Andai Saya Presiden

Andai saya jadi presiden, saya akan mengefektifkan tradisi sumpah.

Selama ini, dari pejabat sampai penjahat (yang keduanya kadang sulit dibedakan) sudah terbiasa mengucapkan sumpah palsu. Tapi, mengapa mereka tidak mendapatkan hukuman langsung dan kasat mata dari Allah? Menurut saya, hal itu terjadi karena Tuhan mungkin menganggap kita cuma bermain-main.

Dalam berbagai kesempatan, Nabi Muhammad juga sering bersumpah. Ciri khas sumpahnya adalah sebuah kalimat pendek: “Demi Dia yang menggenggam jiwaku” (walladzi nafsi bi-yadihi), yang menggambarkan kesadaran penuh tentang kehadiran Allah dan penyerahan diri secara total terhadapnya. Sebaliknya, kita menyelenggarakan sumpah jabatan hanya sebagai formalitas, atau mungkin hanya sebagai ritual pembuka bagi rangkaian protokoler yang kelak dijalani para pejabat.

Al-Quran diangkat di belakang pejabat yang disumpah, ini perlambang apa?

Al-Quran diangkat di belakang pejabat yang disumpah, ini perlambang apa?

Menurut Al-Qurãn (surat Ali ‘Imran ayat 60-61) sumpah dilakukan antara lain karena ada pihak yang menentang kebenaran. Allah menyuruh rasulnya menantang mereka melakukan sumpah mubahalah. Caranya adalah kedua belah pihak sama-sama mengumpulkan anggota keluarga (anak, istri, dst) dan para pendukung (teman, anak buah, dan sebagainya) di suatu tempat (lapangan dsb.). Setelah kedua belah pihak berkumpul, mulailah keduanya sama-sama bermubahalah, yaitu berdoa dengan sepenuh hati, meminta agar Allah menjatuhkan laknatnya kepada pihak pembohong.            

Sumpah mubahalah adalah sumpah yang didahului dengan kesepakatan untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya hakim, yang akan menjatuhkan vonis kepada pihak yang salah dengan cara menjatuhkan hukuman secara langsung (kontan).

Sumpah jabatan seharusnya juga dilakukan dengan ruh (spirit, semangat) sumpah mubahalah. Semua orang, pelaku sumpah, penyelenggara upacara, dan para saksi, harus menyadari kehadiran Tuhan, meyakini bahwa mereka sedang menjalankan perintahnya, kemudian berdoa dengan sepenuh hati agar Tuhan memberkahi pelaku sumpah yang benar dan menjatuhkan azab kepada pembohong.

Tentu orang yang paling dulu harus bersumpah demikian itu adalah diri saya sendiri. Untuk itu, saya akan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, teman-teman, dan anak buah saya di sebuah lapangan atau di masjid Istiqlal. Kemudian, dalam kesaksian siapa pun yang ingin menyaksikan, saya akan bersumpah untuk menjalankan segala kewajiban sebagai presiden. Bila saya melakukan pelanggaran secara sengaja, maka saya bersedia menerima jatuhnya laknat Allah secara langsung, dalam bentuk apa pun.

Kemudian, karena segala kebutuhan hidup saya dan keluarga telah dijamin Negara, saya bernadzar untuk menghibahkan tujuh puluh lima persen gaji saya untuk dana pendidikan nasional. Para menteri, para pejabat lain, dipersilakan untuk melakukan hal itu bila mereka suka, dengan persentase yang tidak memberatkan mereka.

Selanjutnya, karena saya muslim dan menjadi presiden di sebuah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, maka setelah saya, yang akan saya minta untuk bersumpah adalah umat Islam, yang di dalamnya tercakup seluruh anggota keluarga, teman, dan anak buah saya. Isi sumpahnya saya ambil dari sebuah Hadits Nabi yang menetapkan bahwa orang beriman itu harus menyelamatkan manusia (muslim dan non-muslim) dari gangguan (kejahatan) tangan dan lidahnya.

Kemudian, saya akan membentuk Dewan Penasihat Presiden, yang anggotanya terdiri dari para pakar dalam berbagai bidang. Tentu saja mereka juga harus melakukan sumpah seperti yang saya lakukan. Demikian juga para pejabat lainnya, mulai dari wakil presiden, para menteri, sampai lurah, bahkan ketua RT bila perlu,  semua harus melakukan sumpah seperti yang saya lakukan. Mereka juga dipersilakan untuk bernadzar sesuai dengan kehendak mereka untuk memberikan ‘bonus’ pelayanan kepada rakyat. Semua rekaman sumpah dan nadzar itu akan dibukukan bersama data diri dan keluarga, riwayat hidup, dan daftar kekayaan masing-masing. Bukunya dicetak sebanyak-banyaknya, untuk dibagikan secara gratis kepada rakyat seluas-luasnya, supaya bisa menjadi salah satu alat kontrol.

Kemudian, setelah saya disumpah sebagai presiden, akan saya kumpulkan para mantan pejabat di lapangan yang paling luas di Indonesia, supaya bisa menampung rakyat sebanyak mungkin untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Wartawan dalam dan luar negeri dipersilakan meliput peristiwa itu.

Saya akan menyuruh para mantan pejabat itu mengulang sumpah jabatan yang dulu mereka ucapkan dengan menyebut nama Tuhan dan menaruh kitab suci di atas kepala. Kemudian, setelah mengulang sumpah masing-masing, mereka akan ditanya:

1.  Apakah saudara memahami sumpah yang saudara ucapkan?

2.  Apakah saudara sudah melaksanakan dengan baik isi sumpah itu?

3.   Bila saudara berbohong, apakah saudara siap menerima hukuman Tuhan secara langsung, misalnya dengan munculnya petir yang menghanguskan saudara, atau bumi tiba-tiba terbelah dan menelan saudara di depan mata puluhan ribu rakyat yang hadir dan jutaan pemirsa televisi?

Mungkin, karena takut disambar petir atau ditelan bumi, mereka akan mengakui berbagai pelanggaran. Bila memang demikian, mereka harus menulis pengakuan segala dosa, yang selanjutnya harus mereka serahkan kepada Jaksa Agung untuk kemudian diproses di pengadilan. Selain itu, bila kejahatan yang mereka lakukan adalah korupsi, mereka harus mengembalikan semua (sisa) harta yang mereka curi kepada Negara.

Di antara mereka mungkin ada bajingan tak bertuhan yang bermental baja, yang tetap tegar mengaku benar meski kejahatannya sudah nyata dirasakan banyak orang. Bagi mereka, saya akan memimpin seluruh hadirin dan permisa teve untuk berdoa agar Tuhan menurunkan petir atau membelah bumi.

Saya percaya, bila doa itu dilakukan dengan sepenuh hati, dengan pengakuan yang tulus dan mendalam tentang kehadiran Tuhan, maka Tuhan pasti menurunkan petirnya.

Sebenarnya bagi masyarakat muslim Ambon, sumpah seperti itu bukan sesuatu yang asing. Suatu ketika, tutur seorang tokoh Ambon, ada orang yang ‘mencaplok’ tanah orang lain dengan cara memindahkan patok, sehingga terjadi pertengkaran yang seru. Akhirnya kedua belah pihak yang bertengkar dibawa ke masjid. Imam masjid memimpin upacara sumpah mubahalah. Tiga hari kemudian, orang yang memindahkan patok tanah itu mati tertimpa pohon yang roboh. Ada pula yang melakukan upacara sumpah dengan berendam di laut, dengan masing-masing pihak memeluk sebuah batu besar. Pihak yang bersalah merasakan batu yang dipeluknya semakin lama semakin berat, sampai akhirnya ia mati tenggelam tertindih batu yang dipeluknya.

Apa yang akan saya lakukan terhadap para mantan pejabat  itu juga akan saya lakukan terhadap para pengusaha yang selama ini bekerjasama (berkolaborasi) dengan mereka dalam menyengsarakan  rakyat. Bagi mereka yang sempat lolos ke luar negeri dengan membawa seluruh harta curian, sumpah akan dilakukan secara in absentia, karena mereka tetap akan menyaksikan melalui teve atau membaca berita media cetak. Malaikat Tuhan akan mengejar mereka melalui keresahan, kegelisahan, rasa tidak tenteram, dan kepanikan, yang bisa membuat mereka mengalami kecelakaan kendaraan, atau melakukan bunuh diri. Selain itu, tentu saja saya juga akan menyuruh polisi kita bekerja-sama dengan interpol, untuk menangkap mereka, dan meminta negara-negara yang mereka tempati untuk mengekstradisi mereka ke Indonesia.

Itulah, antara lain, yang akan saya lakukan bila saya jadi presiden; dan itu sebenarnya hanyalah ‘terjemahan’ dari sila pertama Pancasila, yang menegaskan bahwa kita adalah suatu bangsa yang meyakini keberadaan Tuhan, dan selalu berusaha agar keyakinan itu membawa berkah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenyataannya saat ini saya  bukan seorang presiden, sehingga apa yang saya angankan di atas mungkin akan tetap menjadi angan-angan. Namun, sebagai apa pun, saya tetap percaya bahwa Tuhan menciptakan saya pastilah supaya saya berpikir dan bertindak benar. Itulah amanat Tuhan bagi kita semua. Karena itu,  saya akan selalu berdoa, “Ya Allah! Hari demi hari, detik demi detik, semua Anda berikan sebagai amanat. Tapi, sebagai manusia yang lemah, detik-detik yang berlalu kebanyakan saya isi dengan kebodohan, kemungkaran, pelanggaran, dan pengkhianatan atas amanat Anda. Maka, tolonglah, Tuhan! agar pada hari esok yang masih juga Anda amanatkan, saya mampu meneguhkan tekad untuk menjadi pelaksana amanat, walaupun peran saya di negara ini hanya sebagai tukang sapu jalanan. Amin!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: