Salahkah Bila Saya Pasrah (2)

Nurcholis Majid.

Nurcholis Majid.

Mungkin tak banyak orang yang tahu dan memahami bahwa Islam – dari akar kata islãm(an) kemudian dibentuk menjadi istilah Al-Islãm(u) – adalah sebuah konsep kepasrahan. Bila hal ini diketahui dan kemudian dipahami, maka pertanyaan seperti pada judul itu menjadi terasa ganjil. Bagaimana mungkin seorang muslim/muslimah – kata pelaku dari Al-Islãm – mempertanyakan kepasrahan? Tapi, harus diakui, persoalannya memang tidak semudah itu.

Harfiah dan istilah

Dalam terjemahan harfiah, islãm adalah kepasrahan atau penyerahan diri (kepada Tuhan). Inilah yang sering disebut orang (khususnya kaum pluralis, yang sebagian bergabung dalam Jaringan Islam Liberal/JIL) sebagai makna generic (umum), yang berlaku untuk semua agama; sehingga berdasar itulah mereka mengatakan bahwa “semua agama pada dasarnya adalah islam (islãm)”, alias penyerahan diri, alias kepasrahan kepada Tuhan. (Pemikiran ini diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Nurcholis Majid).

Tapi, pasrah (menyerah, berserah) pada siapa dan dengan cara bagaimana? Pertanyaan ini – secara logika yang benar – mengajak kita untuk memahami islãm (tepatnya Al-Islãm) sebagai istilah.

Hanz Wehr, dalam A Dictionary Of Modern Written Arabic, menerjemahkan islãm sebagai submission, resignation, reconciliation (to the will of God). Ini tentu masih terasa bersifat umum, kecuali bila dipastikan siapa God (Tuhan) yang dimaksud. Tapi seandainya God ini pun dipastikan sebagai Allah, orang Kristen Indonesia masih bisa mengklaim bahwa Allah (Allah Bapak) adalah Tuhan mereka juga. Padahal kamus-kamus bahasa Inggris menyebut bahwa Allah adalah nama Tuhan orang Islam; name of God among Muslims.

Karena itu, mari kita bicara obyektif ilmiah.

Allah, de jure dan de facto – secara kamus dan kenyataan –  adalah (nama) Tuhan para Muslim. Dan para muslim yang dimaksud adalah setiap orang yang menganut agama Islam.

Islam seperti dikatakan ulama adalah agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. (Ad-dînu jã’a bihi Muhammadun shallallahu ‘laihi wa sallam). Lebih tegas lagi adalah seperti yang dikatakan Allah dalam bagian dari surat Al-Ma’idah ayat 3. “Pada hari ini Aku (Allah) sempurnakan agama kalian, yaitu Aku genapkan nikmatKu, dan selanjutnya Aku senang Islam ini menjadi agama Kalian.”

Ayat tersebut menegaskan Islam sebagai (nama) sebuah agama. Ayat inilah, antara lain, yang menjadi landasan pembentukan istilah Dînul-Islãm(i). Dus, islãm di sini tidak layak (= tidak ilmiah) lagi dipahami dalam makna eneric-nya. Bila dipaksakan juga, terjadilah kebohongan (atau kebodohan?) ilmiah.

Konsep kepasrahan

Dînul-Islãm (agama Islam) adalah sebuah konsep kepasrahan yang dilengkapi dengan paparan sistem kepasrahan itu sendiri.

Hadis Jibril (silakan baca uraiannya dalam blog ini) menegaskan bahwa pilar-pilar agama Islam terdiri dari (1) Al-Islãm(u), (2) Al-Ĩmãn(u), (3) Al-Ihsãn(u), (4) As-Sã’ah, dan(5) Amarãtu-Sã’ah.

Secara ilmiah, dengan memperhatikan teks hadis seutuhnya, lima point (pilar; pokok) ini satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Inilah inti dari agama Islam sebagai sebuah konsep dan sekaligus sistem kepasrahan, dalam arti submission, resignation, reconciliation to the will of God – kepasrahan, penyerahan, penyesuaian diri terhadap kehendak Tuhan (Allah).

Kehendak Allah

Saya mengajak anda untuk memahami “kehendak” Allah di sini dalam cara berpikir ilmiah; sehingga pengertiannya menjadi pasti, tertentu (definitif), jelas dan utuh. Dengan kata lain, “kehendak” Allah di sini bukanlah sesuatu yang samar, bersifat teka-teki atau berkaitan dengan dugaan-dugaan setiap orang, dan karena itu menjadi tidak menentu, temporer, dan tidak utuh; sehingga tidak merupakan sebuah konsep.

Di sini saya ajak anda untuk memahami “kehendak Allah sebagai sebuah konsep yang utuh, yang (bisa, layak) menjadi “pedoman hidup” (hudan). Tegasnya, kehendak Allah tersebut – tidak lain dan tidak bukan –  adalah Al-Qurãn dan Sunnah Rasul.

Al-Qurãn dan Sunnah Rasul adalah “kehendak” Allah yang jelas (konkret), pasti (definitif), dan lengkap (komprehensif). Inilah yang menjadi pedoman hidup para muslim!

(BERSAMBUNG)

Advertisements
Comments
2 Responses to “Salahkah Bila Saya Pasrah (2)”
  1. jundullah says:

    hiduplah dengan kedunguan mu wahai para pembelok manusia dari jalan Allah. bila kalian pandai menbuat makar, maka Allah Maha Berkuasa dan Berkehendak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: