‘Filsafat’ Pendidikan Islam (Sebuah Tantangan)

Al-Quran terbuka sebagai tantangan bagi para intelektual sejati. (Gambar dari reporter.mgill.ca).

Al-Quran terbuka sebagai tantangan bagi para intelektual sejati. (Gambar dari reporter.mgill.ca).

Tersirat dalam sebuah Hadis bahwa pendidikan adalah ta’dîb.

Pember-adab­-an.

Mendidik adalah ‘merekayasa’ anak agar menjadi manusia beradab.

Tentu beradab menurut Allah.

Maka, dengan demikian, konsep peradabannya itu sendiri pun adalah konsep Allah.

Al-Qurãn!

Dengan kata lain, mendidik anak adalah meng-Qurãnkan anak. Merekayasa si anak agar bisa berpandangan dan bersikap Qurãni.

Utopis?

Aneh?

Seram?

Sama sekali tidak.

Kenyataannya, Islam memang berpangkal pada Al-Qurãn.

Al-Qurãn turun dimulai dengan kata perintah, iqra!

Bacalah.

Kajilah.

Bacakanlah!

Ajak dan suruh membacalah.

Himpunlah orang-orang untuk membaca.

Bentukah masyarakat yang suka membaca, membacakan, serta mengajak dan menyuruh membaca.

Apa yang dibaca dan dibacakan?

Bukan lingkungan, situasi, kondisi, atau apa pun. Tanpa wahyu, baca dengan apa? Baca dengan ketidaktahuan dan kebingungan?

Tidak!

Pada saat wahyu pertama kali diajarkan, yang harus dibaca dan kemudian dibacakan adalah wahyu (Al-Qurãn) itu sendiri.

Bila wahyu sudah dibaca dan dibacakan, maka semua orang bisa diajak, disuruh, dan dikondisikan, supaya membaca apa pun dengan wahyu. Menjadikan wahyu sebagai ‘kacamata’, sebagai sarana dan panduan untuk membaca apa pun, termasuk situasi dan kondisi lingkungan, dan juga diri sendiri.

Setelah dibaca, jadikan Al-Qurãn sebagai lampu senter, kaca pembesar, mikroskop, teleskop, dan juga cermin.

Jadi, sekali lagi: tahap awal, baca Al-Qurãn!

Tahap berikutnya, jadikan Al-Qurãn sebagai darah dan daging.

Jadilah saya, anda, kita – seperti halnya Rasulullah – sebagai Al-Qurãn berjalan.

Ini sulit.

Sangat sulit.

Karena itulah dibutuhkan proses pendidikan, yang makan waktu cukup lama.

Tapi, mengapa harus demikian?

Mengapa Al-Qurãn harus menjadi tumpuan, fondasi, dan segalanya?

Karena, kata Rasulullah dalam Hadis riwayat At-Tirmidzi, keunggulan Al-Qurãn dibandingkan dengan seluruh kitab karangan manusia, adalah sama dengan keunggulan Allah atas semua makhlukNya!

Dalil (Hadis) itu sungguh dahsyat.

Tapi, siapa yang percaya?

Asas keteladanan

Allah ‘menguji-cobakan’ keunggulan konsepNya, Al-Qurãn, kepada Rasulullah saw. Dan ternyata, menjelmalah dia – Sang Rasul – menjadi sebuah pribadi berakhlak mulia, seperti ditegaskan Allah dalam surat Al-Qalam ayat 4, dan diakui beliau sendiri melalui sabdanya dalam sebuah Hadis, bahwa beliau dididik oleh Allah, sehingga hasil pendidikan itu demikian indahnya. (Addabany Rabby fa-ahsana ta’dîby).

Dan, hasil pendidikan itu diperintahkan olehNya untuk ‘ditularkan’ kepada umat beliau, seperti tersirat lewat sabda beliau yang terkenal, “Sesungguhnya aku diutus untuk mengunggulkan akhlak mulia.” (Innama buitstu li-utamima makarimal-akhlãq).

Keunggulan akhlak Rasulullah bersama umatnya, telah tercatat dalam sejarah.

Dan dari rekaman sejarah itulah, kita bisa menggaris-bawahi sebuah asas (prinsip) dalam konsep pendidikan yang diajarkan Allah, yaitu asas keteladanan.

Begitu darurat-(urgent)-nya asas ini, sehingga Allah menegaskan dalam surat An-Nisa ayat 80: Siapa yang (menempuh proses) mengikuti Rasulullah, Maka jelaslah bahwa ia telah mematuhi (prosedur kepatuhan menurut) Allah.

Jadi, Allah mengajarkan Al-Qurãn sebagai bahan (materi) pendidikan, dan asas keteladanan sebagai prosedur agar pendidikan itu mencapai tujuan yang dikehendaki.

Tapi, mengapa harus ada asas keteladanan, dan Sang Rasul itu sendiri yang harus diteladani?

Itulah bedanya konsep Allah dengan konsep manusia.

Para filsuf, misalnya, yang dipuja-puja karena ide-ide mereka yang dianggap menjadi penerang dunia, sesungguhnya tidak pernah dicatat sebagai perwujudan (represntative) dari ide mereka sendiri. Apalagi bila dikaitkan dengan peradaban, bentuk kemasyarakatan, sistem politik yang unggul, dan sebagainya. Mereka tidak tercatat sebagai para pembangun bentuk peradaban, tatanan kemasyarakatan, atau sistem politik apa pun, yang unggul. Bahkan Plato, misalnya, yang pernah mengangankan sebuah negara yang dipimpin filsuf, tak pernah tercatat menjadi kepala negara!

Bahkan Hegel, melalui dialektikanya hanya mengajak manusia masuk ke dalam lingkaran setan; menghasut agar ‘tesis’ (konsep) Allah dihadapkan dengan anti-tesisnya, supaya bisa lahir sebuah sintesis.

Anda pasti tahu bahwa anti-tesis dari konsep Allah adalah konsep musuhNya, Iblis. Dan sintesis dari keduanya adalah gado-gado, yang tidak lain merupakan perwujudan dari selera manusia!

Lebih lanjut, Hegel juga mengajarkan bahwa sebuah sintesis pada gilirannya pasti tampil menjadi tesis baru, lengkap dengan anti-tesis dan sintesisnya, yang segera menjelma menjadi tesis baru lagi! Sebuah dalil yang begitu jitu menggambarkan sifat manusia yang banyak keinginan, dan tak pernah merasa puas mengikuti gelora nafsu dan khayalan.

Justru untuk mengatasi keadaan itulah Allah mengutus para rasulNya.

Allah ingin agar manusia bebas dari idealisme dan dialektika filsuf, dan berpaling pada (filsafat) ‘realisme’ rasul.

Realisme itu berpangkal pada dalil bahwa Allah itu ada.

Bukti terkuat dari ada-Nya itu adalah Dia mengirim wahyu kepada rasulNya.

Dan wahyu itu, Al-Qurãn, setelah tiadanya Sang Rasul, kini tampil sebagai satu-satunya wakil Allah, yang boleh, bisa, dan harus diuji kebenarannya.

Itulah tantangan terbesar umat manusia sekarang, bila sadar bahwa mereka hidup di abad pengetahuan.

Di abad segala sesuatu harus dikukuhkan secara obyektif-ilmiah.

Al-Qurãn menantang kita.

Untuk membenarkannya.

Atau mendustakannya.

Secara obyektif-ilmiah.

18-8-2009.

Comments
4 Responses to “‘Filsafat’ Pendidikan Islam (Sebuah Tantangan)”
  1. tulisan yang menarik, kritis dan membangun t…… rim’s

  2. Ahmad Haes says:

    Terimakasih untuk kunjungan dan komentar Anda. Saya juga sudah mengunjungi website Anda. Sukses dan berkah selalu!

  3. rika says:

    jazakallahu atas artikelnya ya pak..

  4. Ahmad Haes says:

    Amiin! Tapi saya masih akan menulis lagi tentang konsep pendidikan Islam. Dan, dalam hal itu, saya harus berterimakasih untuk provokasi kamu, he he!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: