Ada Apa Di Balik Lambang?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang-orang yang tampak menghormati dan bahkan mempromosikan sebuah simbol, tapi perilaku mereka tidak seiring sejalan dengan filosofi di balik simbul itu.

Bisa anda berikan contoh yang jelas?

Jilbab, misalnya. Bukankan jilbab itu adalah salah satu simbul Islam?  Tapi, saya lihat banyak para pemakai jilbab tidak mempertunjukkan perilaku yang Islami. Misalnya, ada di antara mereka yang bersikap ekslusif dan sinis terhadap orang yang tidak berjilbab.

Kalau soal jilbab, ada yang bilang lambang Islam, ada pula yang menganggap hanya lambang Arabisme. Tapi kita tidak akan membahas perselisihan (kontroversi) itu di sini.

Bagi yang menganggap lambang Islam, yaitu orang-orang (wanita) yang anda sebutkan tadi, itulah contoh dari penyandang sebuah simbol yang tidak memahami nilai agung di balik simbul itu. Mereka hanya memahami simbol sebagai sebuah identitas kelompok yang mereka anggap benar, agung, dan mulia. Karena itu, secara sepihak, mereka beranggapan bahwa orang lain yang ada di luar kelompok mereka adalah hina. Ini adalah cara berpikir yang sempit, yang membuat pelakunya jatuh pada simbolisme yang hampa makna. Mereka mandek pada simbul. Dengan hanya menyandang sebuah simbol, mereka sudah merasa sampai di puncak kebenaran.

Kalau begitu, bolehkah saya tidak peduli pada simbol tapi tetap berusaha untuk berbuat benar?

Juga tidak bisa begitu! Tidak peduli pada simbol berarti tidak peduli pada identitas. Apakah anda mau dan bisa hidup tanpa identitas? Tadi saya katakan bahwa simbol itu pada hakikatnya adalah sebuah bentuk bahasa, yaitu semacam bahasa isyarat. Setiap saat kita selalu menggunakan bahasa isyarat, apakah dengan gerak-gerik tubuh (bahasa tubuh), dengan senyum, cemberut, melotot, mendengus, dan sebagainya. Bahkan pakaian kita, pada hakikatnya juga meru-pakan ‘bahasa’ yang kita pilih untuk mengungkapkan siapa kita.

Lalu, dalam konteks agama, apakah simbol itu begitu penting?

Bukan hanya penting. Dalam agama justru terdapat simbol-simbol yang tertata sedemikian rupa (sistemik), dan punya daya komunikasi yang luar biasa, melebihi bahasa lisan dan tulisan, bila kita memahaminya. Ibadah ritual yang kita lakukan, mulai dari shalat, pembayaran zakat, puasa, haji, dan lain-lain, secara keseluruhan adalah rangkaian (sistem) simbol. Dengan kata lain, setiap bentuk ritual mengandung ajaran atau hikmah (filosofi) tertentu.

Bisa anda berikan contoh?

Shalat, misalnya, mengapa semua orang Islam di seluruh dunia harus menghadap Ka’bah? Itu adalah lambang bahwa mereka harus mempunyai kesatuan pandangan. Lalu, mengapa dalam ibadah haji mereka harus melakukan tawaf (berkeliling) mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali, dan mengapa mereka harus berputar ke arah yang berlawanan dengan gerak jarum jam?

Ya, mengapa harus begitu?

Ada yang mengatakan bila dalam tawaf itu kita bergerak searah dengan jarum jam, kita akan cepat pusing. Ada orang yang bercerita tentang penga-lamannya mengemudikan mobil. Dia bilang setiap dia melakukan perjalanan dengan banyak belokan ke kanan, kepalanya merasa agak pening. Anehnya, hal itu tidak terjadi ketika dia melakukan belokan-belokan ke arah kiri. Mengapa?  Ini rahasia alam. Ketika kita berputar ke kiri, kita bergerak mengikuti gerak bumi mengelilingi matahari. Ketika kita berputar ke kanan, gerakan kita berlawanan dengan pergerakan bumi. Dengan kata lain, berputar ke kanan adalah melawan arus!

Oh!  Jadi, hikmah yang bisa kita petik dari gerakan tawaf itu adalah supaya kita jangan melawan arus?

Bukan jangan melawan arus; apalagi arus masyarakat sekarang yang cenderung bejat, amoral dan korup. Bila merasa beriman, kita harus melawan arus demikian.

Pesan dari ritus (upacara) tawaf itu adalah supaya kita jangan melawan sunnatullah, jangan melanggar hukum Allah, supaya kita tidak hidup dalam kepusingan, hidup dalam berbagai masalah yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.  Dalam surat Ar-Rahman, misalnya, Allah menegaskan bahwa jagat raya dengan segala isinya dibuatNya beredar dengan menerapkan prinsip keseimbangan. Kita sebagai manusia juga harus hidup dalam keseimbangan, jangan merusak keseimbangan.

Seperti ditegaskan Allah dalam surat Yassin, matahari tidak akan bertubrukan dengan bulan, dan malam tidak mungkin mendahului siang. Semua benda angkasa beredar dalam orbit ma-sing-masing yang telah disediakan Allah. Ini adalah ‘bahasa’ lain, ‘bahasa lambang’ yang digunakan Allah untuk mengingatkan atau menyindir kita. Manusia, sebagai makhluk Allah yang terlalu kecil dibandingkan dengan jagat raya, seharusnya mau diatur oleh Allah, supaya bisa hidup dalam keseimbangan, dan tidak saling berbenturan satu sama lain. ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: