Kisah Para Model Dunia (3)

PARA MODEL TEMPO DULU

Di sebuah meja kecil di jalan masuk ke rumah Hannah Lee ‘Stokes’ di Cooperstown, New York, ada sebuah foto Hannah, hitam-putih, hasil karya De Meijan. Hannah mengenakan jaket dan baju Mariano Portuny, yang masih dipeliharanya meski sudah agak belel (pudar warnanya). Di dalam rumahnya sendiri ada lukisan George Washington dan beberapa anggota militer (pria) lain, yang di antaranya termasuk para kakek moyangnya. Berbagai medali yang mereka peroleh di masa Perang Saudara dibingkai dan dipajang tertata di dinding rumah itu. Tapi di situ tak ada satu pun medali milik Hannah Lee sendiri.

Namun ia mempunyai sebuah scrapbook yang merekam prestasi-prestasinya sebagai model, yang tergencet di dasar sebuah gudang kecil. Di dalamnya ada sebuah kliping berita dari harian New York tempo dulu, Telegram. Berita dalam koran ini menyebutkan Hannah Lee Stokes sebagai wanita terkemuka, menandai lahirnya wanita modern.

Ia adalah seorang model tempo dulu.

“Paman ayahku adalah Jenderal Wiliam Tecumseh Sherman. Kakekku dari pihak ibu adalah Jenderal Joseph T. Bartlett. Ayahku sendiri adalah seorang pengacara di Boston. Ia kehilangan harta warisannya karena membeli saham yang tidak menguntungkan. Setelah ayahku tiada, ketika umurku lima tahun, ibu membawaku serta kakak-kakak lelakiku ke New York. Ia membeli salah satu rumah indah di 109 East Fifty-fith Street. Ibuku memulai karier sebagai dekorator interior. Namanya adalah Berth Bartlett Sherman. Aku sekolah di Brearley, kemudian ke sekolah tingkat akhir di dekat Lake Geneva, Swiss.”

“Aku dibesarkan di zaman Prohibition (berlakunya undang-undang larangan penggunaan minuman keras). Kami menikmati pesta-pesta yang mewah dan indah. Para gembong perampok senang menghamburkan uang mereka. Masa itu adalah akhir dari suatu era. Pada masa itu kita kenal dengan setiap orang. Tapi kemudian segalanya berubah. Teman-temanku waktu itu akan jatuh pingsan bila ditanya ‘sedang apa kau?’.

Aku termasuk perintis. Aku tak mau hanya duduk-duduk, tinggal diam di rumah. Suatu hari Natica Nast, putri Conde Nast, mengatakan aku harus menjumpai ayahnya untuk mendapatkan sesuatu. Ternyata ketika aku datang Mr. Nast memberiku sebuah kantor. Ia bilang, ‘Tugasmu hanya menelepon teman-temanmu supaya mereka mendaftar ke Vogue.   ‘Aku melakukan pekerjaan ini selama seminggu. Setelah itu aku merasa jemu. Lalu kukatakan padanya, ‘Pak, majalahmu memang bagus, tapi aku tidak sanggup melakukan pekerjaan ini.’ Ia lalu menyuruhku menemui Mr Edward Steichen.”

Edward Steichen ternyata menyuruhnya berfose. Hannah bersikeras menolak, tapi Mr Steichen berkata seperti kepada anak kecil, “Kamu ikuti saja perintahku ya?”

Lalu ia pun menghabiskan satu rol film untuk memotret Hannah. “Setelah itu, aku langsung pulang begitu saja,” kenang Hannah. “Kemudian ia meneleponku, mengatakan bahwa Vogue membutuhkan diriku. Begitulah, akhirnya aku bekerja secara ekslusif untuk mereka, untuk Mr Steichen atau Gabor Eder, orang Hungaria. Mereka sopan dan sportif. Mr Steichen sangat manis.”

Sautu hari, Steichen berkata, “Sungguh tidak adil bila kau terikat pada Vogue.” Kemudian ia membuka lacinya, mengambil sejumlah surat dari berbagai perusahaan, antara lain dari Chesterfield Cigarettes, dan Coca-Cola. “Aku harus berikan ini semua padamu,” kata Steichen pula.

Waktu itu wanita masih jarang keluar rumah untuk mencari pekerjaan. “Memang sudah ada beberapa orang yang menjadi model, tapi mereka itu orang-orang panggung. Modeling adalah sesuatu yang sangat baru. Tapi segera menjadi populer,” tutur Hannah.

Hannah diajak John Robert Powers untuk membantunya memulai usahanya di bidang modeling. “Sebenarnya ibuku tidak memberi ijin, tapi dia pria yang sangat baik. Sayang kami tidak pernah menjadi teman. Bukan aku tak mau, tapi kami punya jalan berbeda.”

Powers tidak mendesak Hannah untuk bergabung dengannya, tapi ia mengatakan, “Kau memberi kesan glamor. Kau akan memancing orang lain.”

“Waktu itu ia hanya mempunyai tiga atau empat model sepertiku. Aku mengajak beberapa orang bergabung dengannya.”

Hannah menjadi finalis ketika Jean Patou datang ke Amerika mencari model. Ada lima ratus gadis mendaftar untuk dites, kemudian tersisa lima puluh, dan akhirnya hanya lima orang yang masuk final, termasuk Hannah. “Ibuku ngamuk. Ia bilang aku tak boleh jadi model. Tapi pamanku berhasil membujuknya. Dan ternyata pakaian rancangan Patou juga sangat bagus.”

Nama Hannah menjadi terkenal. Bayaran yang diterimanya pun terus naik. “Sejak awal sekali aku sudah menerima bayaran dua kali lipat yang diterima para model lain,” katanya.

Semula ia dibayar 20 dolar, kemudian menjadi, 40 dolar, akhirnya l00 dolar. Padahal pada waktu itu uang 5 dolar pun sudah termasuk besar! Dan Hannah suatu hari malah mendapat bayaran l000 dolar, karena nama dan gambarnya digunakan menghiasi sebuah papan iklan. Selain itu, para kliennya juga memberinya hadiah-hadiah kecil, seperti parfum dan perhiasan. “Perhiasan yang bagus, bukan yang murahan,” tegas Hannah. Bahkan bila ia datang menggunakan mobil sendiri, ia mendapat bayaran ekstra pula.

Akhirnya Hannah pun ke dunia periklanan. Namanya semakin terkenal, sampai mendapat julukan America’s Sweetheart. Ia bekerja untuk perusahaan apa saja, sehingga gambarnya terpajang di semua jalan raya. Bahkan di pesta-pesta gambarnya dipajang dengan diberi bingkai. Bila ia datang ke suatu tempat, orang selalu mengatakan, “Rasanya aku pernah melihatmu.” Tapi di antara mereka juga ada yang bergunjing, menggambarkannya sebagai wanita murahan.

Berkat menjadi model pula ia bisa berjumpa dengan para  bangsawan dan diplomat. “Aku menjadi favorit Mrs Cornelius Vanderbilt. Mereka mempunyai sebuah gedung besar di Fifty-first Street dan Fifth Avenue. “Dan tahukah anda? Di sana orang selalu dapat mengenaliku, karena di mana pun aku tampil, aku selalu menjadi orang yang termuda. Waktu itu umurku baru 20 tahun.”

Hannah berhenti menjadi model sebelum ia menikah dengan seorang senator pada tahun 1934. “Modeling sangat menarik. Mungkin aku akan terus menjadi model bila tidak jatuh cinta dan menikah,” kata Hannah.

Powers Girls

Kaum pria bukan tidak pernah terjun sebagai model. Di masa-masa awal, berkat usaha John Powers juga, cukup banyak pria yang menjadi model, di antaranya yang cukup terkenal adalah Fredric March, Henry Fonda, Tyrone Power, dan Brian Donlevy. Namun bagaimana pun, dunia model agaknya lebih cenderung menampilkan wanita. Kendati John Powers tidak berhenti menggunakan pria sebagai model, tapi ia sadar bahwa yang dibutuhkannya terutama adalah wanita. “Aku membutuhkan para gadis atau wanita yang dibutuhkan orang-orang periklanan. Dan ternyata tidak mudah untuk mendapatkan mereka. Gadis cantik banyak, tapi sedikit yang bisa menjadi model,” Kata Powers.

Wanita yang bergabung dengan Powers memang akhirnya menjadi terkenal. Mereka disebut sebagai Powers Girls. Di antara mereka termasuk para model top seperti Anita Colby, Helen Bennett, Kay Harnan, dan Muriel Maxwell. Juga termasuk para model yang kemudian menjadi aktris seperti Jennifer Jones, Gene Tierney, Barbara Stanwyck, Lucille Ball, Joan Caulfield, Jean Arthur, Ava Gardner, Lauren Bacall, Rosalind Russel, Norma Shearer, Joan Blondell, dan Paulette Goddard.

Powers Girls yang tidak menjadi warga Hollywood sering mempertahankan popularitas mereka dengan cara menjadi istri milyuner.

Di tahun 1935-an, John Powers dan sedikit orang lain yang menjadi agen model di New York hidup stabil, dengan jumlah model tak kurang dari 200-an orang, dan  yang terbanyak adalah wanaita. Honor mereka per minggu rata-rata 25 dolar. Ada juga yang mendapat 75 dolar, dan sekitar sepuluh orang ada pula yang dibayar 100 dolar.

Powers dikenal karena para model adi busana, tapi bisnisnya sebenarnya lebih luas. “Ada seorang gadis yang tugas khususnya adalah memamerkan topi,” tutur Bob Fertig. “Yang lainnya memperagakan pakaian anak-anak dan kosmetika. Power juga mengerjakan gambar-gambar untuk majalah.”

Pada masa itu, siapa pun yang mempunyai gadis cantik, anjing yang bagus, bayi yang lucu, akan mudah menjadi terkenal. Powers menjadi pemburu mereka. Ia hidup dari mereka. Dari para gadis yang siap difoto telanjang, untuk mengiklankan pakaian dalam,  obat penghilang bulu, deodoran, pakaian renang, dan sebagainya, ia mendapat uang lebih banyak.

Colby & Francine Caunihan

Salah satu mantan Powers Girls yang menikah dengan milyuner adalah Francine Counihan. Suaminya, Jack Okie, adalah orang penting di masa Perang Dunia Kedua, yang kemudian menjadi pengusaha internasional.   Di rumahnya di Rhode Island, di sebuah kamar kecil di lantai atas, Francine masih menyimpan album kenangan yang akan selalu mengingatkannya pada masa jayanya selama 13 tahun sebagai model bersama John Robert Powers dan Harry Conover. Di antara kliping yang dimilikinya ada sebuah foto dari majalah Life dengan artikelnya yang menyebutkan Francine sebagai salah satu dari sepuluh model Amerika yang berpakaian terbaik. Ada pula iklan Chesterfield yang digambar Bradshaw Crandall, juga foto Francine dengan rokok terselip di bibirnya, sebuah sampul dari Mademoiselle, dan lain-lain.

Di tembok juga terdapat sejumlah foto dan lukisan, yang di antaranya adalah karya kakaknya sendiri, Anita Colby, yang sangat dikaguminya. Ia mengatakan bahwa seandainya ia menjadi model lebih lama, mungkin ia bisa mendaapat uang lebih banyak dari kakaknya yang lebih termashur. “Tapi, ah, itu adalah kenangan ‘seratus tahun lalu’,” katanya mendesah.

“Waktu muda kami tinggal di Washington DC,” katanya pula. “Colby membuat desain, menggambar, dia merancang pakaian kami, yang kemudian dijahit oleh ibuku yang sangat mahir menjahit. Semula aku tidak begitu memperhtikan urusan pakaian. Tapi Collby mempengaruhiku. Ia membanggakan dirinya karena di mana-mana orang selalu memperhatikannya. ‘Kau akan sedih kalau orang tidak memperhatikanmu,’ katanya. Colby selalu berpikir ke masa depan. Bila dia duduk di satu tempat, pikirannya mungkin tak ada di situ. Sebuah departement store bernama Woodward and Lothrop di Washington menjadi tempat yang membentuk dirinya. Di situ ia menjadi model, dan mengembangkan seleranya sebagai model. Sejak muda Colby ingin bekerja, tapi aku tidak. Aku cuma berpikir tentang pesta dansa dan semacamnya.”

“Colby memulai kariernya pada tahun 1934 bersama Salter Thornton,” tutur Francine pula. “Mulanya adalah sebuah iklan di koran. Ibu lalu pergi mengantar Colby. Ketika orang-orang di kantor itu melihatnya, mereka berseru, ‘Ini dia!’ Maka, ketika Colby masuk, gadis-gadis lain pulang. Waktu itu Colby memang cemerlang, sangat cemerlang. Kemudian, ia bekerja, bekerja untuk pertama kali, bersama Harry Conover. Tak lama kemudian ia pindah bekerja ke tempat Powers. Meski Powers sudah punya banyak model, dalam tempo seminggu bekerja padanya, gambar Colby sudah ada di mana-mana; di majalah, papan iklan, dan banyak lagi.”

“Colby mengajakku pada taahun 1935,” tutur Francine. Sebenarnya Colby pun didorong oleh rekannya, Canover. Waktu itu usia Colby 19 tahun, dan adiknya setahun lebih muda darinya. Ketika melihat Francine, Canover berkata, “Kau gila bila tidak mau menjadi model. Dengan menjadi model, kau bisa dapat banyak uang.”

Meski honor model cuma rata-rata lima dolar untuk satu sampai satu setengah jam kerja, pada masa itu jumlah itu sudah tergolong banyak. “Maka aku pun menemui Powers. Ternyata ia sangat penuh perhatian, dan senang membantu orang mencapai sukses. Dia adalah pembangkit semangat yang hebat. Berkat dia, aku melakukan banyak pekerjaan modeling. Aku ikut berbagai fashion show, berfose untuk Sears, Roebuck, Vogue, Harper’s Bazaar, dan berbagai katalog. Aku pergi ke Kanada, Arizona, dan lain-lain. Pokoknya ke setiap tempat yang banyak uangnya.”

“Colby lebih glamor dariku. Bagiku glamor itu bagus, tapi aku lebih membutuhkan uang. Ia banyak bekerja untuk Vogue dan Harper’s Bazaar. Aku memburu yang lebih berduit, sedangkan dia mencari yang lebih bergengsi. Alhasil, aku mendapat banyak sekali uang. Lagipula, bukankah menjadi model itu untuk mencari uang? Aku punya apartemen berkamar tujuh di New York, dan aku mempunyai dua anak yang kusekolahkan di sekolah swasta. Aku menikah pertama kali tahu 1936. Setelah melahirkan anak perempuan, kira-kira delapan bulan kemudian, aku bercerai (tahun 1941).”

Setelah bercerai, Francine menjanda sekitar delapan tahun. Sedangkan kakaknya selalu bergaul dengan banyak pria menawan, namun hubungan mereka tak pernah lebih dari dua minggu. “Ia menginginkan pria yang bisa memimpin,” kata Francine.

“Sayangnya kebanyakan pria yang dikenalnya hanya seumpama anjing-anjing peliharaan. Ia sering mengatakan bahwa menikah itu tidak sulit, tapi mempertahankannya itulah yang sulit. Dan ia juga mengatakan bahwa ia cuma ingin menikah sekali seumur hidup.” Colby adalah seorang Katolik yang sangat fanatik. Ia akhirnya baru menikah dengan Palen Flagler, ketika usianya sudah 56 tahun!

“Aku masih ingat ketika Colby pergi ke pantai untuk pertama kali. Itu dilakukan dalam rangka pembuatan film Mary of Scotland. Bintang lainnya adalah Katharine Hepburn. Ketika shooting, sutradaranya mengeluarkan kata-kata yang tidak berkenan di hati Colby. Colby kemudian pergi begitu saja dari situ. Ia memang bukan bintang besar. Tapi kami dibesarkan dengan cara tertentu. Aku sendiri mempunyai peraturan ketat sebagai model. Fotografer tidak boleh masuk ke ruang ganti pakaian. Bila kukenang masa itu sekarang, aku merasa heran mengapa mereka bisa tahan dengan caraku itu.”

Mereka membintangi film Cover Girl pada tahun 1943, sebuah film yang diproduksi Harry Cohn. “Dia itu monster,” kata Francine. “Dia menempatkan kami, lima belas orang, dalam sebuah rumah, supaya dia bisa melihat bila ada salah seorang di antara kami yang keluar. Demikianlah, kami tinggal di rumah Marion D’Avies di California. Harry Cohn hanya membolehkan kami keluar rumah untuk belanja.”

Colby dan adiknya berteman dengan Cary Grant dan Barbara Hutton (istrinya waktu itu). Mereka sering mengadakan pesta makan malam, dan mengundang kami. Tapi Cohn selalu melarang kami pergi. Dia menempatkan polisi di pintu gerbang. Hanya Colby yang diijinkannya pergi. Dia mengatakan bahwa itu harus dilakukannya demi reputasi film yang dibuatnya.”

Tapi para gadis itu merasa ditantang. Mereka lalu mengakali sang produser dengan pura-pura minta ijin pergi belanja. Mereka pergi berdua-berdua secara bergiliran. Lucunya, mereka selalu mengaku kepada penjaga sebagai Anita Colby, karena ia boleh melakukan apa saja yang dimauinya. Ketika yang satu mengatakan pada penjaga, “Aku Anita Colby”, penjaga mengatakan bahwa Anita Colby baru saja keluar. Tapi ia dengan cerdik mengatakan, “Berani benar dia mencatut namaku!”

Ketika tiba giliran Francine, penjaga mengatakan, “Sudah ada enam orang yang mengaku bernama Anita Colby.” Lalu sang adik ini pun menjawab, “Kukira mereka takut pada seseorang, sehingga mereka menggunakan namaku. Lihat saja apa yang akan terjadi pada mereka bila Mr Cohn mengetahui hal ini.” Dan akhirnya Colby sendiri malah ditahan penjaga di pintu gerbang. Lalu Cohn pun muncul…

Selanjutnya Franine pun memprotes, “Ini sungguh ganjil. Orangtuaku sendiri pun tidak seketat ini. Aku tak mau tinggal lagi di sini.” Gadis yang lain pun sepakat akan pergi. Cohn mengamuk, menuduh Francine sebagai pengacau. “Ya, aku memang pengacau,” kata Francine, “dan aku akan terus menjadi pengacau selama aku tinggal di sini, kecuali bila kami diberi kebebasan.”

“Tapi dia sangat menyebalkan. Orang yang sangat angkuh. Waktu itu kami dibayarnya seratus dolar seminggu. Untuk selama sebulan kami bisa tahan, tapi bila harus tujuh bulan? Wah, amit-amit.”

Tahun 1949 Francine menikah lagi setelah melakukan perjalanan ke Eropa bersama kakaknya. “Kami menaiki kapal Queen Elizabeth bersama Rita Hayworth, seorang maharaja India, dan keluarga Churchill. Dalam perjalanan itulah aku bertemu suamiku. Dior dan banyak lagi perusahaan memintaku melakukan banyak tugas modeling, tapi suamiku tidak memberi ijin. Dia bilang reputasi mereka sangat jelek.”

Tapi Francine masih terus bekerja bersama Harry Conover beberapa lama. “Dia orang yang baik, benar-benar baik. Tapi suatu ketika, entah kenapa, peragenannya mengalami kekacauan. Ribuan dolar uangku tertahan. Ketika ia meminta catatanku, suamiku yang sudah sukses besar mengatakan, ‘Kenapa kaupusingkan lagi soal itu. Lupakan saja!'”

Dikerjai fotografer

Jauh sebelum Cindy Crawford,  Jean Patchett adalah model     yang menghasilkan banyak uang dari tahi lalat dekat bibirnya.  Ia lahir di Preston, Maryland, sebuah kota kecil di Eastern Shore, yang penduduknya cuma 395 orang. Seperti Colby dan Francine, ia juga memulai kariernya di dunia model bersama agen Harry Conover. Kini ia tinggal di sebuah lingkungan terhormat di pantai California, bersama seorang bankir yang menjadi suaminya.

Namun berbeda dengan Cindy, Patchett bukanlah orang yang sukses di bidang pendidikan. Setelah masuk sekolah sekretaris sebentar, orangtuanya memasukkannya ke sebuah perguruan tinggi, tapi ia tidak siap. Suatu hari teman seasramanya mengatakan, “Kau nampak begitu murung; kenapa tidak bekerja sebagai model saja di New York? Daripada melamun, lebih baik kau lihat wajahmu di cermin.”

Orangtuanya tak setuju ia menjadi model, tapi ia berhasil membujuk mereka. Bulan Februari tahun 1948 ia pergi ke New York. di sana ia tinggal di sebuah asrama putri milik gereja Methodist, menyewa seminggu 13,5 dolar. Ia membiayai sendiri foto-foto percobaannya, dan selanjutnya ia pun melenggang di dunia model.

Ia mendapat order pertama kali dari Mademoiselle, dengan honor 12,5 dolar per jam. “Setiap pekerjaan yang kudapat di Conover kudapatkan dengan usahaku sendiri. Caranya cukup dengan mengantarkan foto-foto percobaanku ke berbagai studio. Soalnya, Conover punya 500 gadis. Dia tak punya waktu untuk menaruh perhatian pada salah seorang di antara mereka,” kenangnya.

Bulan Maret 1948, selagi bekerja pada Ladies’ Home Journal, ia bertemu dengan Natalie, yang mengatakan padanya,”Kau lebih baik keluar saja dari Conover, lalu bergabung dengan Eileen Ford.”

Namun ketika bertemu Eileen Ford, wanita ini mengatakan kepadanya, “Badanmu sebesar kuda.”

Patchett yang beratnya 127 pon, langsung menangis. Tapi setelah itu ia pun bekerja keras untuk menurunkan berat badannya. Enam bulan kemudian, ia tampil menghiasi sampul majalah Vogue. Bulan berikutnya tampil pula di sampul majalah Glamour.

“Selanjutnya aku pergi ke Cuba bersama majalah Life. Gambarku tampil di majalah ini pada bulan Januari tahun 1949. Setelah dari Cuba, aku pergi ke Amerika Selatan bersama Penn,” tutur Patchett.

Bersama Penn pula ia pergi ke New York. “Tapi di sana aku cuma duduk-duduk. Aku bahkan belum tahu siapa sebenarnya orang ini. Kemudian kami pergi ke Lima, dan selama lima hari di situ ternyata tidak ada pula pengambilan gambar. Padahal waktu itu kami membawa 13 stel pakaian untuk Vogue Patterns. Aku jadi resah, karena kupikir mungkin wajahku sudah berubah menjadi hijau atau bagaimana. Kukira ia tidak menyukaiku. Kami bangun setengah enam tiap pagi, dan kemudian tidak ada apa pun yang terjadi. Dia tidak juga memotretku. Sampai suatu hari, ketika kami mengunjungi sebuah restoran kecil, di situ kulihat ada seorang pemuda sedang duduk, dan aku pun duduk sambil memegang segelas anggur.

Waktu itu kalau tak salah aku mengomel sambil menggebrakkan kaki di lantai. Kupikir memang tak akan ada pemotretan. Aku duduk sambil menggigiti kalung mutiaraku. Tiba-tiba Penn berteriak, ‘stop!’ Itu suara yang paling menakutkan yang pernah kudengar seumur hidup. Rupanya ia memang tidak ingin aku berfose seperti biasa. Ia justru ingin melihatku duduk seenaknya, sambil berbicara dengan seorang lelaki. Itulah rahasianya. sungguh menarik bila ini kukenang sekarang. Kami benar-benar membuat sejarah. Lima buah gambarku kini terpajang di Museum of Modern Art! Aku sungguh tak mengira hasilnya akan seperti itu.”

Penn adalah fotografer yang sangat teliti tekun. “Ia pernah memotretku 500 kali dengan satu stel pakaian. Itu dilakukan sehari penuh. Waktu di Lima, kami membawa 13 stel, dan ia memotretku 3200 kali! Aku tidak tahu foto model yang mana lagi yang siap melayani fotografer seperti dia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: