Supra Struktur, Politisi Dan Moral

"Politisi jangan hanya berjanji!" (foto: detik.com)

"Politisi jangan hanya berjanji!" (foto: detik.com)

Istilah supra struktur tidak sepopuler lawan atau pasangannya, infra struktur. Padahal, infra struktur terwujud sebagai hasil kerja supra struktur. Sebaliknya, supra struktur pun  bukanlah sesuatu yang muncul sendiri. Ia muncul sebagai ‘produk’ sebuah ide (gagasan).

Infra struktur dengan kata lain adalah sarana fisik (lahiriah) yang disediakan manusia untuk menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat; dalam rangka menunjang kegiatan politik, ekonomi, sosial, dan segala kebutuhan hidup lain. Bentuknya antara lain gedung-gedung pemerintahan, pasar, hotel, jalan, jembatan, lapangan, dan seterusnya, yang semuanya diadakan oleh manusia seiring dengan munculnya kebutuhan akan sarana fisik. Sesuai dengan kelasnya, infra struktur secara keseluruhan kemudian disebut manusia dengan nama kota atau desa.

Suprastruktur.

Suprastruktur.

Di lain pihak, supra struktur adalah pembuat dan pemakai infra struktur, yaitu manusia. Segala macam infra struktur dibuat manusia secara beramai-ramai (gotong royong). Secara umum (global), dalam sebuah kota, segala sarana dibangun mengikuti rencana tata kota. Bila hanya sebuah gedung, bentuknya secara khusus dirancang oleh seorang arsitek, tapi dengan tetap memperhatikan rencana tata kota. Sebuah rumah tidak mungkin dibangun di atas tanah yang disediakan untuk lahan taman atau jalan, dan begitu pula sebaliknya. Tegasnya, pembangunan infra struktur adalah cerminan dari adanya supra struktur. Dan bukan hanya itu! Infra struktur yang tersedia lengkap, tertata rapi, dan terselenggara dengan baik, tentu juga menampakkan citra (gambaran) tentang sebuah supra struktur yang baik.

Dalam pengertian harfiah, infra struktur berarti bangunan bawah, dan supra struktur berarti bangunan atas. Dengan kata lain, infra struktur adalah bangunan sekunder (nomor dua), dan supra struktur adalah bangunan primer (nomor satu). Seperti tergambar di atas, penomoran itu bukan hanya menyatakan urutan, tapi juga menegaskan hubungan sebab-akibat; yaitu yang pertama (primer) menyebabkan adanya yang kedua (sekunder), baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena itulah, dalam konteks pembenahan, janganlah berpikir untuk membenahi yang kedua (infra struktur) bila yang pertama (supra struktur) belum dibenahi.

Politisi

Manusia sebagai makhluk sosial, secara sadar (sengaja) atau tidak, pasti membentuk supra struktur, karena hal itu merupakan prasyarat untuk menegakkan sebuah kehidupan bermasyarakat. Dalam istilah yang populer, supra struktur itu adalah pemerintah. Istilah lainnya adalah organisasi. (Pemerintah, bersama warga negara secara keseluruhan, pada hakikatnya adalah manusia-manusia yang tergabung dalam organisasi bernama negara).

Pemerintah adalah manusia-manusia yang menjalankan suatu sistem pemerintahan atau sistem politik. Dengan kata lain, pemerintah itu adalah (para) politisi. Tapi, dalam pemerintahan yang menggunakan sistem trias poltica yang menjadi politisi bukan hanya pemerintah (eksekutif) namun juga orang-orang MPR/DPR (legislatif), dan para aparat pengadilan (yudikatif), walau yang belakangan ini sering dianggap bukan politisi.

Bisa kita lihat dan bayangkan betapa krusialnya peran politisi dalam supra struktur besar pemerintahan. Mereka bukan hanya bertanggung-jawab dalam menjalankan pemerintahan, tapi yang terpenting adalah bagaimana proses pemerintahan yang mereka jalankan itu bisa menghasilkan keadilan, kemakmuran, dan keamanan bagi seluruh warga. Dalam hal ini, sistem pemerintahan sangat menentukan. Tapi para pelaku atau penggerak sistem itu sendiri (politisi) juga tak kalah menentukan dari sistemnya. Bila sistem ibarat kendaraan; kendaraan yang bagus tentu merupakan sarana yang baik bagi pengemudi dan penumpangnya. Sebaliknya, pengemudi yang baik, akan mengerahkan segala ketrampilannya untuk mengatasi kekurangan pada kendaraan yang kurang bagus.

Ibarat pabrik, sistem hanya sarana. Produsennya adalah manusia. Begitulah juga sistem pemerintahan. Ia tidak akan menghasilkan keadilan, kemakmuran, dan keamanan, bila para politisinya (bermoral) busuk.

Sayangnya, di mata para politisi secara umum, aspek moral selalu dianggap kurang penting. Bagi mereka, bila sistem pemerintahan ibarat mesin, maka yang dibutuhkan untuk menggerakkan mesin itu adalah manusia-manusia trampil, bukan manusia bermoral.

Dengan kata lain, para politisi itu pada dasarnya – memang! – adalah manusia-manusia pragmatis. Manusia-manusia yang mengutamakan kebutuhan-kebutuhan mendesak, sesaat, dan – tentu saja – duniawi melulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: