Malaysia + RI – Ambalat = Perang Saudara (?)

Orang Indonesia yang menyukai wayang tahu betul istilah Bharata Yudha; yaitu sebuah perang yang melibatkan keluarga besar keturunan Bharata (Mahabharata), yang terbagi menjadi dua cabang Pandawa dan Kurawa. Lima bersaudara Pandawa, dengan Yudistira sebagai yang tertua, adalah wakil dari ‘golongan putih’ yang dianiaya dan diusir dari negeri sendiri oleh seratus bersaudara Kurawa yang mewakili ‘golongan hitam’, dengan Duryudana sebagai yang tertua. Dikisahkan oleh Abiasa dan para penulis serta dalang penerus pengkisahan Mahabharata,

bahwa perang itu demikian besar, mengerikan, memilukan, namun juga mengandung banyak pelajaran.

Di sanalah, di padang Kurusetra, pasukan kerajaan Astinapura (Kurawa) dan Amartapura (Pandawa) bertumbukan untuk saling bantai seganas hewan, dengan menggunakan berbagai senjata dan ilmu kesaktian. Tak jelas mana yang hitam dan mana yang putih. Semua sama punya tekad untuk saling memusnahkan. Dalam perang  campuh yang demikian seru, mata dan hati dilumpuhkan. Yang melek dan tampil perkasa hanyalah nafsu membunuh.

Dalam perang yang garang, semua harus dilupakan. Hubungan-hubungan darah, kakek-cucu, ayah-anak, paman-keponakan, kakak-adik, guru-murid, teman, tetangga, saudara seperguruan atau sesusuan, semua harus diabaikan. Bila ada sambung rasa di antara kedua pihak, rasa yang bersambung hanyalah kemarahan, kebencian, dan dendam.

Perang yang berlangsung berhari-hari akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Namun kemenangan itu tidak membuat mereka bahagia. Alih-alih bahagia, tokoh-tokoh Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) bahkan merasa ingin ikut mati bersama semua yang telah terbantai, tak peduli kawan atau lawan, karena mereka semua kenyataannya adalah saudara.

Bila ukurannya adalah persaudaraan; apakah persaudaraan berdasar keturunan atau kesamaan spesis sebagai manusia, Bharata Yudha adalah perang yang mengkhianati persaudaraan itu. Tapi, bila ukurannya adalah moral, perang itu memang harus dilakukan. Maka terkenal lah dialog antara Kresna sang penasihat Pandawa dengan Arjuna, penengah Pandawa, ketika Arjuna terpaksa harus tampil sebagai panglima perang. Arjuna cenderung enggan berperang karena yang harus dihadapinya adalah saudara sendiri. Tapi Kresna menegaskan bahwa saudara sendiri itu ternyata telah tampil mewakili ‘golongan hitam’, musuh kemanusiaan dan moral. Arjuna, anggota ‘golongan putih’, harus menghilangkan sikap sentimental, dan harus memunculkan sikap rasional yang berpihak pada moral.

Itulah, antara lain, nilai Bharata Yudha. Sentimen (rasa) persaudaraan harus dilupakan bila ternyata melindas moral. Maka, perang saudara pun harus dilakukan oleh ‘golongan putih’, bukan karena keserakahan, dendam atau kebencian. Perang itu harus dilakukan “demi tegaknya kebenaran”.

Dalam sejarah, bukan mitos atau dongeng, kita juga membaca banyak peristiwa perang saudara. Orang Kristen punya ratusan lembar dokumen yang merekam dampak peristiwa Reformasi di abad 16, yang menimbulkan perang saudara, dan memecah agama Kristen menjadi Katolik dan Protestan, dan seterusnya lahirlah puluhan sekte-sekte (mazhab).

Umat Islam sendiri juga punya banyak catatan tentang perang saudara yang tak kalah memilukan dan memalukan. Katakanlah mulai dari Muawiyah Bin Abu Sufyan, yang merebut kekuasaan dari Ali bin Abu thalib, sejarah umat Islam selanjutnya dilumuri warna merah darah yang tumpah dari perang saudara, yang akhirnya juga membuat umat Islam terpecah menjadi banyak mazhab.

Sukarno.

Sukarno.

Perang dan persaudaraan adalah dua hal yang berlawanan alias bertentangan (antagonistis). Perang saudara jelas merupakan bukti kemenangan syahwat perang atas ruh persaudaraan. Dan perang saudara yang terjadi di antara saudara seagama adalah bukti bahwa kebenaran ajaran agama telah ditekuk oleh kemurkaan sang nafsu, yang oleh Nabi Yusuf disebut sebagai “amat sangat mendesak manusia untuk bertindak buruk” (la-ammãratun bi-sũ’i).

Dikatakan pula oleh Nabi Yusuf (dalam surat Yusuf ayat 53) bahwa sifat nafsu yang demikian itu sesungguhnya dapat ditundukkan oleh rahmat Allah, yang bentuk nyatanya adalah agama. (Ingat bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad, dan para nabi yang lain, adalah sebagai pembawa rahmat – berbentuk agama – bagi seluruh manusia di alam ini).

Tapi, bila agama sendiri sudah tidak dianggap rahmat (harfiah berarti kasih-sayang), sehingga orang-orang seagama pun tidak malu-malu untuk melangsungkan perang saudara, lantas apa lagi yang bisa diharapkan tampil sebagai penakluk nafsu?

Tulisan ini dibuat sehubungan dengan maraknya api perang yang disulut di mana-mana, karena mendengar bahwa saudara kita sedarah (Melayu) dan seagama (Islam) berusaha mencaplok blok (kepulauan) Ambalat.

Peristiwa itu, terutama karena teriakan ganyang-ganyang-nya, mengingatkan kita pada kampanye Sukarno yang mengajak bangsa Indonesia berkonfrontasi (bermusuhan) dengan Malaysia karena hendak memasukkan Kalimantan Utara ke dalam wilayah kekuasaan Indonesia.

Dalam pandangan Indonesia, khususnya Sukarno waktu itu, pembentukan negara federasi Malaya (yang sejak september 1963 menjadi Malaysia) adalah perwujudan kolonialisme baru Inggris, yang tentu mengancam Indonesia. Karena itu, Malaysia (yang ketika itu dipimpin Tunku Abdurrahman) harus diganyang alias dihantam sampai bonyok.

Lindon B Johnson

Lindon B Johnson

Menurut Dokumen CIA yang diterbitkan Hasta Mitra tahun 2002, pemerintah Amerika Serikat (AS), dengan Lindon Johnson sebagai presidennya, berusaha keras untuk mencegah konfrontasi itu pecah menjadi perang. Lho, kok AS begitu baik? Ternyata tidak. Tak lama setelah itu AS pun sibuk berusaha menggulingkan Sukarno!

Konfrontasi RI-Malaysia itu sendiri baru berakhir pertengahan tahun 1966, setelah Indonesia selesai menumpas pemberontakan PKI. Indonesia mengakui hak Malaysia atas Sabah dan Serawak yang terdapat di Kalimantan Utara.

Selanjutnya, hubungan RI-Malaysia berlangsung baik, sebagai tetangga, saudara serumpun, dan seagama. Hubungan itu terganggu lagi ketika Malaysia mengklaim pulau Sipadan dan Ligitan, yang oleh pengadilan internasional kemudian diserahkan kepada Malaysia, karena sudah ‘memiliki’ (tepatnya menduduki) kedua pulau itu secara de facto.

Tepatnya Malaysia telah menduduki kedua pulau itu di tengah usaha-usaha diplomasi yang sedang dilakukan.

Kini, agaknya, Malaysia sedang berusaha meraih sukses kedua, dengan memanfaatkan keadaan bangsa Indonesia yang miskin, banyak pengangguran, dan hanya memiliki alat-alat perang yang rongsokan.

“Tapi,” tulis Anhar Gonggong dalam harian Media Indonesia (14 Maret), “selemah apa pun bangsa-negara Indonesia dewasa ini, mungkin masih ada yang akan dibangun dan dimilikinya, yaitu harga diri. Sejarah menunjukkan, ketika sebuah bangsa-negara berhasil membangun harga dirinya, maka ia mampu ‘membolak-balik dunia’.

Begitulah; seorang ilmuwan pun agaknya bisa jadi bombastis (muluk) karena pengaruh nasionalisme!

Padahal, sebenarnya, manusia tak pernah mampu membolak-balik dunia. Alam ini bergulir atas kehendak Allah. Yang sering dilakukan manusia adalah menjungkir-balik ajaran Allah, sehingga kebenaranNya yang mutlak pun menjadi relatif adanya. Jadi tergantung selera manusia.

Sekarang mari renungkan!

Yaa, oke! Berduel sekuat tenaga. Tapi ingat! Kalian bersaudara. Menang atau kalah, kalian sama-sama masuk neraka!

Yaa, oke! Berduel sekuat tenaga. Tapi ingat! Kalian bersaudara. Menang atau kalah, kalian sama-sama masuk neraka!

Dua negara bertetangga, sesama Melayu, sesama Muslim, akan berbaku hantam. Satu pihak mengandalkan persenjataan modern, dukungan sesama anggota Persemakmuran (Inggris, Australia, Singapura), dan nafsu untuk memperluas wilayah. Pihak lainnya, dengan segala kelemahannya, akan meracik segala masalah dengan sisa kekayaan bernama  harga diri, menjadi sebuah senjata pamungkas bernama “amukan”, untuk mempertahankan pelataran negeri bernama Ambalat.

‘Mahamelayu’ (keluarga besar Melayu) akan melahirkan ‘Melayu yudha’, perang saudara Melayu, yang juga berarti perang saudara Muslim. Bangsa Melayu yang sudah dipecah-belah oleh para penjajah Barat (Inggris, Portugis, Belanda, Spanyol, Amerika Serikat), kini sedang menindak-lanjuti usaha mereka untuk menciptakan perpecahan yang lebih parah.

Bila terjadi, entah berapa lama perang akan berlangsung, berapa ribu atau juta nyawa akan melayang, dan berapa luas kerusakan yang terjadi pada alam. Yang jelas, kedua negara yang sama-sama memiliki pepatah “kalah jadi abu memang jadi arang” ini pastilah keduanya menjadi abu dan arang. ∆

Catatan:

Tulisan ini dibuat pada April 2005, sehubungan dengan memanasnya hubungan RI-Malaysia karena masalah Ambalat, yang kini terulang lagi.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Malaysia + RI – Ambalat = Perang Saudara (?)”
  1. qw says:

    mencegah perang, mengarahkan perdamaian, berunding adalah salah satu bentuk kepribadian (bentuk diri) yg shaleh yg bisa menaikkan harga diri

  2. Harusnya pemerintah sadar, negara hanya maju kalau warganya punya rasa nasionalisme tinggi. Jadi jangan ‘bunuh’ rasa nasionalisme rakyat. Semua manusia itu bersaudara koq. Bukan cuma sesama melayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: