Kisah Para Model Dunia (4, tamat)

Dulu , pekerjaan sebagai model dianggap tidak terhormat dan honornya sangat sedikit. Pada zaman itu wanita tidak dibenarkan untuk bekerja. Para model itu biasanya datang dari kalangan biasa. Namun salah seorang model terkenal pada waktu itu, Hannah Lee berasal dari kalangan intelektual. Dia adalah salah seorang perintis bisnis model, sehingga setelah itu, banyak gadis-gadis dari kalangan atas yang ‘berani’ terjun menggeluti dunia model. Model tidak lagi digambarkan  sebagai wanita ‘murahan’.

Pada masa Hannah pula dikenal John Robert Powers yang dengan gigih menjalankan bisnis modeling. Bisnis John ini banyak menghasilkan model-model yang kemudian menjadi terkenal dan kaya karena punya penghasilan tinggi.  

Mereka Yang Beralih Profesi

Susah payah mereka merintis kariernya sebagai model untuk kemudian melepaskannya kembali dan menggeluti pekerjaan lain

Para model , yang tenar maupun yang kurang tenar, umumnya semula tidak mempunyai cita-cita menjadi model. Bahkan di antara mereka banyak yang mengaku sama sekali tidak mengenal dunia model. Bila akhirnya mereka menjadi model, kebanyakan karena mereka ditemukan oleh para pemburu model seperti para agen, atau oleh para juru foto. Di antara mereka bahkan ada yang merasa dirinya buruk rupa, atau bahkan dianggap masyarakat berwajah tidak cntik. Para model agaknya memang tidak dilahirkan, tapi dibentuk. Mungkin oleh kemajuan masyarakat industri. Yang menarik, banyak di antara  model terkenal kemudian banting stir, melakukan berbagai pekerjaan yang bertolak belakang dengan kehidupan modeling yang riuh dan gemerlap.

Menjadi penyelamat hewan

Pada tahun 1964 Celia Hammond adalah model yang sangat terkenal di London. Ia memulai kariernya sebagai model pada tahun 1961, ketika usianya 19 tahun. Tahun itu ia dikontrak oleh majalah Queen. Yang memotretnya adalah Norman Parkinson, salah seorang jurufoto Inggris terbaik. Kemudian ia menjalin asmara dengan Terence Donovan, seorang anggota Terrible Trio (beranggotakan Donovan, David Bailey, dan Brian Duffy) yang mengubah fotografi mode sedemikian rupa, seperti yang dilakukan Penn dan Avedon di tahun 1940an. Semua anggota Terrible Trio berasal dari daerah East End  London, sebuah lingkungan kelas pekerja yang tidak pernah dikenal memiliki selera tinggi. Tapi ternyata anak-anak dari daerah inilah yang justru menghasilkan karya-karya fotografi yang bernilai seni tinggi. Fotografi populer, itulah sebutannya; dan para model menjadi ‘ratu’ karena mereka.

Salah satu mantan ‘ratu’ itu adalah Celia Hammond, yang di hari tuanya menjalankan yayasan Celia Hammond Animal Trust di Sus­sex, Inggris. Yayasan ini menolong, memelihara, dan memberikan tempat bagi hewan-hewan peliharaan yang terlantar. Malam hari ia berkeliling dengan mobil kecilnya di antara gedung-gedung, mencari kucing-kucing yang diabaikan manusia. Meski yang dilakukannya ini sungguh menarik untuk dijepret menjadi foto-foto seni – seorang model mengenakan baju malam memegang seekor anak kucing yang merana – namun kisah hidup Celia Hammond jauh dari romantik.

Terlalu gemuk

“Aku lahir di Indonesia,” tutur Celia. “Ayahku seorang tea taster (pemeriksa mutu teh). Kami pergi ke Australia ketika aku berusia satu tahun, kemudian aku pulang bersama ibuku. Selanjutnya aku dititipkan pada bibi dan pamanku, lalu aku masuk asrama. Aku pernah melakukan berbagai pekerjaan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan modeling.”

Dulu tubuh Celia gemuk sekali. Tapi ada seseorang yang mungkin melihat sesuatu di balik lemaknya. Dia bilang, “Kenapa kamu tidak menjadi model saja?”

“Itu mustahil,” sahutnya. Tapi kemudian ia pergi juga menemui sejumlah agen. Mereka umumnya mengatakan, “Tidak, tidak, kau jauh sekali dari persyaratan yang diperlukan. Kau tidak bisa menjadi model.”

Tapi agen Lucie Clayton menerimanya. “Aku masuk bersamaan dengan Jean Shrimpton. Kemudian datang fotografer David Bailey, membawaku untuk membuat foto sampul Vogue.”

Celia  butuh waktu lama untuk mendapat kesempatan dipotret. Ia ikut kursus dulu di sekolah modeling Lucie Clayton. Setelah lulus, ia menjelajah rumah-rumah mode, memperagakan pakaian koleksi mereka. Ia bekerja keras, setiap hari mengikuti show enam sampai delapan kali. “Kulakukan ini selama kira-kira setahun,” ujarnya.

Untunglah seorang fotografer bernama Norman Parkinson yang biasa berkeliling ke berbagai agen model, mencari model yang bisa dia ‘jual’.

“Ia menyebut agen-agen itu sebagai pasar ternak,” kata Ceila.

Norman pun datang ke agen modeling Lucie Clayton. “Kami tak punya siapa-siapa untuk Anda kali ini,” kata agen yang menampung Celia.

“Tapi aku ingin melihat mereka,” sahut Norman. Para model pun dibariskan di lantai atas. Norman memeriksa mereka. “Ternyata ada seorang bintang di sini,” ujar Norman.

“Siapa?”

“Celia Hammond.”

“Tidak mungkin!”

Waktu itu berat tubuh Celia sekitar 147 pon (73,5 kg). “Pokoknya tubuhku tidak  ideal untuk menjadi model ,” kenang Celia.

Dalam waktu dua minggu Celia harus siap memperagakan koleksi-koleksi dari Paris. “Aku berpuasa, mungkin selama tiga minggu. Tapi mereka tetap harus mengirim para penjahit wanita untuk membuka punggung setiap pakaian yang akan kuperagakan, dan menyambung kembali dengan berbagai cara.”

Ternyata show itu diadakan untuk majalah Queen. Celia dikontrak, dan selanjutnya ia bekerja dengan Norman Parkinson. “Ketika pertama kali bekerja bersama Norman, aku merasa ‘hijau’ sekali dan tak berguna. Ketika itu usiaku 21 tahun, tapi aku seperti anak 16 tahun, karena di tahun limapuluhan anak-anak tidak tumbuh secepat seperti sekarang.”

Menurut Celia, sekarang segalanya serba mudah bagi para model. Mereka bahkan tidak perlu memusingkan urusan make-up, karena ada orang lain yang bertugas khusus mengurus itu.

“Di tahun 1960an, setiap berangkat bekerja seorang model harus membawa sebuah koper yang cukup besar berisi perlengkapan termasuk makeup,” kata Celia.

“Aku harus membawa enam sampai delapan pasang sepatu, sejumlah roller penggulung rambut, berbagai macam selendang, sarung tangan, dan aksesori. Setiap foto menampilkan berbagai model rambut. Dan semua harus dikerjakan sendiri.”

Begitu pun Celia tidak dibayar mahal. “Pada waktu itu para jurufoto dibayar lebih mahal dibanding model,” kata Celia. “Aku punya sebuah jip, sebuah flat di West Hampstead, dan sebuah rumah kecil; tapi aku tak pernah punya banyak uang. Memang lucu. Pada waktu itu uang yang kami dapat sama dengan yang didapat seorang guru, tidak seperti model terkenal sekarang yang bisa mendapat seribu dolar sehari.”

Selagi ia masih menjadi model di London, suatu hari Celia melewati sebuah rumah kosong yang di dalamnya ada tiga ekor anak kucing dan induknya. Mereka terkunci di sebuah kamar. Ketika Celia bersama seorang temannya berusaha menolong, yang hidup hanya induknya. “Aku seperti mendapat wahyu,” kata Celia.  “Ini kejadian mengerikan yang aku yakin terjadi di seluruh London.”

Ia pun mulai mencari hewan-hewan malang di daerah perumahan, di pelabuhan, dan di berbagai stasiun kereta api. Semula ia melakukan segalanya sendiri, tapi kemudian ia tidak mampu menanggung biayanya, sehingga akhirnya ia putuskan untuk mencari bantuan dana dari berbagai pihak.

“Banyak orang yang kukenal sudah menjadi orang-orang penting dan berkuasa,” katanya.Kepada merekalah Celia minta dana.

Kegiatannya menolong hewan makin membuatnya sibuk, sehingga ia  memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai model. “Aku ingin melakukan sesuatu yang benar-benar merupakan panggilan hati,” tegasnya. “Namun bukan berarti aku menyesal pernah menjadi model. Justru sebaliknya; menjadi model itu sangat menyenangkan.”

Tertinggi di dunia

Dilihat dari banyak segi, Veruschka adalah model tertinggi di zamannya. Dengan tinggi 186,15 cm, ia bukan hanya model tertinggi, tapi juga wanita tertinggi di dunia.

Nama aslinya adalah Countess Vera von Lehndorff, putri Heinrich, Count von Lehndorff-Steinort, seorang tuan tanah dari Prusia Timur, yang keluarganya tinggal di sebuah kastil yang berdiri di tengah danau seluas 28 ribu acre bernama Mauersee. Letaknya dekat Rastenburg, sebuah pos bawah tanah Nazi tempat Hitler memberikan komando ketika pasukannya menyerbu Moskow.

Menteri luar negeri Hitler, Joachim von Ribbentrop, menyita kastil Lehndorff, dan kemudian kastil itu pun dijadikan markas Oberkommando alias komando tinggi. Heinrich von Lehndorff, letnan pertama dalam tentara cadangan Jerman, adalah anggota komplotan yang hendak membunuh Hitler. Tapi rencana mereka diketahui Gestapo. Lehndorff ditangkap; dan selanjut­nya bersama beberapa pemimpin militer lainnya, ia dieksekusi pada tanggal 4 September 1944. Keluarganya pun ditahan, harta mereka dirampas.

Sembilan belas tahun kemudian, putri keduanya, Vera, yang berstatus mahasiswa seni, ditemukan seorang fotografer mode, yang membawanya ke dunia para perancang busana dan majalah gemerlap. “Ia nampak seperti seekor menjangan, kikuk namun sangat anggun,” kata Dorian Leigh, agen pertamanya. “Ibunya memintaku untuk menjadikan adik Vera sebagai model pula. Sang adik ini bertubuh lebih kecil, lebih pirang, lebih cantik, namun tidak sehebat Vera. Hari berikutnya, Charlotte March membuat beberapa foto Vera, dan hasilnya sungguh luar biasa!”

Pada mulanya Vera nampak terlalu tinggi, dan terlalu gagah, sehingga Eileen Ford menyuruh orangnya mengusir gadis Jerman itu. Tapi pada masa itu sesuatu yang aneh justru dianggap indah. Fantasi menjadi peraturan, sehingga buku yang berisi peraturan pun dicampakkan. Maka Veruschka alias Vera pun muncul sebagai model yang terkenal. Pada saat ia ‘pensiun’ pada tahun 1970an, ia telah menghiasi sampul majalah Vogue sebelas kali.

“Veruschka adalah nama panggilanku ketika aku masih kecil. Artinya ‘Vera Kecil’. Ini sebenarnya nama Rusia, tapi aku suka karena aku berasal dari Timur.

“Aku bersama saudara-saudaraku dibesarkan seperti kaum Gypsy di Jerman Barat, karena kami telah kehilangan segala yang kami miliki. Kadang kami tinggal di rumah teman, atau di mana saja,” Vera mengenang masa lalunya.

“Ketika aku berusia 18 tahun, aku masuk sekolah seni di Hamburg. Kemudian, tahun 1962-1963 aku pergi ke Itali untuk melukis. Aku sedang di Florence ketika seorang lelaki menawariku menjadi foto model. Waktu itu sedang ada peragaan koleksi Itali di Palazzo Pitti dan Palaz­zo Strozzi. Aku dibawa ke situ, diperkenalkan kepada semua penjahit yang ada.

Waktu itu aku sangat pemalu. Nico, pe­nyanyi dari Velvet Underground, juga kujumpai di situ sebagai salah seorang model. Ia tertawa geli ketika melihatku. Entah kenapa. Tapi di situlah aku memulai karierku. Fotoku menghiasi majalah-mjalah Italia. Aku meniru dengan cepat para model yang kutemui di Palazzo Strozzi, karena aku memang tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

Di situ pula ia bertemu dengan Denise Serrault. “Ia sangat terkenal di dunia mode waktu itu,” kata Veruschka. “Rupanya mirip Gretta Garbo. Helmut Newton membuat foto-fotonya yang bagus sekali. Ia bekerja untuk Dior, mengadakan berbagai show, dan kadang-kadang melakukan pemotretan bersama Jeanloup Sieff. Ia bilang padaku, ‘Aku suka wajahmu. Aku yakin engkau akan menjadi model yang baik. Kau harus pergi ke Paris.'”

Tapi Veruschka tidak terlalu tertarik pada dunia model, karena sedang menekuni seni lukis. Namun karena dorongan berbagai pihak, termasuk teman ibunya, akhirnya ia pergi juga ke Paris.

Setelah setahun di Paris, Veruschka bertemu Eileen Ford di tempat Dorian. Ia bilang, ‘Wah, kau bagus sekali bila bekerja di Amerika, karena kau tinggi dan pirang; itulah yang kami sukai. Kau harus datang ke New York.”

“Tapi ketika aku benar-benar datang, sikap Eileen sungguh menyebalkan,” kenang Veruschka. “Ia mengku tak mengenalku. Ketika di Paris ia memuji karena aku pirang, tapi di New York ia mengatakan agar aku menggelapkan rambutku. Ia menyuruhku pergi ke penata rambut yang sangat mahal. Akibatnya, semua uang yang kubawa habis hanya untuk mengurus rambut! Kemudian Eileen mengatakan, ‘Jangan naik taksi karena kau tidak akan menghasilkan uang di sini. Lagipula lebih baik kau jalan kaki, karena kau terlalu gemuk.’ Padahal aku tak pernah gemuk. Kemudian dia suruh pula aku menemui seorang pengacara untuk mengurus visa kerjaku. Setelah aku menemuinya tiga kali, pengacara itu berkata, ‘Ketahuilah, aku kasihan melihat engkau selalu datang ke sini. Aku terpaksa berterus-terang padamu, bahwa Eileen melarangku membuatkan visamu.'”

Veruschka kembali ke Eropa tahun 1964, lalu mengikuti sedikit latihan di Itali. “Saat itulah aku berkata pada diri sendiri bahwa aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak boleh hanya pergi begitu saja menemui fotografer. Ratusan orang melakukan itu. Aku harus melakukan sesuatu yang membuatku tidak terlupakan. Aku tidak ragu tentang potensiku. Aku tahu bahwa aku mempunyai sesuatu yang menarik.”

Namun meski berhasil menjadi model terkenal, Veruschka akhirnya tidak berselera lagi menekuni dunia model.

“Setelah aku merasa orang tidak lagi tertarik pada apa yang ingin kulakukan sebagai model, aku beralih pada seni lukis tubuh bersama Holger Trulzsch. Aku sudah punya rumah, dan aku tinggal di situ bersama Holger. Kami melakukan body painting yang membuatku tidak nampak seperti diriku. Aku melakukan sesuatu yang bertolak-belakang dengan dunia model. Selanjutnya kami melakukan dress painting pula. Aku melukis diriku menjadi seperti lelaki. Tahun 1973 aku tampil di majalah Playboy, dilukis sebagai bandit pria yang garang.”

Model termahal

Richard Avedon.

Richard Avedon.

Lauren Hutton adalah model termahal pada zamannya. Setelah menempuh karier selama 10 tahun sebagai top model Amerika, ia membuat sejarah di akhir tahun 1973, dengan menandatangani kontrak sebesar 400 ribu dolar untuk menjadi model Revlon selama dua tahun. Jumlah itu tergolong kecil dalam ukuran sekarang. Tapi pada zamannya, kontrak model sebesar itu sudah cukup untuk menimbulkan ‘gempa bumi’. Richard Avedon, yang sering memotretnya, pada tahun 1974, ketika gambar Hutton tampil di sampul Newsweek,  mengungkapkan daya tarik wanita ini, “Ia adalah gabungan antara impian dan kenyataan,” katanya.

Lauren Hutton pernah tampil dalam film Paper Lion, The Gamler, Welcome to L.A., Gator, Zorro, The Gay Blade, dan American Gigolo. Hubungannya dengan Revlon berakhir  pada tahun 1984. Kemudian ia ditemukan lagi pada akhir tahun 1980an. Penampilannya dalam sebuah iklan Barneys New York, menghidupkan lagi kariernya, dan kembali Lauren dikontrak Revlon selama tiga tahun.

“Di masa remaja, aku merasa diriku jelek, tinggi, dan canggung. Tapi begitu lulus SMA, anak lelaki mulai mendekatiku. Mungkin aku berubah menjadi cantik. Tapi belakangan aku bertemu dengan direktur sekolahku. Dia bilang, ‘Mary, kau tidak jelek. Tapi kau punya banyak gagasan, sehingga kami menjadi takut.'”

Ia melanjutkan pendidikannya di University of South Florida, tapi hanya setahun. “Aku jatuh cinta pada pria berusia 38 tahun; mungkin karena aku tidak mengenal ayahku. Ia pergi ke New York. Aku ikuti dia. Waktu itu aku menganggap New York sebagai pusat dunia. Orang mondar-mandir  di sana, menjalankan mobil dengan cepat, tak peduli orang lain menjadi kotor terkena cipratan lumpur.”

Di New York Lauren bekerja sebagai pelayan di berbagai klab malam, menghadapi berbagai kesulitan hidup, sampai kemudian ia kembali ke tempat kelahirannya di Florida. Di sana ia membaca berita tentang benua Afrika, tentang hewan-hewan langka yang kian lama jumlahnya kian berkurang. Ia ingin sekali pergi ke sana. Pikiran itulah yang mendorongnya untuk kembali ke New York, dengan harapan suatu ketika ia akan bisa juga pergi ke Afrika.

Di New York ia mendatangi seorang mantan teman kerjanya di klab malam. Temannya inilah yang kemudian menyuruhnya mencari pacarnya, seorang pria bernama Arnie. Arnie  memuji kecantikannya, lalu memperlihatkan sebuah iklan . “Kau nampak seperti seorang model, pergilah ke alamat ini.”

Meski dengan perasaan penuh ragu ia akhirnya menemui Christian Dior. Di sana ia hampir diusir karena dianggap tidak sopan. Namun akhirnya ia bekerja di situ, dengan gaji 15 dolar seminggu. Suatu hari Lauren berkenalan dengan seorang pria bernama Bob Williamson, dan kemudian berpacaran dengannya. Di lain pihak, Christian Dior menawarinya untuk menandatangani kontrak kerja tiga tahun, dengan bayaran mulai 15 dolar seminggu, dan selanjutnya akan menjadi 115 dolar setelah ia bekerja tiga tahun. Bob Williamson menasihatinya, “Aneh! Kau seharusnya bisa menjadi foto model dengan penghasilan 50 dolar per jam; demi Tuhan.”

Pengetahuan baru itu mendorongnya pindah kerja ke tampat lain, yang akhirnya mempertemukannya dengan Dick Avedon. “Bulan November 1966, gambarku tampil di sampul majalah Vogue,” katanya. Kemudian gambarnya juga muncul di sampul majalah Mademoiselle.

“Para model Vogue waktu itu mendapat honor lima sampai enam ratus dolar seminggu, ditambah dengan penghasilan lain dari iklan, maka jumlah yang  mereka terima tergolong sangat banyak. Karena itu mereka bisa membeli pakaian seharga delapan ratus dolar. Aku sering menasihati mereka agar berhemat, dan mau membayar pajak. Sebelum membeli sesuatu aku selalu ingat: sepuluh persen untuk agen, 33 persen untuk pemerintah.”

Lauren Hutton bekerja sebagai model selama sepuluh tahun. “Aku memulainya sejak berusia 22 tahun. Kutandatangani kontrak dengan Revlon pada tahun 1974, ketika aku berusia 32 tahun.” Williamson selalu menjadi penasihatnya dalam mengambil keputusan. “Ia buta tentang dunia model, tapi otaknya sangat pintar dan pertimbangannya sangat masuk akal,” katanya.

Williamson pula yang mengajaknya ke Afrika setelah ia bekerja sebagai model selama setahun. Ia memang sudah lama ingin kesana karena tertarik untuk mengenal  penduduk asli di sana. Dan ternyata itulah yang menjadi minatnya sampai tua. Baru-baru ini, dalam usia 51 tahun, ia melakukan perjalanan ke New Guinea (Irian Timur) untuk membuat film seri tentang penduduk asli di negara itu, yang masih tergolong manusia-manusia primitif di bumi. Meski selama seperempat abad ia hidup di dunia barat modern yang maju dan mewah, perhatiannya selalu tercurah pada bangsa-bangsa terbelakang. Di rumahnya di Manhattan, ia mengumpulkan banyak perhiasan mereka, baik berupa gading, tengkorak , kerangka tubuh, dan lainnya.

“Aku tak pernah memproduksi apa pun seumur hidupku. Baru tiga tahun belakangan ini aku merasa bisa menghasilkan sesuatu. Sekarang aku telah menemukan jalan untuk tidak hanya keluar dari dunia model, tapi juga telah kutemukan jalan untuk mendidik diriku sendiri, untuk lebih melihat dunia dan untuk lebih bermanfaat bagi orang lain.”

Comments
One Response to “Kisah Para Model Dunia (4, tamat)”
  1. Cerita yang menarik sekali Om..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: