Rakyat itu Ibarat Bebek

Saya pernah menginap di rumah Om yang punya kebun dan rumah peristirahatan di tepi sungai. Karena rumah panggung yang cukup besar itu hampir secara keseluruhan (tiang, lantai, dinding, atap) terbuat dari bambu, maka kami menyebutnya sebagai gubuk bambu.

Setiap pagi, dari atas gubuk bambu, saya menyaksikan atau mendengar suara bebek berbaris meninggalkan kandang dengan langkah dan goyang pinggulnya yang khas. Sungguh mengharukan melihat mereka berlarian dari kandang ke sungai (sekitar 30 m). Pelarian itu tampak dilakukan dengan susah-payah, karena kaki mereka yang kecil dan pendek itu harus menyangga tubuh yang tampak berat. Tapi mereka selalu keluar kandang dengan penuh semangat, tak pernah melangkah secara perlahah-lahan. Saya kagum dengan cara mereka berjalan yang selalu membentuk barisan teratur mulai saat meninggalkan kandang sampai mereka mencapai tepian sungai. Sesampai di sungai, badan mereka pun melayang-layang di atas air begitu enaknya.

Saya selalu tertarik pada suara mereka, yang oleh anak-anak Om diplesetkan menjadi suara tawa. Selanjutnya, suara ‘tawa’ bebek itu pun sering dijadikan alat untuk saling mengolok. Bila ada yang melakukan kesalahan atau kekeliruan dalam bicara atau bekerja, selalu saja ada yang menyuarakan tawa bebek itu. Atau, paling tidak, kesalahan atau kekeliruan itu akan dikomentari dengan kalimat, “Wah, begitu aja nggak becus! Jangan sampe diketawain bebek lu!”

Bebek menjadi salah satu sumber humor bagi warga Gubuk Bambu. Suatu sore, hari Ahad, istri Om datang bersama adik dan keponakannya. Kebetulan kami sedang sibuk dengan bambu. Ada yang memotong, membelah, meraut, merakit, dan memancangkannya jadi tiang-tiang di tepi kolam ikan. Istri Om sibuk memandu keponakannya, menyebut ini, menunjuk itu. Ketika ia menunjuk sungai, saya bertanya, “Tante bisa berenang?”

Nggak,” katanya.

“Coba aja, Tante!” kata saya bercanda. “Bebek aja yang kecil nggak tenggelam!”

Tante tertawa. “Kamu jangan nyindir ya! Mentang-mentang badan saya besar!”

“Tidak ada cerita bebek mati tenggelam!” sahut seorang anaknya.

“Memang,” kata saya pula. “Sumpah bebek adalah: sampai mati pun saya pantang tenggelam. Karena itu, walau sudah jadi bangkai, ia tetap mengambang di permukaan air!”

“Ah, kamu ini! Jangankan bebek, manusia tenggelam pun kalau sudah mati jadi mengambang!”

***

Pertama kali datang, saya hanya menjumpai sembilan belas bebek. Dua bulan kemudian, Om mendatangkan lagi seratus ekor. Beberapa hari setelah itu, didatangkan pula seribu ekor anak bebek. Yang 19 ekor itu, dulu jumlahnya ratusan. Om membawanya dari Indramayu, Jawa Barat, untuk dipelihara di suatu tempat milik seseorang. Entah apa sebabnya, orang itu tiba-tiba berubah pikiran. Om mengutus dua anak buahnya untuk membawanya ke Gubuk Bambu. Dari tiga ratus ekor bebek, lima puluh ekor mati dalam perjalanan. Om marah besar, karena kematian itu terjadi akibat kelalaian orang yang diamanati. Kelimapuluh bebek itu mati karena stress. Sebabnya, setelah ditampung dalam bak mobil yang terbuka, kedua orang tersebut sibuk menangkapi ikan di kolam, yang rupanya akan dipindahkan juga. Akibatnya, para bebek dibiarkan kepanasan di dalam mobil selama berjam-jam.

Setelah sampai di lingkungan baru, di Gubuk Bambu, jumlah mereka terus berkurang. Ada yang mati kerena penyakit, diterkam anjing, dimakan musang dan dicuri orang. Sampai kini, jumlah mereka tinggal 19 ekor.

Konon, bebek adalah jenis hewan yang sangat perasa (sensitif). Mereka tidak boleh dikagetkan atau ditakut-takuti. Mereka juga boleh dikatakan anti perubahan tempat tinggal, makanan, dan perlakuan. Perubahan apa pun akan berakibat buruk pada mereka, dan tentu juga pada pemilik mereka. Jumlah telur mereka bisa berkurang, mereka bisa sakit, bahkan bisa mati. Karena itu, di Gubuk Bambu, tidak semua orang boleh pergi ke kandang bebek; kecuali bila kandang itu kosong.

Baguslah. Saya jadi tak usah ikut repot mengurusi bebek. Untuk urusan bebek, saya lebih suka membiarkan anak-anak Om yang sibuk. Tapi, bila mereka pergi kuliah, tentu saja saya harus juga melongok kandang bebek. Bila dapat giliran demikian, saya selalu tak enak saat membuka pintu kandang, karena merasa membuat mereka takut atau malu. Saya jadi tak berani memandang mereka. Saya langsung saja membuka pintu, lalu menyingkir agak jauh, membiarkan mereka berdulu-duluan keluar. Pernah suatu hari, setelah membuka pintu, saya berdiri sambil memandang ke dalam kandang. Saat itu saya lihat mereka ragu untuk keluar. Ketika saya mundur, barulah mereka berlarian keluar. Beberapa ekor tampak pontang-panting, seekor terjatuh karena kakinya tersangkut sesuatu. Saya tak menolongnya, karena khawatir semakin membuatnya ketakutan.

Sifat pemalu dan ‘penakut’ bebek, memang mengharukan. Tapi saya juga kagum menyadari bahwa bebek, agaknya, merupakan hewan yang rukun dengan sesama dan cenderung membentuk komunitas yang mandiri. Ketika berkumpul mengerumuni makanan, mereka tak suka berebut apalagi saling terjang seperti ayam. Memang ada juga satu bebek mematuk bebek yang lain, tapi patukan itu mungkin dilakukan untuk mengingatkan atau menegur  teman. Karena itu patukannya lebih nampak ‘lembut’, tidak ganas dan kejam. Saya juga pernah melihat dua ekor bebek berkelahi di depan ember air. Gaya berkelahi mereka mirip gulat, seperti berusaha saling membelit leher. Tidak seru, dan tidak berlangsung lama.

Bebek memang bukan unggas yang liar dan ganas. Mereka bahkan nampak sangat lemah dan tak mampu bersaing ketika berhadapan dengan ayam, entok, angsa, dan anjing. Suatu sore, ketika bebek-bebek itu pulang, saya memberi mereka makanan berupa singkong (ketela) mentah yang dicincang. Mereka bergairah sekali menyambut makanan yang saya taburkan dari atas itu. Tapi ketika muncul seekor ayam betina, menyerobot makanan mereka, para bebek itu menyingkir, berdiri menjadi penonton yang baik bagi sang perampok. Sebaliknya, sang ayam juga menyingkir ketika muncul entok, dan sang entok juga pergi ketika angsa datang. Kesimpulan sementara: si angsa adalah ‘raja’ unggas. Jangankan ayam dan entok, anjing pun takut kepadanya. Bahkan anak-anak, juga orang dewasa, banyak yang takut disosor si leher panjang ini.

Anehnya, meski tak berani berebut dengan ayam, entok, dan angsa, bebek juga tidak lari terbirit-birit, tapi hanya menyingkir, untuk selanjutnya ‘menjadi penonton’.  Apa arti ini semua? Mereka mengalah —dan bukan takut!— kepada yang lebih kuat, perkasa, dan rakus? Inikah tipologi (watak) rakyat jelata, yang selalu cenderung mengalah, membiarkan jatah mereka dirampas siapa saja yang merasa berkuasa?

Selama ini saya mendengar bebek selalu diejek. Rakyat jelata selalu diejek sebagai pihak yang selalu membebek. Tapi ternyata saya lihat bebek mempunyai keistimewaan. Mereka lemah tapi penuh percaya diri. Mereka tak sanggup berebut makanan dengan makhluk lain, tapi justru karena itu mereka jadi mampu melihat lapangan kehidupan yang lebih luas. Bila ungas-unggas gagah seperti entok dan angsa sanggup saling rampas jatah yang ditabur manusia, bebek lebih suka jadi penonton, lalu pergi mencari jatah makanan yang disediakan Allah di keluasan alam. Mereka tidak iri, tidak dengki kepada para perampas jatah itu. Mereka pergi dengan rela, berbaris sambil melantunkan koor yang sama seperti ketika meninggalkan kandang. Saya seperti mendengar mereka menyanyi riang:

Alam luas terbentang

Mari jelajah bersama

Tanah ada, air pun ada

Makanan ada di mana-mana!

Kwek, kwek, kwek, kwek!

Ah, air mata tiba-tiba menetes. Saya ingin malaikat muncul di depan saya, menyulap saya jadi bebek. Benar-benar bebek. Sebab, sebagai bebek, suara saya tak akan diperebutkan oleh siapa pun yang ingin berkuasa.

Advertisements
Comments
One Response to “Rakyat itu Ibarat Bebek”
  1. reza says:

    wah bener-bener deh nih bang husen… cinta bgt ama bebek hehehe..semoga ya pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: