Tadarus

Tadarus, alias belajar bersama (foto: islamomline.net).

Tadarus, alias belajar bersama (foto: islamomline.net).

Marhaban Ya Ramadhan (3)

Dalam Hadis yang anda sebutkan ada keterangan bahwa malaikat Jibril datang untuk menemani Rasulullah mempelajari Al-Qurãn?

Ya! Tadi saya sebutkan bahwa dalam hadis itu ada kata yudãrisu. Kata yudãrisu adalah kata kerja berpola fã’ala yufã’ilu (فاعل- يفاعل) yang merupakan pola ke 3 dalam teori ilmu sharaf (morfologi). Pola ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari pola ke 1 yang berkenaan dengan kata kerja darasa-yadrusu, yaitu fa’ala-yaf’ulu (فعل-يفعُل). Pengembangan ini tentu berpengaruh pada makna. Bila darasa berarti mempelajari sesuatu seorang diri, maka dãrasa (dengan bacaan panjang pada huruf dal yang ditambah alif – دارس) berarti mempelajari (sesuatu) bersama orang lain.[1]

Itukah yang menjadi landasan hukum bagi kegiatan tadarus?”

Saya kira, iya.

Tapi, kegiatan tadarus yang saya saksikan itu, kok tidak menarik ya?

Kenapa?

Karena, sejak kecil saya melihat, dan mengalami juga, bahwa tadarus itu hanyalah kegiatan membaca Al-Qurãn secara beramai-ramai di masjid atau mushalla, yang menurut saya kurang bermanfaat.

Kenapa?

Karena kegiatan membacanya itu tampaknya tidak ditujukan untuk memahami apa yang dibaca, tapi cuma sebatas membunyikan. Membunyikan secara beramai-ramai, sehingga suara mereka terdengar seperti suara sekumpulan tawon (lebah). Hal ini juga kadang membuat saya heran.

Kenapa?

Karena semua orang berusaha membunyikan apa yang mereka baca. Tampaknya semua orang ingin didengar, dan tak ada seorang pun yang mau menjadi pendengar!

Ha-ha! Memang begitulah kenyataannya. Ketika bertadarus itu, mereka tak ingin jadi pendengar. Mereka cuma ingin didengar; tepatnya didengar oleh malaikat. Supaya mereka dicatat sebagai pelaku kebaikan; dan karena itu mereka akan mendapat pahala.

Ya, ya! Begitu juga memang yang saya dengar.

Itulah kepercayaan mereka.

Tapi, apakah kepercayaan mereka itu benar?

Benar tidaknya sebuah kepercayaan tentu sangat tergantung pada landasan ilmiah kepercayaan itu sendiri.

Jelasnya?

Tadarus, misalnya, jelas merupakan istilah untuk menyebut kegiatan mempelajari Al-Qurãn di bulan Ramadhan. Yang namanya “mempelajari” tujuannya – pada tahap awal – tentu untuk memahami, atau memperdalam dan memperluas pemahamaman. Bila ada kegiatan yang disebut mempelajari tapi tidak menghasilkan pemahaman, maka pastilah di situ ada sesuatu yang salah. Tegasnya, kegiatan tadarus itu telah dilakukan secara salah kaprah.


[1] Lihat antara lain buku Belajar Mudah Bahasa Al-Quran, bab 16, karya Dr. Abdullah Abbas nadwi, terbitan Mizan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: