Kisah Para Model Dunia

Ibu Daisy yang selalu tampil di televisi dengan berkerudung sebaiknya tidak membiarkan Manohara terjun ke dunia model lagi.

Ibu Daisy yang selalu tampil di televisi dengan berkerudung sebaiknya tidak membiarkan Manohara terjun ke dunia model lagi.

Dunia modeling menjadi jembatan yang mempertemukan Manohara Odelia Pinot dengan seorang pangeran kerajaan Kelantan. Ke dunia itu pula kelak – bila urusan hukumnya sudah ‘selesai’ – Manohara ingin atau diinginkan terjun kembali. Mengapa? Kisah para model kelas dunia berikut ini mudah-mudahan memberikan gambaran cukup lengkap tentang dunia modeling, yang aset utamanya tak lain dari para wanita muda dan cantik, yang dieksploitasi sedemikian rupa oleh mereka yang cerdik berburu duit.

***

Industri penyerap tenaga kerja?

Christy, Naomi, Cindy, Linda. Mereka begitu terkenal, sehingga tidak memerlukan nama panjang. Boleh dikatakan ke mana pun orang menoleh, gambar mereka terlihat. Mereka menjadi pujaan pria maupun wanita di seluruh dunia.

Obsesi dunia tentang para supermodel dikobarkan bukan hanya oleh wajah-wajah cantik. Di belakang sedikit wanita yang masuk kelompok ekslusif ini terdapat sepasukan besar para juru foto, desainer, penata gaya, agen, penulis, editor mode, dan ahli periklanan. Pendeknya sebuah industri yang menyerap banyak keahlian.

Dulu menjadi model sangat mudah. Asal punya wajah cantik dan siap difoto. Bahkan mempunyai seekor anjing atau bayi yang lucu sudah cukup untuk membuat seseorang terkenal. Itu terjadi di saat dunia modeling masih baru tumbuh. Tapi semakin lama persaingan menjadi semakin ketat. Modeling menjadi bisnis yang riuh, menggiurkan banyak orang yang mempunyai kepentingan beraneka ragam. Para gadis cantik pun terjun ke dunia modeling dengan membawa ambisi mereka. Untuk itu mereka siap mengorbankan apa saja, tapi ada pula yang masuk membawa suatu prinsip yang tak tergoyahkan.

Suatu malam di Milan

Milan, Oktober 1993. Waktu sekitar pukul tiga dini hari. Seluruh penjuru kota Milan nampak sepi mati. Tapi inilah awal dari suatu kemeriahan yang luar biasa di kota ini. Para desainer pakaian wanaita dari Milan, London, Paris, dan New York siap memamerkan karya-karya baru mereka kepada para calon pembeli dan pers. Acara yang berlangsung selama enam minggu itu bermula di sini, di Italia. Jadi, suasana sepi itu agak­nya hanya sebuah penyamaran.

Penyamaran itu akan semakin terbukti bila kita melihat ke pintu depan Nepenta yang juga kelihatan sepi dan dingin. Tapi di dalamnya, klab ekslusif ini justru mendidih. Malam ini adalah malam pertemuan para klan, pertemuan tahunan para ‘bangsawan’ fashion modeling, yang dilakukan begitu rahasia, sehingga tidak tercium oleh para wartawan dan juru foto Italia yang terkenal berhidung tajam dan selalu hadir di mana-mana.

Mereka menyebut malam itu sebagai Tartuffo Night. Para pengunjung klab mendapat kartu khusus dari bahan plastik agar dapat mengikuti pesta gila-gilaan yang bertabur pasta, mushroom dan sampanye ini. Mereka adalah para raja dunia model, para agen yang menggelindingkan bisnis ini, seperti tuan rumah, Riccardo Gay, seorang agen dari Milan; co-president Ford Models, Joe Hunter; direktur Elite Models, John Casablancas, serta rekan bisnis mereka dari seluruh dunia. Di sini tentu hadir juga banyak supermodel seperti Christy Turlington, Kate Moss, Karen Alexander, dan Naomi Campbell. Mereka dikitari oleh para tokoh permodelan yang lebih kecil, baik yang masih muda maupun yang tergolong bangkotan.

Di tengah mereka juga hadir makhluk-makhluk yang masih tergolong asing di dunia permodelan, makhluk-makhluk indah yang sering kali hanya menjadi mangsa bagi tuan-tuan besar di atas. Mereka ini adalah para model belia yang duduk di hampir semua meja. Di satu sisi, wajah dan nama mereka belum dikenal publik. Di sisi lain, mereka sendiri belum tahu apa-apa tentang permodelan. Mereka adalah para pendatang baru yang lugu, yang datang mungkin karena rayuan gombal para pencari model, atau karena mereka sendiri berambisi ingin terkenal dan kaya. Mereka tidak kenal Guido Dolce, yang menjalankan Italy Models dari Giorgio Sant’ Ambrogio. Mereka bahkan tidak tahu asal-mula bisnis ini. Tidak tahu juga tentang para model yang mendahului mereka. Mereka bahkan tidak tahu pula aturan main yang berlaku di dunia permodelan ini. Tapi siapa peduli? Pokoknya mereka sedang mengalami perubahan. Mereka saling pandang satu sama lain dengan mata terbuka lebar, berkhayal untuk menjadi salah satu di antara model besar, yang bisa minum sampanye bersama seorang bintang rock dunia sebagai pacar. Tapi saat itu mereka hanya bisa mendengar bahwa bintang model anu keluar, yang lain baru masuk, lalu berdansa dengan pria berambut perak. Mereka melihat menu tapi tidak tahu agenda.

Musik berdentum, sampanye mengalir. Bau belerang mengapung di udara yang sudah penuh dengan racun, obsesi, dan bahkan dendam.

Itulah bau sebuah pabrik, yang bahan bakunya adalah para gadis muda. Di antara mereka ada yang tampil dan menjadi terkenal. Tapi kebanyakan malah tak sempat muncul walau di permukaan saja, dan lenyap entah ke mana.

Dua pesawat

Permodelan hidup ‘menumpang’ pada dua ‘pesawat’ yang berjejer. Gambarannya adalah seperti laguna-laguna (lagoon, danau) di semenanjung Yucatan, Meksiko, yang menjadi tempat pertemuan air tawar dari daerah pedalaman dengan air asin dari lautan. Keduanya mengisi tempat yang sama, namun ada sesuatu yang memisahkan. Di Yucatan makhluk-makhluk air tawar berenang riang dalam satu lapisan air, sedangkan di lapisan yang lainnya hidup riuh makhluk-makhluk air asin.

Di lapisan teratas laguna modeling, berenang para supermodel seperti Naomi dan Christy. Sebagai makhluk-makhluk yang dimanjakan, mereka dikirim langsung ke air manis sukses, tanpa harus lebih dulu menggelepar-gelepar di air laut yang asin dan bergelombang. Namun hanya beberapa inci dari mereka, para pemula, serta orang-orang yang tidak pernah muncul ke permukaan, berenang di lapisan air yang keruh dan penuh bahaya.

Begitulah selamanya dunia permodelan. Pucuknya demikian cemerlang dan mewah. Namun bagian bawahnya rata-rata buram dan mengerikan. Hanya sedikit orang yang mampu mencapai pucuk piramidanya. Kebanyakan di antara mereka hanya bisa bergerombol di sekeliling kakinya. Mereka yang ingin menjadi model, dengan wajah kurang cantik, kurang tekat, dan kurang ketajaman naluri untuk memahami posisi mereka yang sulit, adalah makanan empuk dalam bisnis ini, di belakangnya beriringan banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk para bajingan, yang ingin turut mengeruk keuntungan, baik berupa uang atau keuntungan lain. Dari masa ke masa barisan mereka semakin panjang, sampai akhirnya tidak lagi kelihatan ujungnya.

Di antara mereka yang tergolong perintis, atau tepatnya pengekor awal, ada dua orang agen model yang mengakhiri karier di penjara, yaitu Harry Canover dan Walter thornton. Kedua tokoh ini disusul oleh satu generasi berikutnya yang bertekad membersihkan citra permodelan. Tapi seiring dengan kebangkitan mereka, tumbuh pula sekelompok orang yang sejenis dengan agen playboy seperti John Casablancas. Milyuner bernama Bernie Cornfeld, misalnya, mengaku, “Aku terlibat dalam bisnis permodelan karena di situ banyak gadis cantik.”

Dengan kata lain, banyak pemetik daun muda melihat permodelan sebagai ladang yang subur. Di antara mereka ada yang mendapat sorotan masyarakat, banyak pula yang luput dari perhatian siapa pun. Dan mereka yang terkena sorotan pun tidak lantas hengkang dari bisnis permodelan, tapi terus menyelusup bagai ikan lele menyelusup ke dalam lumpur.

Demi uang dan ketenaran, mereka rela menjadi 'produk' dari 'industri' bernama modeling.

Demi uang dan ketenaran, mereka rela menjadi 'produk' dari 'industri' bernama modeling.

Claude Haddad, agen Prancis yang menemukan, antara lain, Grace Jones dan Jerry Hall, pernah diekspose dalam acara televisi bernama “60 Minutes”, sehubungan tuduhan bahwa dirinya suka menodai gadis-gadis di bawah umur. Tuduhan ini memaksanya menutup usaha peragenannya, namun ia terus giat mencari model-model bagi banyak agen besar di Paris. Di antaranya adalah Karins, yang dikelola Jean-Luc Brunel, yang juga dituduh dan disiarkan dalam acara TV yang sama, sebagai pemerkosa para model setelah lebih dulu diracuni obat bius. Keduanya tentu saja membantah tuduhan-tuduhan tersebut.

Saat itu Jean-Luc Brunel menjalin hubungan bisnis dengan Eileen Ford, yang disebut-sebut sebagai godmother dalam bisnis modeling. Tuduhan tersebut merusak hubungan mereka. Ford memang dikenal sebagai salah seorang pembersih citra modeling dan memoles standar-standarnya, agar agen model dianggap sebagai pengusaha yang pemurah. Tapi taka lama kemudian muncul Elite’s Casablancas, agen model yang orang-orangnya meniduri pada model muda. Tapi Ford pun akhirnya ditinggalkan oleh para pekerja dan sekutu-sekutunya, karena mereka tahu sejak awal bahwa orang-orang Ford juga meniduri model. John Casablancas sendiri terus mengembangkan usahanya, sehingga menjadi perusahaan yang terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Landasan pendirian agency-nya hanyalah pembawaan dasarnya sebagai pria pemburu kepuasan seksual.

Lalu mengapa para model justru menyukai Casablancas? Soalnya, para model di masa itu adalah wanita duapuluhan yang cenderung bersenang-senang. Sedangkan Casablancas, selain suka bersenang-senang juga menggemari wanita duapuluhan! Lalu, apakah gerangan yang diketahui para model itu tentang dunia yang mereka terjuni? Dengan hanya memikirkan profesi, mereka lantas tidak mau terlalu peduli bagaimana bisnis modeling dijalankan. Mereka yang cukup peduli pun tidak bisa diharapkan untuk mengingat apa yang mereka ketahui dan saksikan.

Bagaimana pula keadaan para topmodel? Mereka boleh dikatakan para hakim terburuk. Dari dalam sangkar emas, mereka tidak mampu melihat isi perut permodelan. Sejak awal sekali, sejak seorang pekerja profesional modeling menjumpai seorang bintang berbakat, ia masih berkelakuan baik. Selanjutnya ia cepat berubah. Seks dan kesenangan mudah diperoleh dalam dunia model. Wajah sejuta dolar termasuk langka. Tubuh wanita cantik hanya bernilai beberapa dolar.

“Yang mereka lakukan hanyalah menjaga agar si wanita tidak ketakutan, sehingga ia tidak membatalkan niatnya menjadi model,” kata supermodel Cindy Crawford. “Memang benar bahwa kebanyakan model top tidak berurusan dengan para agen cabul maupun obat bius, dan sungguh menarik karena mereka cukup terjaga. Aku sendiri, untungnya tidak pergi ke Milan ketika berusia 16 tahun.”

Model setaraf Cindy tentu bisa mendirikan peragenan model, yang berarti menghasilkan banyak uang. Belakangan ini modeling telah menjadi bisnis internasional. Agen model milik Cindy, Elite, kini merupakan agen terbesar, dengan cabang-cabangnya yang tersebar di seluruh dunia. Beberapa di antaranya merupakan partner dari agen-agen lokal yang besar, berasosiasi dengan sekolah modeling seperti John Casablancas Center, dan lain-lain.

Elite konon bisa mengeruk hasil penjualan per tahun 70 juta dolar. Agen-agen besar lainnya di antaranya adalah Ford Models, yang sangat terkenal dan dihormati di dunia. Cabang-cabangnya terdapat di Paris, Miami, dan Brasil; IMG, yang bekerjasama dengan Mark McCormack’s International Management Group; Metropolitan yang membuking model berpenghasilan tertinggi, Claudia Schiffer, yang konon penghasilannya per tahun 12 juta dolar; dan Wilhelmina, milik Dieter Esch, yang pernah ditahan dalam penjara Jerman selama 8 tahun, karena kealpaan dan pemalsuan.

Para bintang modeling ini, baik yang cemerlang maupun yang berbercak, tidak semua menerangi agen-agen kecil yang ada di seluruh dunia. Beberapa di antaranya, misalnya Next di New York dan Miami, Karina di Paris, dan Fashion Model di Milan, hanya bekerja dengan jaringan-jaringan yang ‘tidak resmi’. Sedangkan yang lain lagi, seperti Company di New York, Riccardo Gay di Milan, dan Marilyn Gauthier di Paris, cukup kuat untuk berdiri sendiri. Di Pasaran internasional, mereka tetap bebas berkiprah, keluar-masuk berbagai asosiasi tak resmi dan agen-agen raksasa. Mereka ‘berjualan’ model seperti main kartu, sambil melompat satu ke tempat lain di dunia. Mereka mampir di suatu pusat mode, kemudian lari ke tempat pemotretan, singgah di Bali, terbang ke Seychelles Islands, dan begitu seterusnya. “Dunia ini memang kecil,” kata Kim Dawson, mantan model yang menjalankan peragenan di Dallas, Texas. “Gunung-gunungnya juga tidak tinggi. Anda bisa mendapatkan model di sembarang tempat, tapi anda harus selalu siap untuk mendapatkan ‘buruan’ yang benar-benar besar.”

Namun perburuan itu ternyata tidak begitu mudah. Para agen, kata Jeremy Fosterfell, hanya memiliki hak untuk membayar sewa. Meskipun mereka kadang berusaha mengikat aset mereka dengan kontrak, para agen, terutama yang kecil seperti Foster-Fell, yang mengaku sudah menekuni permodelan selama 25 tahun, tidak bisa secara pasti memegang para model dan booker.

Para booker memainkan peran penting, karena merekalah yang melakukan hubungan telepon, bernegosiasi, dan menyampaikan penugasan terhadap para model. Bagi para model sendiri, booker adalah orang penting, karena merupakan penghubung dengan agen, teman baik, bahkan pendeta. Pendeknya, bila booker mengatakan”berangkat”, model pun ikut.

Para agen (demikian sebutan mereka, meski resminya mereka adalah para manajer perusahaan) mendapatkan uang dengan beberapa cara. Sering kali mereka malah harus mengeluarkan uang lebih dulu. Ambil misal seorang model bernama Chandra, yang ditemukan di Omaha, Nebraska. Setelah orangtuanya mengijinkannya untuk menjadi model, ia diberi tiket pesawat ke New York, dan di sana ia ditempatkan di ‘apartemen model’ bersama seorang pembantu dan gadis-gadis lainnya, yang menempati satu kamar.

Dalam minggu-minggu pertama, Chandra dilimpahi pakaian baru, makeup, dan segala kebutuhan lainnya. Rambutnya pun dipotong seindah mungkin. Lalu ia diperkenalkan dengan para juru foto dan klien. Bila ia diyakini bakal mendatangkan keuntungan besar, yang artinya ia bisa menjadi model yang sukses, maka ia dikirim ke studio-studio top. Tapi sering kali ia hanya akan berjumpa dengan para kroco dunia model, seperti para asisten juru foto baru yang sedang mengincar lubang untuk memasuki bisnis modeling. Bila Chandra beruntung, salah seorang dari juru foto itu akan melakukan pemotretan percobaan. Chandra mendapatkan hasil karya mereka secara gratis, yang kemudian ditaruhnya dalam sebuah map, yang biasanya terbuat dari kulit atau plastik yang diberi stempel nama agennya.

Setelah Chandra mempunyai foto, yang dibuat semenarik mungkin, akhirya ia akan dikirim ke berbagai majalah mode. Cita-cita Chandra boleh dikatakan sudah tercapai bila ia sudah mendapati gambar-gambarnya dimuat di majalah mode berpengaruh seperti Harper’s Bazaar, Vogue, Glamour, atau Mademoiselle. Mereka membayar model paling sedikit sehari kerja seratus dolar. Tapi yang paling penting, dengan masuk di majalah-majalah tersebut ia berarti mendapatkan pengesahan yang akan membawanya masuk ke dunia komersial yang lebih menguntungkan. Bila ia tidak termasuk istimewa, ia akan terpuruk di majalah-majalah dan katalog-katalog non mode, namun tetap bisa mempunyai penghasilan 250.000 dolar setahun.  Semakin cantik wajah seorang model, semakin tinggi pula harganya. Uang terbesar biasanya diperoleh model melalui para penguasa pasar seperti Calvin Klein dan Revlon. Mereka merupakan klien-klien yang juga menguntungkan bagi para agen, di samping majalah-majalan pencetak bintang.

Para agen memperoleh keuntungan dari dua pihak. Bila Chandra mendapat pekerjaan dengan bayaran 1000 bolar sehari, sebenarnya yang dibayar klien adalah 1200 dolar, tapi dipotong untuk agen 200 dolar. Selain itu, agen juga mengambil komisi dari model. Umumnya sebanyak 20 persen dari honor mereka, tapi biasanya jumlah komisi ini tergantung kesepakatan. Para model yang sudah menjadi bintang biasanya lebih suka memanfaatkan agen-agen baru, yang tidak meminta komisi dari mereka. Tapi kadang-kadang model juga harus memberi komisi kepada ‘induk semang’, atau istilahnya mother agent, yaitu perusahaan yang menemukan dan menampilkan mereka pertama kali. Sebuah mother agent kadang minta uang jasa selama bertahun-tahun!

Para agen top seperti Fords atau John Casablancas, hidup sebagai orang-orang yang sangat kaya. Untuk mendukung citra mereka yang gemerlap, mereka terbang ke Eropa dengan pesawat Concorde, tinggal di Ritz Hotel di Paris, atau Four Season di Milan. Mereka juga selalu memakai arloji Rolex, dan mempunyai banyak rumah. Gaya hidup yang sangat mahal ini dibayar dengan kecerdikan, atau tepatnya kelicikan. Mereka hanya mengeluarkan sedikit uang untuk sewa kamar, membayar staf, dan sampanye. Selebihnya, semua ditanggung oleh para model, tanpa mereka sadari. Para model bahkan harus membayar bila mereka ingin ditampilkan dalam buku-buku promosi yang dibuat agen.

Tapi kembali kepada nasib Chandra; honor 1000 dolar itu hanyalah untuk satu penggunaan di suatu pasar dalam suatu masa tertentu. Bila gambarnya digunakan lebih lama, digunakan dalam label atau tas, digunakan di Amerika dan di Eropa, atau justru digunakan di seluruh dunia untuk selama-lamanya, maka dengan kerja sehari saja Chandra sudah punya tunjangan seumur hidup! Inilah barangkali yang menyebabkan banyak gadis cantik siap berkorban apa saja demi menjadi model terkenal.

Tapi itu belum cukup untuk menjelaskan mengapa lelaki seperti Esch, Cornfeld, Bob Zagury (seorang playboy dari Elite), Thiery Roussel (pewaris pabrik farmasi, dan mantan suami Christina Onassis), dan lain-lain menerjuni dunia modeling. Tapi tentu saja mereka mempunyai alasan.

Alasan yang pasti adalah uang.

“Dunia model dikendalikan oleh suatu kekuatan besar,” kata Foster-Fell. “Tapi agak sulit untuk mengesampingkan seks sebagai suatu motif, suatu kekuatan yang berpengaruh. Lelaki tertarik pada wanita, dan merasa iri kepada lelaki lain yang bisa menguasai wanita. Mungkinkah mereka mempunyai gairah yang sama terhadap perusahaan popok? Rasanya tidak. Kebanyakan pria yang menerjuni modeling mempunyai suatu komplex ROI. Bukan ROI dalam arti Return on Investment, tapi ROI dalam bahasa Prancis yang berarti raja.”

Begitulah agaknya jeleknya dunia modeling.

Namun sejelek apa pun dunia ini, Milan tetap lebih jelek lagi. Bila Cindy Crawford mengatakan merasa beruntung karena ia tidak pergi ke Milan pada saat masih berusia 16 tahun, maka Eileen Ford pun mengatakan, “Aku tidak mau ke Milan. Aku tidak suka Milan.”

Bila modeling adalah seperti yang dikatakan salah seo­rang anak Ford, sebuah dunia “pelacur dan mucikarinya”, maka di Milan mereka melakukan bisnis tanpa peduli hukum.      Di Milan, pertengahan tahun 1970-an, sejumlah calon model dihimpun di sebuah hotel yang dijuluki Fuck Palace (istana persetubuhan!), dan di sebuah rumah yang dijuluki Principessa Clitoris (!). Di Milan pula, pada awal tahun 1980-an, para model yang berdatangan dari segala penjuru dunia dijemput dari bandara dengan Rolls-Royce, yang dikemudikan para playboy yang memegang selusin mawar di satu tangan dan sekantong besar obat bius di tangan yang lain. Pesta Seks, pembunuhan calon model, saling bom antar agen, segala bentuk mafia modeling, juga berlangsung di Milan. Bila Eileen Ford mengatakan benci Milan, sebabnya tentukarena ia memasuki dunia modeling dengan niat yang bersih. Wanita ini lahir dengan nama Eileen Otte pada tahun 1922. Ia dibesarkan di North Shore, Long Island, kuliah di Barnard College di New York City, dan bekerja sebentar sebagai model. Ia bergabung dengan agen Harry Conover karena “Aku seorang mahasiswi yang hidup, dan karena Mademoiselle mempublikasikan sebuah peristiwa di kampus,” katanya. “Sebagai model, waktu itu aku mendapat bayaran lima dolar satu jam, yang menurut ayahku sangat mencurigakan. Waktu itu aku muncul menghiasi sampul Columbia Minerva Knitting Book. Anda tahu apa sebabnya? Karena di agen tempatku bekerja cuma aku seorang yang mempunyai sepatu luncur salju berwarna putih.”   Ia lulus dari Barnard College tahun 1943. Terus bekerja di dunia model, tempat ia bertemu dengan Jerry Ford, yang kemudian menjadi suaminya.

Selanjutnya di dunia modeling Eileen Ford dikenal sebagai wanita yang hebat dalam peragenan, Sehingga seandainya ia kehilangan buku alamatnya, ia masih bisa menjalankan bisnisnya dengan baik. Selain itu, ia adalah orang yang tepat pada waktu yang tepat. ***

[BERSAMBUNG]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: