Pengertian Istilah “Sunnah”

Surat Yasin ayat 38-40.

Surat Yasin ayat 38-40.

Makna harfiah

Kamus Lisanul-‘Arab mengatakan bahwa makna asal dari sunnah berkaitan dengan sifat air, yaitu mengalir. Menurut kamus Al-Munjid, sunnah berarti sirah atau thariqah, yang untuk mudahnya kita terjemahkan saja menjadi jalan. Selain itu, sunnah juga berarti thabi’ah (tabiat, sifat, bakat), atau syari’ah (lubang air, jalan air; hukum).

Jadi, sunnah adalah sesuatu yang ‘mengalir’, dan mengalir ini dengan kata lain adalah ‘berjalan’. Dengan demikian, sunnah adalah sesuatu yang hidup, bukan sesuatu yang mati. Atau dengan kata lain lagi, sunnah adalah sesuatu yang berfungsi, bukan sesuatu yang tidak berfungsi.

Bila diumpamakan sebagai air, ia adalah air yang terus mengalir, bukan air yang tergenang di suatu tempat. Bila diumpamakan sebagi jalan, ia adalah jalan yang selalu ramai dilalui, bukan jalan yang diabaikan. Bila dikaitkan dengan tabiat atau sifat, ia adalah tabiat atau sifat yang tetap, yang tidak pernah mengalami perubahan. Bila diumpamakan lubang air, ia adalah lubang yang tak pernah tersumbat. Bila diumpamakan jalan air (sungai, selokan dan sebagainya), ia adalah jalan air yang tidak pernah mengalami kekeringan. Bila diartikah hukum, ia adalah hukum yang terus-menerus berlaku.

Siapakah yang mampu membuat sesuatu yang terus mengalir dan berjalan tanpa henti? Siapakah yang mampu menjaga kelangsungan hidup segala sesuatu? Siapakah yang mampu membuat sesuatu yang terus-menerus berperan dan berfungsi? Siapakah yang mampu membuat jalan yang selalu ramai? Siapakah yang mampu menciptakan sesuatu yang mempunyai sifat yang tetap, yang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman? Siapakah yang mampu membuat sungai yang tak pernah kering atau tersumbat? Siapakah yang mampu membuat hukum atau peraturan yang terus berlaku dan berlaku dari masa ke masa, pada segala bentuk alam? Hanya ada satu jawaban untuk semua pertanyaan itu: Allah! Sang Pencipta Alam.

Allah yang menciptakan semesta alam; Allah  yang menetapkan sifat-sifatnya; Allah yang menatanya, dan Allah pula yang menciptakan mekanismenya,[1] sehingga semesta alam itu bekerja seperti sebuah mesin yang tak pernah mogok. Dalam surat Yassin ayat 38-40 Allah memberikan gambaran demikian:

38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.

40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Terjemahan Dep-Ag).

Segala anggota alam semesta tidak ‘beredar’ sembarangan, tapi mengikuti suatu sunnah, yang dalam ayat di atas disebut sebagai taqdir. Matahari berputar pada porosnya. Bulan berkeliling sesuai orbitnya. Begitu juga kehidupan manusia. Setiap bidang kehidupan mempunyai tata cara (prosedur) tersendiri, sehingga satu sama lain seharusnya tidak saling bertabrakan, bahkan sebaliknya harus saling memenuhi kebutuhan, saling mengisi, saling mendukung, saling bekerja-sama untuk menghadirkan keseimbangan.

Pada hakikatnya kehidupan manusia pun mengalir seperti air, baik secara deras maupun perlahan, mulai dari hulu sampai ke hilir. Untuk dapat hidup menusia juga membutuhkan jalan, baik dalam arti harfiah maupun dalam pengertian yang luas. Dalam arti harfiah, jalan itu mungkin berupa jalan setapak di kampung, atau jalan mobil, atau rel kereta api. Dalam pengertian luas, jalan itu adalah segala sarana, alat, wadah, dan lain-lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk dapat hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan makan, manusia bisa mendapatkan makanan dengan sunnah (cara) bertani, berdagang, menjadi pegawai, guru, dokter, insinyur, tukang cukur, dan lain-lain. Agar dapat bertani dengan baik, manusia membutuhkan sunnah (ilmu) pertanian. Begitu juga bila ia ingin menjadi pegawai, guru, dokter, dan setrusnya. Dengan kata lain, segala bidang pekerjaan yang dipilih harus ditempuh melalui jalan yang benar. Seorang petani tidak boleh ditempatkan di kantor, seorang guru jangan dipaksa menjadi petani, seorang dokter jangan disuruh membangun jembatan, seorang pedagang tak akan sanggup menjadi guru. Pendeknya, setiap bidang pekerjaan mempunyai sunnah (prosedur) tersendiri, yang satu sama lain tidak bisa saling menggantikan. Bila yang satu dipaksa menggantikan yang lain, hilanglah kepastian, dan terjadilah kekacauan.

Itulah sunnah atau taqdir Allah.


[1] Mechanisme: sistem operasi, cara kerja yang saling membantu seperti sebuah mesin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: