Kisah Para Model Dunia (2)

Kata Cindy Crawford kepada teman-teman sekolahnya, "Mereka akan berhendi mengolokku kalau mereka tahu berapa banyak uang yang didapat!"

Kata Cindy Crawford kepada teman-teman sekolahnya, "Mereka akan berhendi mengolokku kalau mereka tahu berapa banyak uang yang didapat!"

Setiap Gadis Ingin Menjadi Cindy

Musim gugur tahun l989, Cindy Crawford yang berusia 23 tahun dinyatakan majalah Vogue sebagai model top di antara yang top. Francesco Scavullo, yang membuat foto seksinya untuk sampul-sampul majalah Cosmopolitan, menyebutnya sebagai “divine” (wanita sangat cantik, dewi). Kecantikannya itulah, antara lain, yang menjadikannya sebagai model top. Dan ia mendapat penghasilan tambahan karena itu pula, misalnya dengan tampil di MTV dalam shownya sendiri, House of Style; dan menjadi bintang iklan minuman Jepang yang mewah. Cindy jelas tidak asing bagi para pembaca majalah Playboy, GQ, dan Sport Illustrated. Cindy menghiasi kalender yang dibuat produsen pakaian renang, poster-poster, dan banyak lagi. Bahkan kelompok musik Prince membuat lagu khusus untuk dirinya berjudul Cindy C.

Nama Cindy pun semakin melambung setelah ia berpacaran dengan aktor Richard Gere, dan dikabarkan segera menikah.

“Wanita cantik memang banyak,” kata Marco Glaviano yang memotretnya dalam pakaian renang untuk penghias kalender. “Tapi untuk memaksimalkan fungsi kecantikan dibutuhkan otak  yang cemerlang. Kebanyakan gadis-gadis cantik tidak menggunakan otak mereka. Khusus para model, mereka biasa mendapat gambaran bahwa para model itu wanita bodoh. Kenyataannya, modeling memang bukan bisnis yang sangat merangsang penggunaan otak. Gadis-gadis malang itu menghabiskan hari-hari mereka untuk memoles bibir dan berganti pakaian. Kemudian, perhatikan pula orang-orang di sekeliling mereka; para juru foto, termasuk aku, bukanlah orang-orang yang mempunyai prestasi intelektual. Demikian juga para editor mode; mereka cuma membaweli para model dengan ‘kuliah’ tentang panjang-pendeknya rok! Karena itu banyak wanita yang tadinya pintar pun berubah bodoh setelah menjadi model. Tapi Cindy tidak. Ia adalah wanita yang tidak takut menjadi pintar. Ini sebuah perubahan.”

Para model dan permodelan memang mengalami perubahan luar biasa sejak tahun 1923, ketika seorang ‘pensiunan’ aktor bernama John Robert Powers membuka agen model pertama di New York. Pada waktu itu honor model per jam adalah lima dolar. Kini penghasilan mereka jauh lebih besar. Revlon, misalnya, untuk kerja Cindy selama 20 hari membayar hampir 600.000 dolar (tahun 1989). Dan mungkin sejak kontrak pertamanya yang memakan waktu tiga tahun, Cindy telah membangun citra diri sedemikian rupa, sehingga selanjutnya harganya menjadi semakin tinggi. Cindy akhirnya memang menempuh suatu perjalanan karier yang sanggup membuatnya bergelimang kemewahan seumur hidup.

Gambaran tentang Cindy jauh berbeda dengan para model di masa-masa awal. Karier mereka umumnya berakhir saat berusia tiga puluh tahun, tanpa meninggalkan sisa apa pun, kecuali jika mereka cukup beruntung dengan mendapatkan suami kaya. Dulu mereka benar-benar dianggap boneka pajangan; tidak punya nama, dan hanya menjadi alat untuk menjual berbagai produk yang disediakan untuk wanita. Kini para model memang masih menjadi alat dagang, namun mereka sendiri menjadi produk yang penting. Lisa Fonssagrives, salah seorang model terbesar segala zaman, biasa menyebut dirinya sebagai ‘gantungan baju’, tapi gantungan baju itu kini telah menjadi lebih penting, lebih terkenal, dan lebih dicari dari sekadar lipstik dan desainer pakaian. Seorang model bahkan sering lebih kaya dari mereka, bahkan juga dari orang-orang yang membayar mereka.

Jadi, pada tahun 1989 itu, Cindy bukanlah lagi hanya seorang model, tapi supermodel. Sebutannya sendiri tidak baru (digunakan pertama kali tahun 1940-an oleh Clyde Matthew Desener, pemilik sebuah agen model kecil), tapi gengsinyalah yang baru. Pendahulu Cindy, seperti Dorian Leigh, pernah menjalani kehidupan jet set, bebas berkeliaran di masyarakat internasional, menjadi sumber berita dan membuat skandal di mana-mana. Tapi Cindy Clawford, Claudia Schiffer, Linda Evangelista, Naomi Campbell, Christy Turlington, Stephanie Seymour, dan Paulina Porizkova, semua telah menjadi jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri.

Mereka adalah perwujudan dari impian jutaan orang, gudang segala yang gemerlapan, yang sama besar pengaruhnya dengan para bintang film Hollywood di masa jaya mereka. Para supermodel tahun 1990an adalah jimat dan lencana bagi industri. Mereka bahkan lebih trampil dalam meniru dan menggunakan kiat-kiat penjualan.

Kendati mereka hidup dalam lingkungan yang nyata dibuat-buat, mereka adalah metafora bagi hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan seperti perdagangan, seksualitas, dan keindahan. Melalui penciptaan citra, para pedagang yang memanipulasi mereka dalam berbagai foto dan iklan (dan kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari mereka), membuat para model masa kini tidak hanya menjajakan pakaian dan kosmetika, tapi juga lingkungan psikologi dan sosial yang disebut sebagai “gaya hidup”.

Para desainer, juru foto, dan majalah mode mengarang cerita-cerita untuk menjual berbagai barang. Para model menjadi bintang dalam cerita-cerita itu. Alhasil, di satu sisi para pemuda remaja memuja dan ingin menjadi bintang olahraga, di sisi lain para remaja putri ingin menjadi Cindy, Claudia, dan Naomi, serta tampil sebagaimana mereka tampil di halaman-halaman majalah yang berkilauan. “Setiap gadis ingin menjadi Cindy,” kata pencari model Trudi Tapscott. “Dia tidak hanya cantik tapi juga cerdas. Dia kuliah, menjalankan bisnis, dan menikah dengan pria yang mereka anggap paling hebat. Dia adalah lambang ‘kesaktian’ wanita.”

Sayangnya, sedikit sekali yang bisa menjadi seperti Cindy. Kecantikan, tinggi badan, teknologi pemotretan, tidak menjadi jaminan bagi sukses di dunia modeling yang sangat penuh persaingan. Cindy bahkan menjadi bukti hidup bahwa kecantikan bukanlah modal utama untuk mencapai puncak dunia model.

“Cindy itu luar biasa agresif,” kata temannya, Mark Bozek, eksekutif mode yang ganti profesi menjadi produser televisi. “Ia selalu mencari tantangan, dan selalu menantang orang lain untuk memenuhi standar-standarnya.”

“Bila aku memberikan seratus persen, aku ingin orang lain juga demikian,” kata Cindy. Ia menerapkan prinsipnya ini sampai kepada sopir taksi, dan akibatnya ia menjadi sering kecewa sendiri karena banyak orang tidak memenuhi harapannya. Akhirnya ia lalu merasa bahwa segala sesuatu harus dikerjakannya sendiri, tapi karena itu ia justru terserang penyakit maag.

Hoare, seorang editor mode, membela sikap perfeksionis Cindy. “Semua juru foto menyukainya, karena  ia tidak sulit, tidak keras kepala. Ia sangat profesional, sangat bisa dipercaya, sangat baik. Ia selalu tepat waktu. Padahal kebanyakan model setaraf Cindy selalu bersikap seperti prima donna. Mereka selalu meremehkan orang.”

Cindy tidak seperti para model kulit putih yang mendominasi modeling 30 tahun sebelum dirinya. Waktu itu umumnya para model berlagak sopan. Bila diminta berfose setengah telanjang, mereka bersedia dengan syarat wajah mereka ditutup. Cindy justru menolak tawaran fotografer Bruce Weber yang memintanya berfose telanjang untuk desainer Calvin Klein tapi dengan wajah ditutup.

Ia tampil telanjang pertama kali untuk parfum Halston, keluaran Revlon. Kemudian gambarnya yang bertelanjang dada pun menghiasi majalah Italia, Max. “Sulit dipercaya bahwa mereka memuat gambar seperti ini di sampul,” kata Cindy dengan nada girang. Dan ketika foto-foto telanjangnya diributkan orang, ia mengatakan, “Itu kemauanku. Penilaian dan masalah orang lain tak akan mempengaruhiku. Dalam praktik, kadang sulit mengatakan tidak. Dan kalau aku berumur 50 tahun, aku akan sangat senang karena pernah membuat foto-foto demikian.”

Cindy selalu berusaha menang dalam suatu permainan yang ia tahu bahwa orang lain tidak akan menang. Di masa lalu sikap demikian itu akan menyebabkan seorang model bentrok dengan para agen. Tapi itu tidak terjadi pada Cindy. “Di samping kenyataannya ia sangat cantik, ia juga profesional,” kata Monique Pillard, direktur Elite Models, yang pernah menjadi manajer dan salah seorang pengantarnya menuju kemashuran. Monique juga menambahkan bahwa berbisnis dengan Cindy sangat menyenangkan.

Bukan karena tahi lalat

Cindy Crawford lahir tahun 1966, sebagai putri kedua dari sebuah keluarga buruh. Ayahnya kadang bekerja di pabrik pizza, kadang menjadi tukang listrik, kadang sebagai tukang kaca. Kedua orangtuanya bercerai ketika Cindy baru masuh SMA, dan ia mengatakan bahwa perceraian itu membuatnya sangat marah.

Meski masa kanak-kanaknya bahagia, ia mengaku merasa tertekan, terutama karena sikap ibunya. “Aku sayang pada ibuku, tapi tidak bisa menghormatinya,” katanya.
Di masa remajanya, meski ia selalu tampil cantik namun tak pernah menggunakan make up. Ia juta tidak tertarik membaca majalah mode. Apa pun yang berkaitan dengan mode tak pernah terpikir olehnya. Baru ketika ia duduk di SMP, sebuah toko pakaian memintanya ikut suatu fashion show, yang membuat para gadis lain merasa iri. Apalagi sejak saat itu bila membeli pakaian ia selalu mendapat potongan harga. Tak lama kemudian, seorang fotografer lokal memintanya berfose untuk sebuah koran sekolah. Saat itulah ia berkenalan dengan seorang ahli make up lokal, yang kemudian menganjurkannya tampil sebagai model untuk demonstrasi potongan rambut Clairol di Chicago. Cindy setuju karena dijanjikan akan mendapat hadiah liburan di luar Chicago.

Semula ia mendapat hambatan untuk terjun sebagai model karena mempunyai tahi lalat di dekat bibirnya. Beberapa orang penting dunia model menyuruhnya menghilangkan tahi lalat itu. Tapi Marie Anderson, seorang mantan asisten fotografer yang menjadi agen model pada tahun 1982 justru menganjurkan agar tahi lalat itu dipertahankan. “Suatu hari kau akan dikenal karena tahi lalat itu,” katanya.

Tapi ternyata pula bahwa ia menjadi terkenal pertama kali bukan karena tahi lalatnya. “Waktu itu aku tidak mempunyai pinggul, tapi punya payudara,” katanya. Itulah yang membuatnya terpilih untuk iklan-iklan pakaian dalam, yang justru ditolak oleh para model lain. Pekerjaannya pertama kali adalah mengiklankan bra untuk Marshal Field, sebuah departemen store. Ini menimbulkan keributan di tengah teman-teman sekolahnya. Tapi ia tak peduli. “Kalau kalian tahu berapa uang yang kuterima, kalian tidak akan menertawakanku,” katanya kepada para pengejeknya.

Yang menarik bagi Marie Anderson adalah cara kerja Cindy. “Sejak awal ia sudah profesional,” katanya. “Sejak awal ia sudah mengerti nilai dirinya, yang harus dijaganya supaya bisa dijual.”

Marie mengaku tumbuh bersama Cindy. Ketika ia menjual perusahaannya kepada perusahaan lain yang lebih besar, Elite, Cindy pun pergi ke New York.

Baru dua hari di New York, ia sudah menarik perhatian banyak orang, sudah bertemu dengan sepuluh fotografer top, termasuk Richard Avedon dan Albert Watson, tapi ia tidak terlalu bernafsu mengambil umpan yang berayun-ayun di hadapannya. Namun tahun itu juga ia mengikuti kontes Elite’s Look, dan berhasil masuk final. “Tapi aku gagal menjadi juara. Soalnya mereka menginginkan agar aku meninggalkan sekolah.”

Kebanyakan model seusai sekolah terus mencari pekerjaan di Eropa, walau di sana mereka bagai dilempar ke dalam kolam penuh hiu. Tapi itulah ujian yang sebenarnya untuk memasuki dunia modeling. Mereka tidak peduli walau pada tahap awal mendapat bayaran murah, karena bila bernasib baik, fotogenik, dan bisa mengembangkan ‘look’ tertentu, mereka akan tampil di majalah-majalah Eropa. Itu akan menjadi modal yang sangat berharga.

Tapi Cindy hanya bertahan seminggu di Eropa. Ia memulainya di Roma. Demarchelier, fotografer, memitanya untuk memotong rambut. Cindy menolak, tapi sang fotografer memaksanya, bahkan setelah dipotong rambutnya masih harus dicat. “Aku menangis,” kenang Cindy. “Selama dua minggu aku tak berani melihat wajah di cermin, sedangkan Demarchelier terus menertawakanku.”

“Melakukan kesalahan adalah pelajaran,” katanya pula. Dan ia menganggap suatu kesalahan bila para model setelah melakukan pemotretan kemudian pergi makan malam bersama fotografer. Ini pernah dilakukannya di Roma. “Waktu itu aku melihat seorang model duduk di atas meja, memakai rok, tapi tidak memakai pakaian dalam. Sedangkan para model yang lainnya semua duduk di pangkuan lelaki. Selanjutnya, bayangkan saja sendiri.”

Waktu di Paris, ia bertemu dengan empat orang gadis, calon model yang tidak bisa bahasa Prancis, ditinggal di sebuah apartemen kecil. “Di sana aku sendiri mendapat pekerjaan, tapi rambutku harus dipotong pendek. Kemudian aku mendapat tawaran kerja dari majalah Elle, tapi harus bertelanjang. Waktu itu aku berusia 19 tahun, dan itu merupakan minggu pertamaku di Paris. Jadi, bagaimana aku bisa menolak? Aku merasa dikerjai. Mereka memanfaatkan rasa tidak amanku, atau posisi lemahku untuk menolak.”

Karena pengalaman-pengalaman itu, Cindy pernah berpikir untuk mengurungkan niatnya menjadi model. Ia lalu menelepon ibunya untuk menanyakan tentang tawaran beasiswa yang pernah ditolaknya. Ia akan mengambilnya bila masih bisa. Tapi ia masih penasaran untuk menerima tawaran dari majalah Inggris, Vogue, yang akan memotretnya di Bermuda. “Di sana aku disuruh berbaring di papan luncur selama dua jam, dengan tubuh berbalut lumpur. Aku tidak bisa menolak.” Setelah itu ia kembali ke Amerika, dan terus menekuni kariernya di New York.

Ketika pertama kali tiba di New York, ia sering dibandingkan dengan model yang relatif sudah lebih terkenal, Gia Carangi, wanita biseks dan pecandu obat bius, yang kariernya cemerlang namun sangat singkat. “Waktu itu aku disebut Baby Gia, tapi jelas aku lebih sehat dari dia,” kata Cindy. “Dia liar. Seluruhnya bertentangan dengan diriku. Ia sering kali meninggalkan tugas hanya untuk membeli rokok, dan baru kembali beberapa jam kemudian.” Dan ternyata Carangi tidak berumur panjang. Tahun 1986 ia meninggal karena AIDS.

Seperti katanya, Cindy tidak pernah sama dengan Carangi. “Cindy tidak seperti para model umumnya,” kata Marco Glaviano. “Ia tidak genit. Itu menyulitkan dirinya pada tahap awal, tapi itu membuatnya tidak terbakar seperti banyak model lain.” Cindy agaknya tahu betul apa yang hendak dicapainya.

Cindy dan Richard Gere

Cindy pernah berpacaran dengan seorang agen bernama William Morris. Kemudian, pada tahun 1988 ia bertemu Richard Gere dalam suatu acara jamuan makan yang diadakan bagi Elton John di Los Angeles. Penyelenggara pesta ini adalah Herb Ritts, yang memuat foto-foto Cindy untuk Playboy.

“Gere mengubah Cindy,” kata Ritts. “Gere adalah pemuda yang matang dan cerdas. Mereka agaknya pasangan serasi.

Gere bagi Cindy cocok dalam banyak hal, termasuk karena popularitasnya menambah popularitas Cindy serta memacu momen­tumnya. Pada saat-saat awal hubungan mereka, Cindy sering ditemukan sedang membaca skenario film, bahkan kemudian mengikuti kursus akting. “Sebagai model, aku telah mencapai puncak,” katanya pada tahun 1989. “Selanjutnya mungkin akan kutemukkan karier yang lebih baik. Aku akan senang sekali bila bisa menampilkan sisi lain dari diriku.”

Tapi di Hollywood ia hanya orang baru. Orang yang hanya layak disebut calon aktris. Tentu saja ia ingin lebih dari itu. Dengan bantuan William Morris dan Richard Gere, ia berusaha menghindari perangkap-perangkap yang sering menjerat para model yang ingin menjadi aktris di masa lalu. Elite menawari peran dalam film berjudul White Orchid, tapi Cindy menolak karena terlalu banyak adegan ranjangnya. Kemudian datang tawaran untuk main dalam Beverly Hills Cop II. Di sini, antara lain ia harus melakukan adegan mencengkeram leher baju seorang pria sambil mengatakan, “Hei bajingan!” Lalu ia menarik senjata dari balik baju kulitnya. Cindy mengenang pengalaman itu sebagai sesuatu yang lucu. “Untunglah aku tidak harus hidup sebagai aktris,” katanya.

Sikap bebasnya juga tercermin melalui perahasiaan hubungannya dengan Gere. Meski banyak orang sudah tahu hubungan mereka, di depan umum Cindy hanya menyebut Gere sebagai “temanku dari LA.”

“Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari popularitas orang lain,” katanya. “Karena popularitas itu dulu bukan milikku. Ketika aku baru memasuki dunia modeling, tak ada orang yang mengenalku. Aku bukan putri siapa-siapa. Aku harus memperjuangkan segala yang kucapai sekarang. Aku tak pernah pergi ke klab dan muncul di keramaian. Bila dalam perjalanan kerja, aku tak suka keluar sekadar untuk makan malam. Ini tidak disukai para juru foto. Model harus jadi penghibur! Tapi bagiku, yang penting aku melakukan tugasku. Itulah yang mengesahkanku. Hubunganku dengan orang-orang adalah urusan pribadi.”

Ketika akhirnya Cindy dan Gere muncul bersama di depan umum, mereka melakukannya dengan anggun. Dalam acara pemberian Academy Award, kehadiran Cindy di sisi Gere bahkan hampir membuat pria di sisinya itu luput dari perhatian orang. Di satu sisi, popularitas Gere memang turut melambungkan kemashurannya, dan sebaliknya popularitas dirinya juga telah meningkatkan ketenaran Gere. Tak heran bila kemudian berdatangan tawaran bagi mereka untuk tampil bersamaa-sama. Namun mereka ragu, sehingga menampik tawaran dari majalah Vanity Fair untuk menjadi penghias sampul. Tapi akhirnya, berkat fotografer Ritts, mereka bersedia tampil bersama dalam sampul majalah Vogue. “Ini bukan sebagai move pemasaran,” kata Cindy.

“Kami tak pernah benar-benar membuat keputusan. Tapi setelah lama kami menghindari publikasi, cepat atau lambat kami harus tampil juga di muka publik. Lalu apa dampaknya bagi kehidupanku? Kukira tidak cukup berarti. Aku cuma mendapat banyak pertanyaan dengan Gere dalam setiap wawancara. Itu saja.”

Setelah itu ia memang jadi lebih banyak melayani wawancara. Fotonya juga kemudian banyak menghiasi Rolling Stone dan People, di samping Vogue. “Aku menganggap diriku berbicara pada generasiku,” katanya. Tapi peran barunya ini tidak selalu menyenangkan. Belakangan ia malah harus sibuk menepis gossip bahwa ia dan Gere adalah gay. Gossip ini memang telah lama beredar dalam berbagai versi, dan semula mereka tidak mau membantah atau mengiyakan. Kenyatanyaannya, mereka kadang bertindak kontroversial. Gere, misalnya, pernah menolah wawancara yang hendak mengungkapkan kecenderungan seksualnya. Cindy sendiri suatu ketika berfose bersama orang yang dikenal masyarakat sebagai lesbian.

“Dulu aku tidak mengeluarkan pernyataan. Justru itulah pernyataanku,” katanya tentang foto tersebut. Tapi kemudian, pada tahun 1994, ketika mereka di ambang perpisahan, agaknya mereka harus menimbang sikap mereka dulu.

Tanggal 6 Mei tahun itu The Times versi London memuat berita berjudul “Pernyataan Pribadi Richard Gere dan Cindy Crawford”.

“Tanpa sebab-sebab yang kami ketahui, akhir-akhir ini di Eropa beredar banyak sekali spekulasi tentang perkawinan kami,” demikian antara lain tulisan dalam koran tersebut. Dengan mengutip majalan Prancis, Vici, yang sangat ‘kasar, bodoh, dan penuh fitnah’, koran tersebut mengklaim bahwa Gere dan Cindy bercerai demi menerima kenyataan kecenderungan seksual mereka yang sebenarnya (bahwa mereka gay).

Untuk berita yang satu ini agaknya Gere dan Cindy merasa perlu memberikan tanggapan. “Kami ingin mengoreksi kepalsuan, dan ingin melegakan teman-teman serta para penggemar,” kata mereka.

Surat tanggapan mereka antara lain berbunyi:

“Kami menikah karena kami saling cinta…   Kami heteroseksual dan monogamis.      Kami tidak pernah membuat perjanjian tertentu  sebelum menikah. Berita tentang perceraian kami seluruhnya tidak benar. Kami ingin membangun sebuah keluarga…     Richard tidak meninggalkan kariernya… Kami akan terus mendukung perjuangan berat seperti riset tentang AIDS, kemerdekaan Tibet, hak-hak gay dan lesbian… Kami punyai hak asasi untuk menikmati privacy…

Tanpa spekulasi ini semua pun perkawinan itu sudah cukup berat. Pikiran dan kata-kata sangat   berpengaruh. Maka berbuatlah penuh tanggung-jawab,  penuh perhitungan, dan penuh kebaikan.

Bulan-bulan berikutnya, koran-koran terus mempertanyakan tentang hubungan mereka. Dan akhirnya, bulan Desember, mereka menyebarkan pernyataan singkat bahwa mereka memang telah berpisah pada bulan Juli.

Itu sudah cukup untuk membangkitkan kemarahan orang. Tapi Cindy tetap tegar. Atau setidaknya tampak tegar.

Advertisements
Comments
One Response to “Kisah Para Model Dunia (2)”
  1. Bob Damiano says:

    Thanks for this great post! It has been very helpful. I hope that you’ll continue sharing your knowledge with us.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: