkan. Mereka di-anggap sekomplotan dengan kaum Anti Kristus, yang dipimpin seorang paus yang jahat, yang selalu menentang kemerdekaan dan demokrasi. Tak ada orang yang berani bermimpi bahwa suatu hari seorang penganut Katolik akan menjadi presiden AS. Zaman itu memang merupakan masa-masa sulit kaum Katolik Amerika, tapi pada tahun 1960an, para uskup AS lah yang berperan penting dalam mendesak terjadinya reformasi Second Vatican Council. Iman mereka telah diperkokoh dengan cita-cita Amerika tentang kemerdekaan, kesetaraan, keterbukaan dalam kepemimpinan, dan, seperti Paus John XXIII, mereka ingin agar angin pendorong modernitas berembus di lorong-lorong Vatikan yang pengap. Seandainya semangat ini berhasil, niscaya Gereja Katolik terhindar dari beberapa masalah yang kini muncul.

Kaum Muslim Amerika bisa mengembuskan pengaruh yang sama kepada dunia Islam dan membuktikan bahwa  memang  ada  peluang  untuk hidup berdasar cita-cita Al-Qurãn di AS. Tapi mereka tidak akan bisa berbuat demikian bila mengucilkan diri seperti calon teroris dan terus bersikap depensif.  Sungguh penting bagi orang Barat untuk menyadari bahwa Islam bukan sebuah agama asing tapi tradisinya justru sangat cocok dengan cita-cita mereka sendiri. Dalam buku ini, mereka akan tahu bahwa selama berabad-abad para Muslim telah menciptakan masyarakat-masyarakat yang jauh lebih toleran dan pluralis daripada masyarakat Kristen Eropa; bahwa ada dasar-dasar penting dari hukum Islam yang sangat sesuai dengan demokrasi; dan bahwa Al-Qurãn menekankan pentingnya keadilan dan kesetaraan, yang sangat sentral dalam cita-cita Barat. Mereka akan mengetahui bahwa para Muslim telah membantu orang-orang Eropa membangun ulang kebudayaan mereka setelah trauma panjang Abad Kegelapan dengan cara memperkenalkan kembali kepada mereka filsafat, sains, dan metematika warisan Yunani kuno.

Tapi justru di sinilah letak kesulit-annya. Dalam abad duabelas dan tigabelas, sementara para sarjana Eropa duduk menuntut ilmu dari para sarjana Muslim di Spanyol, Tentara Salib Eropa membantai kaum Muslim di Palestina dan Siria. Pada masa pembentukan peradaban Barat itulah terjadi keruntuhan keseimbangan yang tidak menyehatkan. Dalam usaha-usaha mereka membangun sebuah identitas baru, orang-orang Kristen Barat memandang kaum Yahudi dan Muslim, dua korban Perang Salib, sebagai sesuatu yang berbeda, sebuah simbol dari segala sesuatu yang mereka percaya tidak ada pada mereka (atau mereka takut bila hal itu justru ada pada mereka). Mereka cenderung untuk memproyeksikan kecemasan-kecemasan terpendam mereka tentang perilaku mereka sendiri kepada dua “musuh peradaban” ini. Jadi, selama Perang Salib itulah para pendeta-sarjana Eropa menerakan cap Islam sebagai agama pedang, meski orang Kristen sendiri memicu perang suci yang brutal terhadap kaum Muslim di Timur Tengah. Di masa Perang Salib, permusuhan terhadap Yahudi menjadi penyakit kronis di Eropa, dan tradisi yang memalukan ini telah menggiring mereka melakukan kejahatan-kejahatan paling keji sepanjang sejarah Barat. Tapi sikap Islamofobia kita mendapat sambutan setara, dan kejahatan 11 September telah menguatkan banyak prasangka warisan Perang Salib.

Kini kita harus menumbuhkan pandangan yang lebih adil dan seimbang terhadap Islam. Kebencian kuno abad pertengahan dikompori oleh penolakan. Memang selalu sulit memaafkan orang yang kita cederai. Para Tentara Salib merasa tidak mungkin untuk menghargai kekuatan-kekuatan kebudayaan Islam, sebab dalam bawah sadar mereka tahu bahwa mereka sendiri telah berdosa. Yesus, kenyataannya,  mengajari para pengikutnya agar menyintai musuh-musuh mereka, bukan malah memusnahkan.  Pada masa kini masyarakat Barat harus menyadari bahwa selama abad lalu politik luar negeri mereka telah ber-peran dalam krisis yang terjadi sekarang. Seperti diungkapkan Imam Rauf dalam bukunya, dengan mendukung rejim-rejim yang tidak demokratis di Timur Tengah, misalnya, Inggris dan Amerika bukan hanya telah mengkhianati cita-cita mereka sendiri, tapi juga secara tidak bijaksana mereka telah memupuk tumbuhnya kekerasan. Tidak ada alasan untuk membenarkan pembunuhan besar-besaran 11 September atau pengeboman bunuh diri di Israel dan Palestina. Imam Rauf menjelaskan sebab-sebab malaise[1] dan penyalahgunaan agama di beberapa bagian dunia Islam. Masyarakat Barat mengajukan tuntutan yang sah agar kaum Muslim bersikap lebih terbuka dan mawas diri, tapi seiring dengan itu mereka juga tidak boleh menutup mata untuk cacat-cacat mereka sendiri.

Buku Imam Rauf mengandung pesan positif. Buku ini membantu para Muslim dan masyarakat Barat melihat sebuah jalan keluar dari kemacetan, yang di dalamnya kekerasan berbalas kekerasan, serangan ditimpali serangan, sampai pada timbulnya serangan antisipatif (Preemtive strike) dan rentetan teror baru. Bila kita ingin lepas dari lingkaran setan ini, kita harus belajar bukan hanya bertoleransi tapi juga menghargai satu sama lain. Masyarakat Barat telah kehilangan kekaguman yang mereka nikmati di zaman Muhammad ‘Abduh, sebagian karena kebijakan-kebijakan mereka yang kacau.

Dalam pertengahan abad dua puluh, seorang sarjana Kanada Wilfred Cantwell Smith memaklumkan peringatan serius. Islam yang berfungsi dan sehat adalah kebutuhan darurat  bagi perdamaian dunia, karena hal itu selama berabad-abad membantu kaum Muslim memelihara nilai-nilai dan cita-cita yang juga dimiliki masyarakat Barat, karena hal itu me-mang memancar dari tradisi yang sa-ma. Kaum Muslim harus belajar menerima Barat dan tidak jatuh menjadi korban rayuan kaum ekstremis yang menolak kekuasaan Barat. Tapi masyarakat Barat juga harus menyadari “bahwa mereka menghuni sebuah planet bukan bersama kaum yang kalah tapi bersama mereka yang setara.” Bila mereka gagal bersikap begitu, simpul Smith, kedua pihak “akan gagal pula menyesuaikan diri dengan kejadian-kejadian pada abad dua puluh. Barangkali, meledaknya WTC melambangkan kegagalan bersama kita melalui ujian ini. Buku ini mengungkapkan bahwa satu-satunya cara yang mungkin diajukan adalah menumbuhkan dengan tekun rasa saling menghormati. Buku ini layak dibaca, tapi selanjutnya – bahkan lebih penting – isi buku ini layak diamalkan.▲

(Terjemahan dari Kata Pengantar yang ditulis Karen Armstrong untuk buku What’s Right With Islam, karya Imam Feisal Abdul Rauf).


[1] Rasa tak enak badan tanpa tahu di mana letak sakitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: