Diskusi Di Kerajaan Iblis

simbol setan? (witcheshaven.com)

simbol setan? (witcheshaven.com)

Di sebuah tempat nun jauh dari jangkauan pengetahuan manusia, Raja  Iblis  memimpin sebuah sidang istimewa yang dihadiri tiga delegasi Setan, yaitu  delegasi Setan Besar, Setan Kedua, dan Setan Ketiga.

Iblis sendiri tampil mewakili sebuah kelompok elit dari makhluk terkutuk.  Mereka adalah mahkluk yang bekerja dengan otak, dengan tujuan utama membuat semua  manusia menjadi pelayan dan budak mereka. “Kita adalah makhluk Allah yang  paling cerdas, dan karena itulah kita layak menjadi penguasa bumi. Otak kita  bukan hanya mampu menampung segala ilmu tapi juga tahu betul bagaimana cara  mengefektifkan ilmu-ilmu kita untuk kepentingan kita. Selain itu, kita juga  memiliki fisik yang sempurna, yang menjamin agar kita jadi makhluk yang trampil.  Jadi, kita mengutamakan peran otak bukan berarti kita tidak tangkas bekerja.  Kita hanya ingin menggunakan ketrampilan fisik kita untuk bersenang-senang.  Untuk menikmati hidup kita yang sangat panjang. Coba pikir, siapa yang harus  menikmati hidup ini bila kita juga harus sibuk bekerja seperti para budak  kita?”

Raja setan? (visionaryrevue.com)

Raja setan? (visionaryrevue.com)

Itulah doktrin yang ditanamkan Raja Iblis kepada bangsanya. Sementara  kepada bangsa setan ia menegaskan bahwa mereka harus bekerja dengan otak dan  fisik untuk melakukan tugas-tugas eksekutif yang dirancang para iblis.

Hari itu Raja Iblis sengaja memanggil para setan untuk membicarakan  nasib sebuah bangsa manusia yang mendiami sebuah anak benua timur. Sambil  menunjuk sebuah titik pada peta dunia, Raja Iblis berkata, “Aku lihat wilayah  ini sudah siap untuk dikendalikan secara budaya dan ekonomi, betul? Jadi sudah  saatnya kita biarkan monyet-monyet pribumi itu menyatakan kemerdekaan semu  mereka.”

Semua hadirin tertawa.

“Kamu sudah melakukan tindakan-tindakan yang jitu tentunya, Setan  Kedua?” tanya Raja Iblis, dan kini semua mata tertuju pada Setan Kedua.

“Divide et impera! Pecah belah, lalu jajah! Kita sudah menguasai  wilayah itu selama berabad-abad. Kekayaan alammnya sudah kita alirkan ke rumah-rumah kita, budayanya sudah kita hancurkan dan kita ganti dengan  budaya kita. Mentalnya sudah kita bentuk sedemikian rupa, sehingga mereka  tidak mampu melepaskan diri dari ketergantungan terhadap kita. Jadi,  sekarang memang sudah waktunya untuk mengendalikan wilayah itu dengan  remote control!” kata Setan Kedua dengan penuh semangat.

“Jangan bangga dulu!” serga Raja Iblis dengan nada marah. “Gambarkan  secara gamblang bagaimana caranya supaya mereka tidak lepas dari kendali  kita!”

“Segera setelah kami hengkang dari sana, wilayah itu akan menjelma  jadi dua negara yang saling bermusuhan, bahkan siap untuk saling menghancurkan.  Tapi kita tentu akan melakukan berbagai cara supaya mereka tetap berbaku hantam  dengan seru tapi tidak sampai menjadi hancur. Rugi juga kita bila mereka hancur,”  kata Setan Kedua.

“Apa yang akan membecah belah mereka?” Setan Besar dan Setan Ketiga    bertanya secara berbarengan.

“Apa lagi? Nasionalisme dan sukuisme versus agama tentunya!” kata Setan   Kedua sambil angkat bahu dan merentangkan kedua tangan. “Wilayah itu segera terpecah menjadi negara kebangsaan dan negara agama.”

“Tunggu dulu!” sergah Setan Ketiga. “Aku agak keberatan dengan siasatmu.

Kita tahu bahwa agama yang kamu maksud adalah agama Islam; satu-satunya   agama yang telah dan akan menjadi musuh terkuat kita. Jadi, menurutku, jangan biarkan sebuah negara Islam tumbuh di sana!”

Ruangan tempat pertemuan menjadi gemuruh dengan tawa menyambut perkataan  Setan Ketiga yang bernada agak bodoh itu.

“Agama Islam memang telah dan akan menjadi musuh terkuat kita, selagi   dia efektif. Tapi bukankah selama ini kita telah berhasil mengubahnya menjadi   hanya sejenis candu yang sama seperti agama-agama lain?” kata Setan Kedua   sambil menatap Setan Ketiga dengan mimik muka yang jenaka sehingga mengundang  lagi tawa yang ramai.

Setan Ketiga, setan termuda dari para pemimpin delegasi-delegasi setan,  nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. “Bukan apa-apa,” katanya kemudian.   “Soalnya kami, di negeri kami, justru sedang pusing mengatasi pertumbuhan agama Islam. Setiap tahun jumlah mereka bertambah. Masjid-masjid dan   sekolah-sekolah mereka bertambah. Walaupun sudah ada beberapa masjid dan   sekolah yang dibakar, mereka tampaknya tidak juga gentar.”

“Bodoh!” bentak Raja Iblis. “Jangan biarkan rakyatmu membikin kondisi   yang menyebabkan orang-orang Islam menjadi martir. Tugas kalian adalah   menghinakan mereka dalam pandangan dunia, bukan memuliakan mereka.”

Setan Ketiga terdiam. Ruang sidang pun sunyi sesaat. Wajah Raja Iblis   kemudian miring ke arah Setan Kedua, memintanya dengan bahasa isyarat untuk   melanjutkan penjelasan tentang rencananya yang tadi terpotong oleh pertanyaan   Setan Ketiga.

“Baiklah, saya akan lanjutkan penjelasan saya,” kata Setan Kedua, dan kini   ia menunjuk titik di peta yang tadi ditunjuk Raja Iblis. “Jadi, wilayah ini akan   segera kami tinggalkan, karena segala hal yang menguntungkan kita sudah bertumbuhan di sana. Bila saudara muda kita tadi mengungkapkan kebingungannya dengan pertumbuhan agama Islam di negaranya, maka kita perlu ingatkan kepadanya bahwa Islam itu sebenarnya bukan nama sebuah agama, tapi nama sekumpulan paham atau isme.  Tegasnya, di dalam apa yang disebut sebagai agama Islam itu sebenarnya terhimpun   banyak isme. Saudara tahu dari mana isme-isme yang tumbuh di sana? Dari kita!”   kata Setan Kedua sambil tersenyum kepada Setan Ketiga, dan lagi-lagi kata-kata   dan tindakannya itu membuat seluruh hadirin tertawa berderai, kecuali Setan Ketiga   yang lagi-lagi dibuat nyengir kuda, mengisyaratkan sedikit rasa malu.

“Jadi, bila nanti tumbuh negara Islam di sini,” Setan Kedua menunjuk lagi   titik pada peta dunia, “sejak awal mereka sudah direpotkan dengan isme-isme yang   ada pada mereka itu, yang tentunya mendorong mereka untuk sama-sama ingin tampil  sebagai pemimpin.”

“Tapi isme yang akan memimpin mereka adalah demokrasi!” potong Setan Besar.

“Anda benar!” sahut Setan Kedua. “Sebagai pengemban amanat kita untuk   menampilkan sosok demokrasi, anda telah berhasil. Dan kita tahu bahwa orang-orang   Islam yang bodoh itu pun telah menjadi minder karena suskses anda menampilkan demokrasi yang sedemikian rupa itu, sehingga mereka berapoligi bahwa demokrasi sebenarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Islam.”

Sekali lagi para hadirin dalam pertemuan itu meledakkan udara dalam ruangan  dengan tawa mereka.

“Dengan demokrasi, mereka tidak akan pernah bisa sukses. Sebab   demokrasi tidak menjamin mereka untuk mendapatkan pemimpin yang baik. Bahkan sebaliknya,   demokrasi memaksa mereka untuk menerima pemimpin terpilih… yang paling jelek   sekalipun!” kata Setan Kedua pula.

Mereka tertawa dan tertawa lagi.

“Cukup!” teriak Raja Iblis akhirnya. “Pertemuan kita sudah selesai. Dan selanjutnya  kalian semua pasti sudah tahu apa yang harus kalian lakukan untuk membantu Setan Kedua   melaksanakan rencananya.”

Comments
One Response to “Diskusi Di Kerajaan Iblis”
  1. Ahmad Haes says:

    Demokrasi, juga paham-paham ke-Islam-an, dan berbagai isme lain, bukanlah sesuatu yang sakral, sehingga harus kebal dari kritik dan koreksi. Kita harus menguji dengan jujur dan cermat segala pilihan supaya bisa menemukan pilihan terbaik bagi bangsa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: