Rasulullah Dokter Ruhani Terbesar

Bicaralah  (tentang pengobatan) dengan dokter.  Ia  akan mengatakan  tentang perbedaan pengobatan untuk anak-anak,   orang  dewasa, dan orang tua. Obat dalam dosis (takaran) untuk anak-anak  tidak akan manjur untuk orang dewasa. Untuk  menentukan  resep pengobatan, sifat seorang pasien dan  lingkungannya  harus diperhitungkan. Orang-orang yang berpembawaan   tenang  harus diperlakukan berbeda dari orang-orang yang banyak mengeluh.  Mereka yang tinggal di daerah dingin  tidak  sama dengan   orang-orang  yang tinggal di daerah  berhawa  panas. Dokter  yang bertugas mengobati penyakit badani harus  memper timbangkan faktor-faktor ini.

Melalui gambaran di atas, cobalah memahami  penyakit-penyakit   rohani dan cara-cara pengobatannya. Sejak awal   penciptaan,   Tuhan telah mengutus rasul-rasul  untuk  mengobati rohani  kita. Tapi bila kita menganggap bahwa hukum di masa Adam  atau Nuh memadai untuk diberlakukan di sepanjang zaman, anggapan  itu keliru. Hukum yang disediakan Allah untuk  manu sia  di masa ‘kanak-kanak’ tidak bisa digunakan untuk manusia dewasa.     Keadaan setiap umur memerlukan pengobatan  berbeda. Bila resep diberikan tanpa mempertimbangkan perbedaan temperamen   dan   lingkungan, maka resep  itu  tidak    akan mujarab.

Sampai   masa Nabi Isa dan para rasul   sebelumnya, kecerdasan manusia belum   sepenuhnya   berkembang.[1] Hukum yang diberikan  kepada   mereka tidak akan cukup  untuk  mengatasi permasalahan  kita.  Memperhatikan perkembangan manusia  dari masa   ke   masa  dibutuhkan  untuk   menyediakan  hukum dan memahami kebutuhan  ruhani  manusia sepanjang  masa.  Hukum seperti  itu telah  diwahyukan  kepada Nabi Muhammad,  sang rasul  terakhir.   Setelah  kehadiran  Nabi  Muhammad,  Allah membatalkan   semua  hukum   agama  terdahulu.   Bila orang mempercayai Musa dan Isa tapi menentang kerasulan   Muhammad, itu berarti  mengakui  kehebatan   seorang   artis tapi membantah  peran orang-orang yang  membimbingnya. Imam  Ibnu Taimiyah dalam  bukunya,  Jawaban  Yang  Benar,  memberikan gambaran yang menarik:

Itu sama halnya seperti mengatakan bahwa Zifar bin  Al-Qasim  Mazini dan Asran adalah ahli hukum,  tapi Abu Hanifah,  Syafi’i, dan Malik bukan ahli hukum;  bahwa  Maliki dan Masihi, para penulis buku kedokteran, adalah para dokter, tapi  Hippocrates  dan Galen bukan dokter; Bahwa  Kusyia   dan Khulfi menguasai astronomi tapi Ptolemy tidak; bahwa  David, Ezekiel,  Habbakkuk  dan Daniel adalah rasul,  tapi  Muhammad bukan.  Kekeliruan orang yang mengatakan demikian itu,  serta ketidakcocokan  perkataannya akan lebih menakjubkan  daripada contoh-contoh di atas.


[1] Ini harus dibuktikan dengan hasil penelitian yang  cermat; jangan sampai memberikan gambaran keliru tentang perkembangan kecerdasan manusia. Perlu diingat bahwa tenggang waktu antara Adam  dan Isa sangat panjang, dan bahwa ‘guru’  manusia  yang pertama adalah Allah sendiri, dengan cara menjadikan para  ra sul sebagai penghubung, sebagai perantara, untuk menyampaikan ajarannya  kepada manusia. Pandangan bahwa manusia masa  kini lebih cerdas dari manusia dahulu berasal dari anggapan  bahwa kecerdasan  manusia  berkembang secara evolusi,  yang  dengan sendirinya  memandang  bahwa Allah membiarkan  manusia  hidup tanpa  bimbingan. Jadi, anggapan ini juga otomatis  menafikan kehadiran para rasul. (AH)

Advertisements
Comments
4 Responses to “Rasulullah Dokter Ruhani Terbesar”
  1. Maulana says:

    Ini menarik buat saya…..

    “Sampai masa Nabi Isa dan para rasul sebelumnya, kecerdasan manusia belum sepenuhnya berkembang”

    Apakah kecerdasan Nabi Adam A.S. belum sempurna???

    “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” 17:70

    ‘Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” ‘ 2:31

    —————————–

    Yang namanya “dokter” selain memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit, dia juga menganalisa penyakit tsb sebelum memberikan obat….
    Tercatat dengan rapihkah resep-resep penyembuhan penyakit rohani, analisa-analisa penyakit rohani dan obat-obatnya??

    Kalau memang tercatat dengan rapih….mengapa pengikutnya yang mempunyai penyakit rohani semakin banyak dan semakin akut penyakitnya??

    Malah kebanyakan umat memilih obat yang bukan “Dokter Ruhani Terbesar”…apakah resep2x, analisa dan obat ruhani dari “Dokter Ruhani Terbesar” sudah tidak manjur ????

    Mohon petunjuk pak Ahmad Haes, Terimakasih

    Let’s Thinking Clearly

  2. Ahmad Haes says:

    Untuk yang pertama, saya sudah sertakan tanggapan di catatan kaki. Untuk yang kedua, catatan resep itu hadir dalam bentuk mushhaf Al-Quran dan kitab-kitab Hadis, juga buku-buku sejarah. Bila itu semua dianggap masih kurang atau sudah tidak manjur, saya tidak tahu harus berkata apa.

  3. rika says:

    jadi iseng dg “dokter” dan “pasien” itu…
    secara ada milis kesehatan yang sy ikuti yg terus menasihati bhw, setiap resep yg diberikan oleh dokter… harus kita tahu obatnya apa, jadi kita tahu apa yang masuk ke dalam badan kita… sekarang yang jadi terlintas di pikiran sy tentang “dokter” dan “pasien” diatas.. sudahkah “pasien” tahu betul tentang “resepnya” jadi walaupun dia menolak atau mengatakan tidak manjur… atau obat (resep) itu ternyata tidak cocok berdasarkan pengetahuan, bukan dugaan saja… iseng lho.. piss ah 🙂

  4. Ahmad Haes says:

    Naaah! Itu jalan pikiran yang lurus Bu. Rasulullah sebagai ‘dokter ruhani’ itu adalah dokter yang jujur dan terbuka. Semua ilmu ‘kedokterannya’ diajarkan, resepnya ditulis dengan jelas (tidak menggunakan huruf cakar ayam!), obatnya juga disebut dengan jelas. Dengan begitu, ilmunya bisa dipelajari oleh si pasien, bukan untuk dikantongi si dokter sendiri.
    Begitu juga diagnosanya, selalu jitu. Misalnya ketika mendiagnosa orang yang pengecut, beliau mengatakan bahwa sakit pengecut itu terjadi karena cinta dunia dan takut mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: