Dua “Sunnatullah”

Surat Ali Imran ayat 83-85

Surat Ali Imran ayat 83-85

Sunnatullah (sunnah Allah) meliputi hukum yang hanya berlaku pada alam benda, yang oleh para ilmuwan materialis disebut hukum alam.

Selain itu, ada pula sunnatullah yang hanya berlaku khusus bagi manusia, yang dalam bahasa Indonesia disebut agama.

Dalam Quran, sunnatullah itu juga disebut dinullah. Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini:

Apakah mereka hendak mencari din selain dinullah? Padahal setiap yang ada di langit dan di bumi ‘pasrah’ menurutinya baik secara suka-rela maupun terpaksa, dalam arti semua terikat olehnya.

Tegaskanlah (hai kaum mu’min) kami beriman dengan dinullah, yang pernah diajarkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, serta para pelanjut mereka, yang juga pernah diajarkan kepada Musa dan Isa serta para Nabi (lain) dari Rabb yang sama. Kami tidak melihat satu pun di antara mereka yang berbeda (din), sehingga dengan demikian kami pun menyatakan diri menjadi orang-orang yang patuh (mengikuti dinullah).

Dan (tegaskan pula bahwa) siapa pun yang terus mencari din selain Islam, maka pastilah (segala harapannya) tidak akan terpenuhi (oleh din selain Islam), sehingga pada akhirnya ia akan menjadi orang yang rugi. (Surat Ali ‘Imran: 83-85).

Sunnatullah bagi alam adalah sunnah yang dipaksakan. Sunnatullah bagi manusia (agama) adalah sunnah yang ditawarkan.

Secara fisik, manusia tidak bisa mengelak dari hukum alam. Manusia pasti mengantuk dan butuh tidur. Manusia pasti lapar dan butuh makan. Kurang tidur atau kurang makan akan merusak mekanisme fisik manusia, sehingga membuatnya jatuh sakit. Itu merupakan takdir yang tidak bisa ditawar. Manusia tidak bisa mengelak dari kebutuhan tidur dan makan.

Dalam hal tidur, manusia juga tidak bisa tidur menggelantung di ranting pohon seperti kelelawar, dan tidak bisa tinggal di dalam air seperti ikan. Manusia tidak bisa menahan nafas terlalu lama, dan tidak bisa menghentikan detak jantungnya sendiri meskipun ia seorang raja yang mahakuasa. Bahkan jantungnya tak pernah berhenti bekerja meskipun ia sedang tidur.

Rasa mengantuk, rasa lapar, jantung, ginjal, paru-paru, dan segala perangkat fisik manusia, semua hanya kenal satu komandan: Allah!

Tapi secara ruhani manusia bisa mengelak dari hukum Allah. Manusia bisa menolak agama yang diajarkan Allah, karena agama itu hanya ditawarkan, tidak dipaksakan. Manusia diberi kebebasan untuk beriman atau kafir.

Tapi ingat! Sunnatullah, baik berupa hukum alam maupun agama, keduanya mempunyai sifat eksak,[1]mempunyai rumusan-rumusan yang pasti. Mempunyai rumusan sebab dan akibat. Karena itulah dalam hal ini pada hakikatnya manusia hanya bebas memilih tapi tidak bisa lepas dari segala risiko akibat pilihannya. You are free to take actions but you are not free to choose the consequences. (Anda bebas untuk melakukan tindakan apa pun, tapi tidak bebas untuk memilih akibat-akibatnya).

Surat Al-Kahfi ayat 29-31 menegaskan bahwa kebenaran itu berasal dari Allah, tapi kepada yang mau beriman dipersilakan beriman, dan kepada yang mau kafir dipersilakan kafir.

Namun bagi yang beriman imbalannya jannah, sedangkan bagi yang kafir imbalannya neraka. Ini adalah janji Allah. Dan janji Allah adalah hukum.

Sesuatu yang pasti diberlakukan olehNya.

Secara (rumus) ilmu pasti.


[1] Dari bahasa Inggris, exact: pasti; benar seutuhnya, sampai pada bagian terkecilnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: