Dasar Pertimbangan Dalam Da’wah Al-Qurãn

Nuzulul-Qurãn

Bila orang bicara nuzulul-qurãn, yang mereka maksud  adalah turunnya ayat-ayat tertentu yang berkaitan dengan keaadaan-keadaan atau peristiwa-peristiwa tertentu.

Mereka  mengatakan bahwa nuzulul-qurãn perlu dipelajari karena sangat dibutuhkan untuk menafsirkan Al-Qurãn. Karena itu banyak orang alim yang menekuni bidang itu, di antaranya yang terkenal adalah Ali bin Madini, guru Bukhari, kemudian  Al-Wahidi atau  Abul Hasan Ali bin Ahmad An-Nawawi  Al-Mufassir,  yang menulis kitab Asbabun-Nuzul. Kitab ini selanjutnya diringkas oleh Al-Jabari, dengan menghilangkan isnad-isnadnya (rangkaian nara sumbernya).

Selain mereka, kemudian muncul juga Ibn Hajar, yang  dijuluki Syaikhul Islam, menulis kitab tentang asbabun  nuzul, dan As-Suyuti yang menulis kitab Lubabul-Manqul fi  Asbabin-Nuzul.[1]

Dikatakan oleh mereka bahwa suatu ayat turun  disebabkan oleh dua hal:

1.  Bila terjadi suatu peristiwa, turunlah  ayat  Al-Qurãn mengenai peristiwa itu. Misalnya seperti cerita dari Ibn Abbas:

“Ketika turun: Dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat, Nabi pergi naik ke bukit Safa, lalu berseru: ‘Wahai kaumku!’ Maka mereka pun berkumpul ke dekat Nabi.

Ia berkata lagi: ‘Bagaimana pendapatmu bila aku beritahukan kepadamu bahwa di balik gunung ini ada pasukan berkuda yang hendak menyerangmu; percayakah kamu apa yang kukatakan?’

Mereka menjawab: ‘Kami belum pernah melihat engkau berdusta.’ Dan Nabi melajutkan: ‘Aku memperingatkan kamu tentang siksa yang pedih.’ Ketika itu Abu Lahab lalu berkata: ‘Celakalah engkau; apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?’

Lalu ia berdiri. Maka turunlah surah ini: “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.”

2. Bila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al-Qurãn menerangkan hukumnya…[2]

Demikian tentang asbabun nuzul.

Pembagian babak

Tentang pembagian  babak atau periode penurunan Al-Qurãn, Muhammad  Quraish Shihab dalam buku  Membumikan Al-Qur’an menulis:

“Para ulama ‘Ulum Al-Qur’an membagi sejarah turunnya Al-Qur’an  dalam dua periode: (1) Periode sebelum  hijrah;  dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode  pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat  yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah…”

Tapi  Quraish sendiri membagi penurunan  Al-Qurãn  tesebut menjadi tiga periode, yaitu: Pertama, pendidikan bagi  Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Ia menunjuk surat  Al-Mudatsir ayat 1-7, surat Al-Muzzammil ayat 1-5,  dan surat Asy-Syu’ara ayat ayat 214-216.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat  dan af’al (perbuatan) Allah, misalnya dalam surat Al-A’la  (surat  ketujuh) dan surat Al-Ikhlash.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu, seperti dalam surat At-Takatsur dan surat Al-Ma’un.

Demikian menurut Quraish Shihab.

Kondisi kejiwaan masyarakat

Sedangkan sebuah  hadis riwayat Bukhari dari ‘Aisyah memberikan gambaran demikian:

“Sebenarnya dia (Allah) menurunkan (wahyu-wahyu) pertama darinya  (Al-Qurãn) adalah surat mufashshil, yang di  dalamnya menerangkan tentang ‘jannah’ dan ‘nar’. Sampai kemudian  setelah  manusia berhimpun memeluk Islam, maka dia menurunkan (wahyu  tentang) halal dan haram. Seandainya dia  menurunkan (wahyu) pertama  (yang  menyatakan)  ‘Jangan  kalian  minum khamr‘ (minuman keras), pasti mereka menjawab, ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.’ Bila dia menurunkan (wahyu) ‘jangan kalian berzina,’ pasti mereka menjawab, ‘Kami tak akan meninggalkan zina selamanya.”

Hadis ini mengisyaratkan bahwa wahyu turun dengan mempertimbankan kondisi kejiwaan masyarakat yang bersangkutan.

Hal ini seharusnya menjadi dasar pertimbangan dalam da’wah, khususnya pengajaran Al-Qurãn  di masa sekarang.


[1] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ILmu Qur’an, hal. 108, terjemahan Drs. Mudzakir AS, Litera An-tarNusa, Bogor 1992.

[2] idem, hal. 110-111.

Comments
6 Responses to “Dasar Pertimbangan Dalam Da’wah Al-Qurãn”
  1. reza says:

    bang..kalo orang indonesia sekarang ini cocoknya diajarin Qur’An surah apa? atau ayat tentang apa ya..?
    mungkin perlu identifikasi masalah, merumuskannya baru di da’wahin kali ya..
    thanx

  2. Ahmad Haes says:

    Saya dengan teman2 biasa berda’wah dengan cara mengajak (membimbing) mad’u melakukan studi banding. Di situ identifikasi masalah(-maszalah) dipertajam, dan jawaban2 (solusi) diambil dari Al-Quran dan Sunnah Rasul. (Eh, ngomong2 sampai kapan tugas di Makasar?).

  3. reza says:

    2011 bang..
    bang, kok kalimatinsawa.org agak lama kalau mau di brows ya..?

    nanya lagi dong bang..apakah haji itu puncak keislaman seseorang? apa harus ketemu ka’bah? enak dong orang arab punya ka’bah

  4. Ahmad Haes says:

    1. Saya juga heran kenapa akses ke KS kok berat banget!? Ini masalah providernya atau apa ya? (Lho malah balik nanya!). Padahal ga ngutang kok!
    2. Bukan puncak keislaman seseorang tapi puncak tegaknya Islam. Itu juga kalau hajinya benar, sesuai Sunnah Rasul; yaitu mewujudkan persatuan dan persaudaraan muslim sedunia! Kalau seperti sekarang mah, yang untung ya Arab. Secara devisa maksudnya!

  5. kumis says:

    Bang… Kok Tulisannya hasil bajakan…

  6. Ahmad Haes says:

    O, ya? tolong buktikan! Jangan asal menuduh. Tulisan siapa yang saya bajak? Di blog ini saya banyak mengutip dan juga menerjemahkan tulisan-tulisan orang lain. Tapi membajak bukanlah karakter saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: