Utopia

Man From UTOPIA, sebuah komik.

Man From UTOPIA, sebuah komik.

Utopia, dari bahasa Yunani, harfiah berarti tidak ada tempat. Selanjutnya, sebagai istilah, kata ini digunakan untuk menyebut pemikiran atau gagasan yang tidak bisa diwujudkan ke dalam kenyataan. Artinya menjadi muradif (sinoim) dengan impian atau angan-angan kosong.

Menurut Ensiklopedi Umum terbitan Kanisius, Sir Thomas More (1516) adalah orang pertama yang menulis buku berjudul Utopia, yang menggambarkan sebuah negara ideal (diangan-angankan), yang di dalamnya segala sesuatu diatur untuk kebaikan umat manu-ia. Tak ada kejahatan, kesengsaraan, kemis-kinan, kesedihan, dsb. Buku itu sangat terkenal dan disukai, tapi juga disayangkan karena hanya berisi mimpi. Selanjutnya, segala rencana negara semacam itu yang diciptakan oleh para pemikir kemasyarakatan dan para pemimpin secara umum diberi nama (tepatnya diejek sebagai) utopia.

Tersebutlah buku Republic karya Plato (427-347 sbM), sebagai salah satu karya besar di zaman kuno yang mendahului gambaran negara utopia itu. Berikutnya, setelah buku Utopia, adalah City of God (Kota Tuhan), karya Santo Thomas Augustine; The City of the Sun (Kota Matahari), karya Campanella (1623); The New Atlantis (At-lantik Baru), karya Francis Bacon; Oceana, karya James Harrington (1656); Looking Backward (Menengok ke Belakang), novel karya Edward Bellamy (1888); News from Nowhere (Berita dari Antah Berantah), karya William Morris (1891), dan entah apa lagi.

Buku UTOPIA karya Sir Thomas More.

Buku UTOPIA karya Sir Thomas More.

Tidak ada yang berani secara terang-terangan menyebut Nabi Muhammad yang mengajarkan Al-Qurân, sebagai salah satu pengkhayal negara utopia itu; karena negara ‘ideal’ yang didirikannya pada tahun 622 M, dan dipimpinnya selama sepuluh tahun, benar-benar terbukti pernah ada. Tapi, bila cerita tentang negara itu – Al-Madïnatul-Munawarrah – kita bawa ke forum-forum diskusi, seminar, dan sebagainya, maka komentar-komentar, celetukan-celetukan bahwa ne-gara tersebut adalah negara utopia, akan selalu kita dengar. Padahal dalam forum-forum itu mereka bicara tentang masyarakat Madani, dan menyinggung atau bahkan mendalami sistem pemerintahan Islam, yang mau tak mau harus menyinggung sistem pemerintahan yang pernah diterapkan Sang Rasul. Tapi, agaknya, mereka mengajukan hal itu ha-nyalah untuk menegaskan bahwa itu hanya sebuah dongeng; dan karena itu siapa pun yang mengajak untuk berusaha merekonstruksi (membangun ulang) apa yang pernah dilakukan Sang Rasul, berarti mengajak terjun ke alam mimpi.

Bahkan, lucunya, bila kita coba bersikeras mengajak, mereka akan menuduh kita sebagai manusia ahistoris (buta sejarah, dan karena  itu   otomatis  menjadi  tidak  pernah bercermin pada sejarah). Padahal, data tentang apa yang pernah dilakukan Sang Rasul demikian melimpah ruah (abundant). Pertama, datanya yang paling asli (authentic) terdapat dalam naskah (document) bernama Al-Qurân. Kedua, data-data pendukungnya ada pada kitab-kitab hadis dan buku-buku sejarah.

Pada saat para ilmuwan sejarah memasukkan dokumen sebagai salah satu unsur penting dari ‘kebenaran’ sejarah, mengapa tuduhan ahistoris dilontarkan pada kita yang mengusung data berupa Al-Qurân dan hadis?

Para pengkaji sejarah umumnya memang lebih suka berenang-renang dalam lautan dokumen karangan sesama mereka (para ahli sejarah). Maka, tak perlu heran bila mereka begitu fasih, bergairah, bangga, bahkan sombong ketika mengutip sabda si Anu yang mahapintar, atau buku berjudul Something New yang berisi tinjauan paling cerdas. Tapi, ketika bicara tentang dokumen-dokumen otentik warisan Sang Rasul, mereka gagap. Lalu meluncurlah berbagai kalimat pembelaan diri (apologis) bahwa mereka bukan lulusan pesantren, tak tahu bahasa Arab, dsb. Bahkan, ganjilnya, mereka yang lulusan pesantren, pernah kuliah di Timur Tengah, sangat fasih berbahasa Arab, juga tampil minder di tengah orang-orang yang berapi-api dan siap tempur (militant) dalam memperjuangkan pluralisme, sebuah konsep yang sedang trendy karena dianggap sebagai jurus perdamaian mutakhir, setidaknya untuk memecah kebekuan hubungan antar agama (dan selanjutnya menciptakan kecairan yang semu dan pura-pura).

Tak kalah lucunya adalah perdebatan dikothomis tentang Islam politik dan Islam kultural (yang belakangan mampu membelah NU jadi dua). Pihak yang cenderung pada Islam politik mendirikan partai Islam yang menjual syari’at Islam. Pihak lainnya condong pada Islam kultural, dan tentu saja anti pada partai Islam. Mereka bilang, di Timur Tengah pun partai Islam tidak laku; yang laku di sana adalah semboyan Nurcholis Madjid yang diluncurkannya tahun 1970-an: Islam yes partai Islam no!

Bangsa Arab tak suka partai Islam, kata seorang teman. Teman dari teman saya itu, orang Arab, mengatakan bahwa partai Islam lebih beruntung di Indonesia, karena di sini (setidaknya sejak heboh reformasi) partai-partai Islam bisa bebas bermunculan.

Namun, kata teman saya pula, bebas bermunculan bukan berarti diterima dengan gairah oleh masyarakat. Bahkan, Partai Keadilan Sejahtera pun bisa jeblok seperti Partai Bulan Bintang, bila yang ‘dijual’ dalam kampanye adalah syari’at Islam. Hanya berkat kebaikan Muhammad Qodari (direktur Lembaga Survei Indonesia), yang terus menginformasikan kepada PKS bahwa rakyat Indonesia tak butuh syari’at  Islam, maka suara PKS dalam pemilu 2004 bisa melonjak sekitar tujuh kali lipat dari perolehan pada tahun 1999.

Obama, utopia jadi nyata?

Obama, utopia jadi nyata?

Bahkan sesuatu yang sangat lucu pun terjadi pada Partai Demokrat. Sekali peristiwa, para pengurus partai itu dibuat ‘kebakaran jenggot’ ketika muncul black propaganda (semacam fitnah) yang menyebut partai mereka mendukung pemberlakuan syari’at Islam! Pada saat yang lain, ketika muncul ‘tuduhan’ sebaliknya, yaitu bahwa mereka menolak syari’at Islam, mereka panik pula! Sibuklah calon presiden mereka, SBY, bersilat lidah melakukan berbagai ‘klarifikasi’. (Belakangan muncul pula dugaan bahwa desas-desus demikian itu diciptakan oleh mereka sendiri, untuk menambah popularitas Partai Demokrat serta calon presidennya!).

Jadi, agaknya, citra syari’at Islam lebih merupakan hantu ketimbang malaikat penyelamat. Syafi’i Anwar, direktur eksekutif ICIP (International Center for Islam and Pluralism) mengatakan kepata majalah Syir’ah (Juni 2004), survei The Asia Poundation membuktikan bahwa masyarakat yang menginginkan syari’at Islam hanya 3%. Majalah yang sama pada edisi berikutnya (Agustus) bahkan menampilkan laporan utama berjudul Partai Islam Menuju Sekuler. Di situ dimuat antara lain wawancara dengan Arief  Budiman, yang mengatakan bahwa pada dasarnya orang Indonesia memang sekular!

Sejak Pemilu 1955, partai-partai Islam memang tak pernah menang. Dengan meninggalkan jualan syari’at Islam, PKS telah mengambil pilihan yang benar. Pilihan historis. Tepatnya historis pragmatis, dengan mengambil konteks perpolitikan Indonesia, dan kecenderungan bangsa Indonesia yang katanya sekular itu.

Dalam bahasa Nabi Muhammad, bersikap sekular (dari bahasa Latin saeculum, dunia) itu sebenarnya hubbud-dun-ya (حبّ الدنيا), cinta dunia. Pasangannya adalah karãhatul-mauti (كراهة الموت), benci atau takut mati. Cinta pada sesuatu yang pasti ditinggalkan, dan benci pada sesuatu yang pasti ditemui tentu merupakan sikap yang sangat memprihatinkan (ironis). Tapi itulah kenyataan manusia secara umum, bukan hanya bangsa (muslim) Indonesia. Dalam konteks perpolitikan, cinta dunia tak lain adalah keterikatan pada status quo. Takut mati berarti tak mau kehilangan segala kenikmatan yang diperoleh dari status quo tersebut. Di sini lah kita bisa melihat ‘peta’ yang jelas mengapa tawaran syariat Islam itu menjadi sesuatu yang mengerikan  (monster).

Lalu, dalam konteks apa kita akan menawarkan Al-Qurân, sesuatu yang bahkan lebih asing dari syari’at Islam (fiqh)? Dalam konteks apa kita akan menayangkan jalinan sejarah para rasul, supaya bisa diterima orang banyak? ‘Bahasa’ apa yang harus kita gunakan, supaya bisa dipahami banyak orang? Haruskah kita mengubah ajaran Allah itu menjadi sesuatu yang lentur (elastic), sehingga bisa berkompromi dengan kebutuhan manusia zaman ini?

Kompromi adalah tuntutan manusia di setiap zaman. Dalam istilah jalanan, ketika polisi nakal bertemu pengendara sial, kompromi itu disebut ‘damai’. Damai tapi gersang, kata sebuah syair lagu tahun 1970-an. Bisakah timbul damai dari sebuah pelanggaran hukum?

Bila anda cukup mempelajari filsafat, anda akan tahu bahwa Hegel adalah guru besar yang mengajarkan kompromi sebagai hukum alam, sehingga manusia tumbuh menjadi makhluk yang kompromistis. Hidup manusia, kata Hegel, adalah lingkaran (siklus) dialektika. Pada suatu masa, timbul sebuah tesis (konsep awal). Tak lama kemudian, muncul antitesis (konsep kedua yang menentang konsep awal). Kemudian, tesis dan antitesis dikompromikan (diaduk). Lahirlah (adonan) sintesis sebagagai konsep ketiga. Selanjutnya, sintesis itu pun menjelma menjadi sebuah tesis baru, yang melahirkan antitesis dan sintesis pula. Begitu seterusnya, tak ada hentinya. Manusia berpusing dalam putaran dialektika: tesis-antitesis-sintesis, tesis-antitesis-sintesis …

Hegel (1770-1831) dipuja dunia sebagai guru dialektika. Tapi benarkah konsep dialektika itu merupakan gagasan murni Hegel? Bukan!  Jauh-jauh hari, dalam Al-Qurãn, Allah sudah menegaskan bahwa setiap rasul, yang membawa sebuah ‘tesis’ (= risãlah dalam bahasa Arab), selalu dibuntuti oleh para setan, yang membawa ‘antitesis’ bagi ‘tesis’ rasul. Selanjutnya manusia, melalui proses tu’minûna bi-ba’dhin wa tak-furûna bi-ba’dhin (mengambil sebagian ‘tesis’ Allah, sambil mencampakkan sebagian lainnya), mengaduk konsep Allah yang bernilai haqq (benar) dengan konsep setan yang bernilai bãthil (pembatal konsep yang benar), untuk melahirkan sebuah sintesis. Kemudian, sintesis itu, yang dalam bahasa Nabi Muhammad disebut bid’ah, diteriakkan oleh mereka sebagai ajaran Allah (hãdza min ‘indillah!).

“Begitulah manusia,” kata Allah dalam surat Al-Isra, “selalu menda’wahkan konsep mereka yang syarr (buruk) seolah-olah itu merupakan konsep yang khair (baik). Pada-hal, itu hanya membuktikan bahwa mereka ‘ajulan

Harfiah, ‘ajulan berarti ceroboh, atau tergesa-gesa, atau grasa-grusu. Dalam konteks perjuangan untuk menegakkan suatu gagasan, ‘ajulan adalah kecenderungan mengambil jalan pintas, atau kecenderungan mengabaikan proses. Dengan kata lain, ‘ajulan adalah sikap tidak sabar (inconsistent) dalam menempuh jalur perjuangan yang telah digariskan Allah.

Para rasul Allah, di masa hidup mereka, juga selalu diajak berkompromi. Manusia yang menjadi sasaran da’wah mereka selalu menghadang dengan berbagai isme yang merupakan antitesis bagi ajaran Allah. Nabi Nuh pernah dibujuk orang-orang kaya untuk mengajar mereka, tapi dengan syarat Nabi Nuh mau menyingkirkan orang-orang melarat yang sudah lebih dulu menjadi pengikutnya. Nabi Muhammad pun pernah ditawari harta, wanita, dan tahta. Namun, satu hal yang kita tahu tentang para rasul Allah adalah: mereka lebih tertarik pada janji Allah daripada fasilitas yang ditawarkan manusia.

Termasyhurlah kata-kata Nabi Muhammad di hadapan Abu Thalib yang menyampaikan ajakan kompromi itu, “Paman! Seandainya mereka melatakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku berhenti menyampaikan kebenaran, aku tak akan berhenti …!”

Pada mulanya, di tengah manusia yang sedang asyik berpesta pora, mabuk berbagai isme, janji Allah itu memang seperti tawaran mimpi. Utopis. Tapi, bagi para nabi yang telah muak menyaksikan isme demi isme tumbuh menjadi hutan beton, yang tentu tak berdaun dan tak berbuah, janji Allah adalah tawaran yang sangat menarik. Apalagi setelah Allah, melalui wahyunya, mengajak mereka menyelami lautan isme-isme itu, dan di dalamnya ternyata hanya terdapat mutiara-mutiara curian yang ditabur secara tak keruan.

Semakin diresapkan ke dalam kesadaran melalui shalat malam yang kadang membuat kaki bengkak, semakin diperbandingkan dengan kenyataan yang penuh kebenaran semu,  wahyu itu pun membentuk sebuah visi yang tajam; yang mampu menayangkan kenyataan yang jauh menjadi nampak seperti ada di balik kaca. Sejak itu, mereka menjadi tidak pernah ragu untuk mematuhi segala bimbingan Allah, menjadi tak pernah takut menghadapi segala rintangan.

Sebaliknya, orang banyak yang oportu-nis, hanya menanggapi wahyu sebagai sebu-ah panggilan dari jauh (ينادون من مكان بعيد), yang suaranya hanya sayup-sayup sampai. Atau bahkan suara itu tak pernah sampai, karena di telinga mereka ada sumbatan (فى أذانهم وقر).  Maka terus asyiklah mereka dalam kehidupan   nyata   yang   serba   nikmat;  tak peduli walau untuk itu mereka harus meng-injak kepala orang lain.

Alhasil, para oportunis (pelaku aji mumpung) itu jadi cenderung meremehkan ‘impian’ yang ditawarkan wahyu; karena mereka takut sebuah impian akan membuat mereka kehilangan uang, wibawa, jabatan, teman, dsb.

Hanya para motivator yang memahami bahwa di dunia ini tidak pernah ada pencapaian (prestasi) tanpa diawali mimpi. Mereka ingin para generasi muda menciptakana masa depan lebih baik. Maka mereka meyebut pesawat terbang, terowongan kereta api yang menghubungkan Inggris dengan Prancis, kabel-kabel telepon yang menjamin percakapan antar benua, yang sekarang bahkan sudah digantikan oleh telepon tanpa kabel, dll. Semua bermula dari impian, dari angan-angan; dan semua bisa  diwujudkan di bumi, karena bahan-bahannya memang disediakan oleh Sang Pencipta sejati.

Karena itu, kita punya hak untuk bertaya kepada mereka yang menentang da’wah Al-Qurân: “Bila anda menganggap Al-Qurân sebagai gagasan utopis, mengapa Nabi Muhammad bersama umat sezamannya pernah mewujudkannya? Bukankah itu merupakan fakta sejarah? Bila anda mengingkari kenyataan sejarah itu, bukankah itu berarti bahwa anda ahistoris?”

Tentu mereka akan menjawab bahwa Al-Qurân, bila memang pernah tegak, hal itu hanya terjadi di masa Nabi Muhammad, yaitu hanya dalam waktu sekitar sepuluh tahun. Selanjutnya, setelah masa Nabi Muhammad lewat, selama berabad-abad sampai sekarang, Al-Qurân tak pernah lagi bisa ditegakkan. Itu adalah kenyataan sejarah yang amat sangat tidak bisa dibantah.

Ya, memang itulah kenyataan sejarah abad-abad kegelapan yang menimbun ke-nyataan sejarah terang benderang yang hanya berusia 10 tahun. Bila anda lebih suka melihat sejarah demikian dan menjadikannya sebagai pedoman, berarti anda lebih suka menyambung sejarah kegelapan.

Sebaliknya, bagi para da’i yang hendak terus menawarkan Al-Qurân, semakin jelas bagi anda betapa sulit dan panjangnya terowongan kegelapan yang harus ditembus itu. Tapi, kata Allah, malam berganti siang, gelap bergilir dengan terang, himpitan beriringan dengan peluang, penjajahan bergandengan dengan pembebasan. Maka, ketika anda melihat sang pembebas melempar tali, tangkap lah!

Sayang, tak banyak orang yang menyadari bahwa pembebas itu adalah Allah sendiri, dan tali yang dilemparkannya adalah Al-Qurân. (Atau manusia memang lebih suka dikirimi tsunami ya?).

Ahmad Haes, 3/5/04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: