Perkembangan Kasus Prita Mulyasari

Prita dan anak terkecilnya.

Prita dan anak terkecilnya.

Kamis, 25/06/2009 11:10 WIB
Hakim Batalkan Dakwaan JPU, Sidang Kasus Prita Dihentikan
Reza Yunanto – detikNews

Jakarta – Majelis hakim mengabulkan eksepsi (keberatan) terdakwa pencemaran nama baik RS Omni International, Prita Mulyasari dan menolak semua dakwaan jaksa penuntut umum (JPU). Sidang kasus Prita pun otomatis dihentikan.

“Majelis hakim memutuskan satu, mengabulkan eksepsi penasihat hukum Prita Mulyasari. Kedua, mengabulkan permintaan penasihat hukum bahwa surat dakwaan JPU batal demi hukum. Ketiga, menetapkan biaya perkara dibebankan pada negara,” ujar Ketua Majelis Hakim Karel Tuppu.

Putusan itu disampaikan Karel dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang, Jl TM Taruna Pahlawan, Tangerang, Banten, Jawa Barat, Kamis (25/6/2009).

Alasannya semua dakwaan JPU tidak memenuhi syarat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 143 ayat 2 huruf b KUHAP.

“Maka cukup alasan untuk menyatakan bahwa dakwaan batal demi hukum. Karena itu eksepsi penasihat hukum yang lain tidak perlu dipertimbangkan lagi. Tidak ada alasan memutuskan pidana terhadap terdakwa,” tegas Karel.

***

Dari wall di Cause Dukung Prita:

CURHAT SUAMI BU PRITA ATAS “PERANGKAP” POLITIK PRAKTIS

Tadi pagi saya (Enda Nasution) menerima e-mail dari suami bu Prita, yang isinya tentang bantahan beliau bahwa bu Prita terlibat politik praktis, yakni menjadi jurkam. E-mail tersebut selanjutnya saya copy-pastekan di forum ini. Silahkan Bapak/Ibu/Sdr dan semuanya menafsirkan sendiri permasalahan yang tengah dihadapi keluarga ibu Prita.

Surat tersebut sebagai berikut:

Terima kasih juga pak yuddy. Alhamdulillah jika dukungannya bertambah banyak, kami hanya bisa berdoa semoga dukungan dan doanya bisa dibalas oleh Allah SWT.

Pak Yuddy maaf sebelumnya mungkin kalau tidak keberatan pak yuddy bisa tolong sampaikan kepada rekan2 semua pendukung cause ini tentang adanya isu2 bahwa prita menjadi jurkam atau simpatisan politik partai tertentu.

Sebenarnya ceritanya begini, kami diundang oleh mungkin salah satu kader atau apapun itu (kami baru tahu setelah kejadian) untuk menghadiri pengajian ibu2 di daerang serpong. Beliau datang sendiri ke rumah (malam2). Ya tanpa perasaan apapun kami pun menyanggupinya. Karena menurut kami itu acara pengajian ibu2 yang prinsipnya juga membangun silaturahmi.

Pada hari yang ditentukan, kami pun datang. Tapi sampai di sana kami tidak menyangka bahwa akan ada wartawan dan juga simpatisan partai tersebut. Di sana rupanya bukan pengajian tapi dialog, yang dikondisikan bahwa prita akan berdialog dan mengeluarkan statement tentang bantuan ketua partai tersebut dalam pembebasan prita. Dan juga ditanyakan pendapat prita tentang beliau.

Mungkin jawaban prita seakan2 prita bersedia menjadi jurkam ataupun siap untuk berpolitik. Tapi sejujurnya, prita hanya secara spontan menjawab pertanyaan2 yang diajukan para simpatisan/kader partai dan juga wartawan. Ya insyaallah kami tetap berpegang teguh kepada perjuangan kami, tidak ada niatan untuk berpolitik ataupun menjadi jurkam partai tertentu.

Mungkin ada yang berniat mempolitisir hal ini menjadi politik atau apapun itu kami tidak mengetahui dan mengharapkannya. Intinya kami masih manusia biasa dan menjadi warganegara yang hak kami pernah dilanggar. Sebenarnya pada kesempatan itu juga prita mengungkapkan bahwa prita lebih konsentrasi terhadap kasus yang dihadapinya, jadi tidak ada keinginan menjadi jurkam atau simpatisan partai tertentu. Kasusnya saja belum selesai…

Kami hanya bisa kembalikan kepada rekan2 semua, Insyaallah kami tetap pada apa yang menjadi niat dan perjuangan kami dari awal sampai akhirnya nanti.

Terima kasih atas dukungannya yang melebihi kuasa kami. Semua menjadi kuasa Allah, jadi kami kembalikan semuanya kepada Allah. Amin.

Wassalam.

Terima kasih sebelumnya pak Yuddy. Dan maaf jika merepotkan.

***

Georgius Rudy Jatmiko:

Memang seringnya para politisi membabi buta mencari dukungannya. Apapun dihalalkan demi mencari simpati. Apakah ini bukan sebuah “jebakan baru” dan perlu dikoreksi oleh pemimpin yang bersangkutan agar citranya tidak makin buruk di masyarakat. Coba kalau cara ini difloorkan ke masyarakat, bisa memalukan to? Minimal para kita komunitas ini tahu bahwa perjuangan kita bukan mendekat ke kekuasaan. Perjuangan kita murni menuju kebebasan.

***

Hendra Hermanto:

Wah wah , hati hati saja jangan sampai Deritanya Prita dijadikan bahan baku kampanye suatu parpol , ya kita udah terlalu banyak tahu sih, gimana kondisi yang ada . Kalaupun hendak heart to heart menolong Prita, mestinya dijauhkanlah dari kondisi menjadi Payung Kampanye, yaitu orang diberi payung tapi dengan itu juga orang itu sedang dijadikan iklan berjalan dengan payung yang dipakainya berlindung.

Mudah mudahan aja orang orang yang berniat (nawaitu) untuk membantu Prita, benar benar tulus dari hati, bukan sebaliknya, ada udang dibalik batu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: