Mana Lebih Dulu: Khusyu’ Atau Shalat?

Bila orang sering ribut bagaimana shalat yang khusyu’ atau bagaimana supaya bisa khusyu’ dalam shalat, Al-Qurãn malah menegaskan bahwa khusyu’ harus  lebih dulu ada sebelum melakukan shalat, karena shalat itu adalah sesuatu yang berat!

Perhatikan ayat berikut ini:

Surat Al-Baqarah ayat 45-46.

Surat Al-Baqarah ayat 45-46.

Terjemahan Departeman Agama:

45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Cara Allah menolong

Manusia selalu ingin mendapat pertolongan Allah. Tapi bagaimana cara Allah menolong?

Ayat di atas menegaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan supaya mendapat pertolongan Allah adalah sang peminta tolong harus sabar dan shalat.

Sabar (shabr) di sini, bila meminjam istilah Jawa, adalah  nrimo ing pandhum, alias menerima ketentuan atau ‘aturan main’ Allah. Dengan demikian, yang dimaksud dengan sabar di sini adalah suasana kejiwaan yang terbuka pada aturan main Allah. Dan, ingatlah pula bahwa yang dimaksud aturan main Allah itu bukanlah sesuatu yang abstrak atau hanya menjadi rahasia Allah. Aturan main yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang sudah diajarkan, yakni Al-Qurãn.

Tapi sabar, selain berarti nrimo (menerima) juga berarti mempertahankan “sesuatu” yang sudah diterima itu. Bila “sesuatu”-nya adalah Al-Qurãn, maka sabar berarti “menerima dan mempertahankan Al-Qurãn”.

Berikutnya, shalat, dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah Hadis bahwa shalat adalah du’ã (doa), yang sinonimnya dalam bahasa Indonesia adalah permohonan; harapan; cita-cita; obesesi dan sebagainya.

Shalat yang dimaksud Rasulullah itu adalah hakikat shalat, bukan (hanya) shalat ritual. Tapi bila mengacu pada surat Al-Isra 78, misalnya, shalat ritual itu sendiri pada hakikatnya adalah “pembacaan Al-Quran”; tepatnya pembacaan Al-Quran pada waktu-waktu tertentu dalam kerangka upacara (ritus). Sedangkan dalam konteks ibadah secara luas, “pembacaan Al-Quran” adalah seperti yang saya tulis pada posting berjudul Filsafat Pendidikan Islam (Sebuah Tantangan).

Bila dalam ayat di atas sabar dan shalat disebut secara berurutan, sebagai syarat untuk meminta pertolongan Allah, maka di situ terdapat isyarat bahwa pertolongan Allah itu  sebenarnya adalah bagian yang intrinsic (terkandung secara alami) di dalam sabar dan shalat itu sendiri! Tegasnya, pertolongan Allah itu baru bisa muncul bila Al-Quran sudah menjadi nilai internal dari pelaku sabar dan shalat itu.

Jelasnya, ketika kita bersabar, dalam arti menerima dan mempertahankan Al-Qurãn dalam diri kita, dan selanjutnya Al-Qurãn itu kita jadikan sebagai doa, dalam arti tumpuan harapan atau cita-cita (apalagi bila menjadi obsesi!), maka pertolongan Allah bakal muncul seiring munculnya nilai-nilai Al-Qurãn itu sendiri.

Tapi, seperti dikatakan dalam ayat di atas, sabar dan shalat demikian itu memang berat, kecuali bagi yang khusyu’.

Pengertian khusyu’

Harfiah, khusyu’ berarti sikap penyerahan dan atau perendahan diri (lihat kamus Hans Wehr, misalnya). Dengan kata lain khusyu’ pada hakikatnya adalah sikap seorang hamba terhadap tuannya.

Tapi, pada ayat di atas, Allah menggambarkan orang-orang khusyu’ sebagai “orang-orang yang memiliki zhann” (asumsi; pemikiran), yang oleh Dep-Ag diartikan “meyakini”, bahwa mereka akan menemui Tuhan dan akan kembali kepadaNya.

Dalam beberapa ayat Al-Qurãn ada celaan bagi orang-orang yang cenderung mengikuti zhann. Tapi yang dimaksud dalam ayat ini adalah zhann positif alias husnu-zhann, khususnya terhadap Al-Qurãn. Karena itu penulis cenderung memahaminya sebagai optimisme (sikap penuh harapan baik), khususnya terhadap Al-Quran.

Optimisme terhadap Al-Qurãn harus terbentuk sebelum shalat (ritual) didirikan. Sebab, tujuan shalat adalah ibarat memasukkan Al-Qurãn sebagai makanan yang mengandung enerji kimiawi ke dalam otak, yang lalu — melalui proses ‘pembakaran’ di dalam otak — kelak berubah menjadi enerji mekanik, yang menghidupkan mesin, yakni tubuh, untuk bergerak (beramal) sesuai Al-Qurãn.

Optimisme itu, tidak bisa tidak, harus dibentuk melalui proses studi Al-Qurãn yang tak kenal jemu dan lelah.

Bila optimisme sudah terbangun, bacaan demi bacaan dipahami, fungsi dan tujuan shalat juga diketahui dengan pasti, maka shalat yang berat itu akan menjadi nikmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: