Terpuruk

Tsunami

Tsunami

Sejak bangsa Indonesia tertimpa krisis di penghujung abad 20, mungkin tak ada kata yang lebih sering dipakai daripada terpuruk. Harfiah, kata ini berarti terbenam, terperosok atau jatuh ke lubang, tersusup atau terjejal di antara himpitan, dan sebagainya. Begitulah keadaan bangsa sejak tertimpa krisis, dan sampai kini – hampir 10 tahun memasuki abad 21 – bangsa Indonesia belum juga bisa bangkit dari keterpurukan.

Orang yang terpuruk hanya menghadapi dua keniscayaan. Bangkit, atau menetap dalam  keterpurukan. Bangkit itu sendiri, juga bisa terjadi oleh tiga kemungkinan, yaitu oleh (1) kemauan, upaya, dan kemampuan diri, atau (2) karena uluran tangan orang lain, atau (3) dengan gabungan dari kekuatan diri dan bantuan orang lain, atau (4) dengan bantuan Tuhan.

Tampaknya, yang paling lazim terjadi pada manusia adalah hal ketiga. Tak ada manusia yang bisa mandiri seratus persen. Kemandirian adalah omong kosong! Bagaimana bisa dikatakan mandiri bila sang diri ini sejak awalnya dibentuk dari dua unsur (sperma dan ovum), yang percampuran keduanya juga bukan terjadi dengan sendirinya. Sementara itu, faktor ke-4, bantuan Tuhan, adalah sebuah faktor yang selalu menjadi pertanyaan. Bagaimana cara Tuhan membantu manusia bebas dari keterpurukan?

Tsunami Aceh

Musibah tsunami di Aceh adalah ‘dramatisasi’ dari keterpukan bangsa Indonesia. Tsunami adalah malang yang tak dapat ditolak dan segala kehilangan yang dibawa pergi olehnya adalah untung yang tak dapat diraih. Manusia yang menjadi korban maupun yang jadi ‘penonton’, mau tak mau, harus mengakui ketidakberdayaan diri. Korban tidak bisa bertahan, apalagi melawan keperkasaan alam yang selama ini selalu dianggap sebagai sasaran eksploitasi (pemanfaatan; pemerasan).

Kemudian, setelah tsunami berlalu, ‘meringkuk’-lah para korban dalam ‘lubang keterpurukan’ yang begitu dalam, dan kita tak punya ‘tali’ yang cukup panjang untuk diulurkan kepada mereka. Akhirnya, terpaksalah kita biarkan orang lain yang berlomba-lomba ‘memberikan pertolongan’, yang tentu tidak seluruhnya gratis.

Saya katakan bahwa bencana tsunami di Aceh adalah ‘dramatisasi’ dari keterpurukan bangsa Indonesia. Siapa yang melakukan dramatisasi itu?

Sebuah kisah digubah menjadi drama (sandiwara dsb) dengan menonjolkan atau membesar-besarkan segi-segi tertentu untuk mempengaruhi penonton, apakah membuat mereka jadi tegang, takut, sedih, atau geli dan sebagainya. Tapi idealnya sebuah drama, yang dalam bahasa kita adalah sandiwara (dari sandi yang berarti rahasia, dan wara yang berarti nasihat), haruslah merupakan rangkaian cerita yang mampu membuat penonton tidak saja terhibur tapi juga merenung. Tujuan dari sebuah drama, atau tontonan apa pun, pada hakikatnya adalah menyampaikan tuntunan. Dengan cara berpikir ‘orang beragama’, kita tahu bahwa dalam bencana dahsyat itu pastilah ada peran Tuhan. Tapi, apa gerangan maksud Tuhan dengan bencana tersebut?

Dengan mengalami serangkaian krisis yang membuat kita terpuruk, seharusnya kita sadar bahwa Allah sedang menuntun kita untuk mencapai suatu bentuk kesadaran tertentu, sebagai modal dasar untuk memperbaiki keadaan.

Tahukah anda apa gerangan yang dimaksud bentuk kesadaran tertentu itu?

Tulis jawaban anda melalui jalur komentar (comment). Sertakan alamat yang mudah dijangkau pos.

Setiap pengirim jawaban akan diberi imbalan berupa buku kecil berjudul Shalat Pake Dua Bahasa Boleh Ngga Sih?

Advertisements
Comments
2 Responses to “Terpuruk”
  1. sok teu 7 kliling says:

    bentuk kesadaran tertentu…
    contoh:
    kalau dari mulut saya keluar kata “dorong mobil” ..apa yg anda pikirkan/bayangkan? lambangnya bagaimana? lalu apa tindakan anda?
    nah..kalau anda sudah menjawab petanyaan itu..itulah kesadaran..mirip latah kali ye…
    kesadaran adalah masuknya informesion yg dilanjutkan dgn aksion. (pendahuluan psikolinguistik; lupa)

  2. Stop says:

    ayo segera bangkit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: