Siapa Larang Datang Jakarta?

Monumen Nasional, bukan lambang 'arogansi' Pemda DKI.

Monumen Nasional, bukan lambang 'arogansi' Pemda DKI.

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah: Pemda DKI.

Entah mulai dari (gubernur) siapa!

Larangan itu biasanya dimaklumkan setiap menjelang para urban mau mudik. Selanjutnya, pas arus balik, pemda DKI mengerahkan aparatnya untuk melakukan razia. Siapa yang ketahuan sebagai pendatang baru, mereka disuruh pulang ke kampung masing-masing!

Kebijakan itu melukai nurani bangsa.

Memangnya Jakarta punya siapa?

Coba tanya Sunan Gunung Jati alias Falatehan! Dulu dia bebaskan Sunda Kalapa (wilayah kerajaan Banten) dari Portugis, lalu dia ganti namanya jadi Jayakarta (disingkat Jakarta). Mengingat dia Muslim (wali lagi Cing!), anda pikir dia persembahkan Jakarta untuk siapa?

Mungkin hanya sejumlah orang Belanda yang berpikir bahwa Jakarta adalah milik para penguasa berdarah Bataaf atau Batavier (nenek moyang mereka dari suku bangsa Jerman kuno!),[1] yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka (walau dengan cara merampas). Maka mereka mengganti Jakarta menjadi Batavia, dan menempatkan para penduduk asli (yang semula warga kerajaan Banten) sebagai budak dan pelayan mereka.

Kini, setelah Belanda tiada, dan kita jadi bangsa ‘merdeka’, bukan berarti cara berpikir dan ironi mereka sudah tak ada.

Salah satu ‘ironi’ itu, misalnya, para penduduk ‘asli’ Jakarta memunculkan identitas sebagai orang Betawi (ejaan mereka untuk Batavia).

Mohon maaf beribu maaf kepada saudaraku yang mengaku sebagai orang Betawi: anda telah keliru!

Anda bukan orang Belanda yang datang dari Bataaf , bukan Batavier.

Maka, jangan mengaku orang Betawi!

Katakan saja bahwa anda orang Jakarta!

Tapi, dengan menjadi “orang Jakarta” tidak berarti bahwa anda harus mengklaim Jakarta sebagai milik anda!

Sama seperti ‘penduduk asli’ kota-kota (dan kampung-kampung) lainnya di Indonesia, anda dan saya, tidak boleh mengaku-aku sebagai pemilik Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Bandung, Bogor, Semarang, Yogya, Malang, Surbaya, dst.; karena kita sudah mengakui Sumpah Pemuda sebagai sumpah kita.

Kita, dari suku apa pun, adalah ‘pemilik’ tanahair Indonesia. Anda yang orang Jakarta asli, punya hak untuk menginjak dan menempati belahan bumi mana pun di wilayah Indonesia; sama seperti yang lain pun berhak menginjak dan mendiami Jakata.

Bahkan, bila kita Muslim, segala yang kita sebut sebagai ‘milik’ itu adalah milik Allah belaka!

Kesadaran seperti itu juga seharusnya ada pada pemda DKI, yang saya yakin kebanyakan Muslim.

Mereka, sebagai pemerintah, sebagai “pengemban amanat penderitaan rakyat”, yang harus dientaskan (diangkat) dari ‘lumpur derita’, tidak seharusnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bersifat menjegal usaha rakyat mencari nafkah dan memperbaiki kehidupan.

Bila kedatangan mereka ke Jakarta, atau ke kota mana pun di Indonesia, terasa merepotkan anda, maka sadarlah bahwa anda dipilih menjadi pemerintah karena anda dianggap siap menempati “seksi repot”.

Anda dipilih menjadi pemerintah karena anda dianggap mempunyai keistimewaan dibanding rakyat jelata.

Pada keistimewaan andalah terletak amanah Allah dan harapan rakyat!


[1] Ensikopedi Umum, Kanisius, 1990.

Comments
2 Responses to “Siapa Larang Datang Jakarta?”
  1. reza says:

    emang jakarta bisa hidup tanpa kaum urban??

  2. Ahmad Haes says:

    That’s not the point Bro! Intinya: Pemerintah jangan suka bikin aturan secara asal2an!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: