Berpuasa & Idul Fithri Mengapa Harus Berlain Hari?

Ini terjadi pada tahun 2007.

Sebuah kalender digital.

Sebuah kalender digital.

Tahun ini bangsa kita ‘beruntung’, karena dua ormas Islam terbesar kita, NU dan Muhammadiyah, tak sempat berselisih tentang tanggal 1 Ramadhan. Para petugas ru’yah yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara semua sama mengaku tidak bisa melihat hilãl. Karena itulah, dalam sidang itsbãt (penetapan) yang dihadiri sejumlah ormas Islam dan perwakilan negara sahabat, Menag Maftuh Basyuni bisa leluasa mengatakan, “Saya putuskan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 13 September 2007.”

Apa yang terjadi di balik itu? Simaklah uraian tentang “peristiwa alam” berikut ini!

Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR), Muchtar Ilyas, menjelaskan di hadapan sidang itsbãt tersebut bahwa informasi yang masuk ke BHR semua menyatakan ijtima’ alias konjugasi (con-jugation), yaitu posisi sejajarnya bumi, bulan, dan matahari, terjadi pada tanggal 29 Sya’ban atau bertepatan dengan tanggal 11 September, pukul 19.45 WIB.

“Saat matahari terbenam,“ kata Muchtar Ilyas pula, “posisi bulan di seluruh wilayah Indonesia ter-letak pada ketinggian minus tiga derajat sampai satu derajat 30 menit atau masih di bawah ufuk. 45 orang petugas yang tersebar di Papua sampai Aceh, semua menyatakan tidak melihat hilãl.

Laporan yang sama juga diajukan wakil NU, KH Ghazali. “Seluruh tim kami belum ada yang melihat bulan (sabit),” katanya.

Goodwil Zubair, wakil dari Muhammadiyah, juga menyatakan hal yang sama. Tidak melihat munculnya bulan sabit.

Jadi, karena semua pihak mengaku tidak bisa melihat hilãl, maka semua ‘terpaksa’ bersepakat untuk memastikan bahwa tanggal 1 Ramadhan jatuh pada saat seperti disebutkan di atas.

NU vs Muhammadiyah

Keharusan melihat, atau tepatnya mengamati bulan, berpijak pada sejumlah hadis Muslim, yang narasumbernya antara lain Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Salah satu di antaranya, versi Abu Hurairah, berbunyi:

Bila kalian melihat hilãl, maka (mulailah) berpuasa. Dan bila (nanti, sore tanggal 29 Ramadhan) melihat hilãl, maka berbukalah (akhiri puasa). Tapi, bila (hilãl) tertutup dari (pandangan) kalian, maka berpuasalah 30 hari.

Hadis-hadis Muslim itulah yang kemudian dijadikan landasan untuk merumuskan ilmu atau teknik ru’yah, yang di Indonesia diterapkan – antara lain – oleh ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU). Untuk itu, menurut sebuah sumber dari kalangan petinggi NU, di pulau Jawa saja NU memasang 18 teropong di berbagai tempat.

Dalil lain yang juga dijadikan pegangan adalah hadis yang menegaskan tentang jumlah hari dalam sebulan:

Dari Ibnu Umar r.a., katanya Rasulullah saw bersabda mengenai Ramadhan, sambil beliau memberi isyarat dengan kedua tangannya, sabdanya, “Sebulan itu sebegini, sebegini, dan sebegini, – beliau menekuk salah satu jempolnya kali yang ketiga – . Ji-ka bulan itu tertutup dari (pandangan)-mu, maka hitunglah 30 (hari).”

Tapi, ormas Islam lainnya, seperti Muhammadiyah, lebih memilih surat Yunus ayat 5, yang mereka jadikan landasan untuk merumuskan ilmu hisãb.

Bunyi (terjemahan) ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Terjemahan Departemen Agama).

Selain itu, Muhammadiyah juga mengajukan hadis yang menyatakan:

Dari Ibnu ‘Umar r.a., katanya Rasulullah saw bersabda, “Kita umat yang ummi; tidak pandai menulis dan berhitung. Sebulan adalah sebegini, sebegini dan sebegini. – Beliau menekuk se-buah jempolnya pada kali yang ketiga – . Dan sebulan adalah se-begini, sebegini, sebegini. Yakni cukup 30 hari.

Berdasar hadis inilah Muhammadiyah berpendapat bahwa penentuan tanggal dengan teknik ru’yah adalah teknik yang ketinggalan zaman, yang dulu dilakukan bangsa Arab yang masih ummi, yaitu tidak bisa menulis dan berhitung.

Selain itu, Muhammadiyah dan kawan-kawan (antara lain Persis) berpendapat bahwa istilah ru’yah tidak harus melulu dipahami sebagai melihat dengan mata, tapi bisa juga dipahami sebagai melihat dengan ilmu. Dalam konteks kalenderisasi, yang mereka maksud ‘melihat dengan ilmu’ itu tidak lain tidak bukan adalah menggunakan teknik hisãb dengan bantuan ilmu astronomi.

Berselisih lagi?

Sungguh sayang ‘keberuntungan’ di awal Ramadhan  tidak terjadi lagi di akhir bulan suci ini, karena sejak jauh-jauh hari Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa Idul Fithri tahun ini jatuh pada hari Jum’at, tanggal 12 Oktober.

Sebuah software Kalender Hijriah dari http://www.DivineIslam.com, karya Jamal Al-Nasir, copyright tahun 2000-2002 (gambar di atas), memperlihatkan bahwa tanggal 1 Syawal tahun ini jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007, sama dengan tanggal yang diputuskan Muhammadiyah. Pembuatan kalender ini dilakukan dengan cara hisãb urfi (perhitungan rata-rata), dan Khalifah Umar konon melakukan cara ini untuk kebutuhan administrasi. Berdasar perhitungan ini, puasa tahun ini hanya berlangsung 29 hari. Tapi bila sehari sebelumnya, tanggal 11 Oktober, hilãl tidak tampak, maka puasa harus digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, Idul Fithri jatuh pada tanggal 13 Oktober.

Sementara NU, sang “mazhab ru’yah”, masih akan menunggu sang hilãl sebagai penentu.

Prinsipnya, seperti ditegaskan KH. Ghazali Masroeri, salah satu ahli ilmu falaq NU:

“Hilãl (bulan sabit) itu diciptakan oleh Allah sebagai tanda waktu bagi manusia, termasuk di dalamnya untuk menentukan waktu ibadah haji, umur manusia, kapan seseorang wajib zakat, kapan puasa, dan seterusnya. Kemudian di dalam tafsir-tafsir di-sebutkan perlunya penentuan dengan rukyat. Dalilnya tidak hanya diambli dari hadits Bukhari-Muslim saja, tetapi lebih dari 30 hadits sohih yang memerintahkan melakukan rukyat. Jadi tidak ada perintah hisab.” (Majalah Percikan Iman, No.3 Th. II Maret 2001).

Kendati sudah bertemu di gedung NU di Jalan Kramat Raya, tanggal 2 Oktober lalu, sebagai kelanjutan pertemuan di rumah wapres, kedua ormas ini tetap tidak bersedia untuk menyamakan hari-H Idul Fithri tahun ini. Seperti biasa, mereka hanya bersepakat untuk berbeda, dan umat diharapkan untuk bersikap ‘dewasa’, dan memandang bahwa perbedaan tersebut – bagaimana pun – adalah rahmat belaka!

Tapi, bila rahmat, kenapa bisa membuat orang ‘berantem’ ya? Mungkinkan Tuhan salah menurunkan rahmat? ▲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: