Khidmatnya Membaca Al-Qurãn

Bila orang mengatakan bahwa membaca Al-Qurãn harus dilakukan dengan khidmat, kaitannya adalah dengan anggapan bahwa memba­ca Al-Qurãn adalah suatu kegiatan upacara.

Dalam suatu  upacara, segala tindakan dari awal sampai akhir sudah dipola sedemiki­an  rupa. Sering kali polanya demikian rumit, sehingga  tidak mungkin dilakukan semba-rang orang. Karena itulah setiap  upacara biasanya dilakukan pada masa tertentu, di tempat terten­tu,  dipimpin orang-orang tertentu. Suatu  upacara  dikatakan khidmat bila dari awal sampai akhir berlangsung tertib, tidak ada gangguan internal dalam bentuk apa pun. Sebaliknya,  bila dalam upacara itu ada yang berbisik-bisik, bercanda, dan  sebagainya, maka upacara itu tidak khidmat.

Gambaran lain tentang khidmat adalah ketika seorang hamba menghadap tuannya. Ia mengatur gerakan dan kata-katanya,  su­paya tidak melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan  tuannya marah.  Ia menyiapkan segala indranya, seluruh tubuhnya,  se­genap jiwanya, untuk menghormati, dan mematuhi tuannya. Tidak kurang  dari  itu. kalau bisa ia malah ingin  berbuat  lebih.  Pernahkah siatuasi kejiwaan seperti itu kita alami, sementara kita tidak memahami Al-Qurãn?

Khidmat adalah masdar dari kata kerja khadima, yang artinya  melayani, menyediakan diri sebagai pelayan, atau  dengan kata  lain berarti mengabdi, menyediakan diri  sebagai  abdi. Jadi khidmat artinya pelayanan, atau pengabdian. Terlepas da­ri kaitannya dengan upacara, suatu tindakan dikatakan khidmat bila sesuai dengan peraturan, atau petunjuk, atau harapan, a­tau  kebutuhan.  Anda melakukan kewajiban dan  mengambil  hak sesuai  peraturan, itu khidmat namanya.  Anda  melakukan  tindakan  sesuai petunjuk (dalam urusan apa saja),  itu  khidmat namanya. Anda memberikan sesuatu yang diharapkan dan dibutuh­kan oleh istri, suami, anak, teman, dan seterusnya, itu khid­mat  namanya. Tentu saja kita pun bisa khidmat terhadap  diri sendiri. Inti dari khidmat adalah melakukan tindakan yang wa­jar,  alami, fitri. Bila mayoritas manusia sudah mampu  hidup dengan khidmat, maka dunia ini akan menjadi sorga. Bila suatu negara dikelola oleh pemerintah yang khidmat, di dalam negara itu tak akan ada korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kita yang mengaku mukmin harus menyadari bahwa hidup  de­ngan khidmat hanya bisa terjadi bila kita menjalankan  ajaran Islam secara murni dan kensekuen. Untuk itu, yang pertama ha­rus  dilakukan adalah menerima kebenaran petunjuk Al-Qurãn.  Dan untuk  dapat menerima kebenaran petunjuk Al-Qurãn, yang  pertama harus  dilakukan adalah membaca Al-Qurãn dengan  khidmat.  Namun khidmat simbolik ritual, penghormatan dengan  lambang-lambang upacara, bukanlah syaratnya. Khidmat dalam membaca Al-Qurãn  harus dihubungkan dengan fitrah Al-Qurãn sendiri, dengan fungsinya sebagai pedoman hidup. Ia harus dibaca untuk dipahami, supaya bisa  dijadikan pedoman hidup, supaya si mukmin bisa  memper­baiki kehidupannya, menyumbangkan peran bagi perbaikan  kehi­dupan dunia, bagi tata dunia, supaya dari setiap hembusan na­fasnya berhembus kedamaian.

Comments
3 Responses to “Khidmatnya Membaca Al-Qurãn”
  1. reza says:

    suatu hari seseorang pergi kedokter untuk menanyakan penyakitnya:

    pasien: dok saya punya keluhan nih..yaitu susah tidur.
    dokter: hm..coba anda mengaji atau dengar org yg sedang mengaji
    pasien: lho??
    dokter: iya..saya sering ngantuk kalo mengaji atau mendengar org mengaji

    dokter & pasien: wakakakakakkaka

  2. Ahmad Haes says:

    Wuaka ka ka ka…ka…mu ti… ti … ti-dak lu-cu!

  3. Adib Susila says:

    Memang benar sekali kisah reza itu, karena sesuai dengan yg saya lihat dan saya temui di masyarakat kita. Coba saja kita lihat kalau pas khutbah Jumat. Pasti banyak yg ngorok.
    Bila mengaji hanya sekadar untuk mencari pahala dan tidak pernah memahami apa yang dia dengar, akibatnya ya ngantuk, tidur mendengkur, …. zzz … khrooogh … zzz … khrooogh …!!! Dzalika mablaghuhum min al-‘ilmi. Pahalanya adalah mimpinya itu, dan ketika bangun menghadapi realitas hidup pastilah ‘mimpi buruk’ yang akan selalu ditemuinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: