Ikut Rasul Adalah Soal Pokok

Bagi  sebagian  orang mengikuti Nabi  Muhammad  bukanlah prasyarat  untuk memperoleh keselamatan. Menurut mereka,  meskipun Muhammad sudah datang sebagai rasul, orang-orang yang terus mengikuti hukum Musa atau Isa tidak akan diabaikan pada Hari Kebangkitan. Sayangnya, beberapa ahli teologi Muslim pun telah mengemukakan pandangan yang kira-kira bermakna   sama.[1] Namun Quran, Hadis, perilaku Rasulullah, dan para  sahabatnya menolak pandangan demikian.

Dikisahkan  oleh Jabir bahwa Rasulullah pernah mengatakan:

Jangan  tanyakan permasalahan agama kepada Ahli Kitab, karena orang yang telah tersesat tidak dapat memberi petunjuk.  Bila kauikuti  pandangan  mereka, mungkin kau mengikuti  pandangan yang  salah, dan bila kau menentang, bisa jadi kau  menentang sesuatu yang benar. Bila saat ini Musa masih hi­dup  dan tinggal bersama kalian, dia akan menjadi pengikutku, karena sungguh tidak benar baginya bila  ia mengikuti kitab Perjanjian Lama[2] yang bertentangan dengan hukumku.

Quran   telah  menyuruh  Ahli  Kitab   untuk mengikuti Nabi Muhammad dengan kata-kata sebagai berikut:

Dan sebaiknya mereka mengikuti Rasul  ini,  yang namanya mereka  dapati tercantum dalam kitab Perjanjian  Lama maupun Perjanjian Baru.”[3]

Quran  menegaskan bahwa orang-orang yang telah  mengenal Kitab Suci tidak bisa membantah kerasulan Nabi Muhammad.  Dalam Surat “Halilintar” Allah berfirman:

Orang-orang kafir itu mengatakan, “Kamu bukan seorang  rasul.” Jawablah: “Cukuplah Allah  sebagai  saksi  di antara  aku,  kalian,  dan siapa pun  yang  mengetahui  Kitab Suci.”[4]

Ayat-ayat  tersebut adalah bukti nyata  bahwa setelah Nabi  Muhammad  hadir setiap orang yang beragama  Yahudi  dan Nasrani harus  mengikuti rasul Islam.[5] Dalam kitab  Perjanjian Lama dan    Perjanjian  Baru,  meskipun  sudah    mengalami interpolasi, terdapat isyarat-isyarat yang jelas mengenai kedatangan Nabi Muhammad, dan orang dianjurkan untuk menjadi pengikutnya. Imam Ibnu Taimiyah telah menghimpun ramalan-ramalan tersebut  dalam bukunya, yang dilengkapi dengan  catatan-catatan penting.  Setelah mempelajarinya, orang tak akan mampu menahan  tangis keprihatinan terhadap mereka yang tidak   mempedulikan kebenaran Islam, padahal buktinya demikian melimpah.

Dalam Deutoronomy (11: 15) dikatakan:

Tuhan  akan membangkitkan bagimu seorang rasul di  tengahmu,  yang  merupakan saudaramu,  yang  mencintaiku; hendaklah kamu dengarkan kata-katanya.

Dalam ayat ke-18 Deutoronomy juga dikatakan:

Aku  akan bangkitkan seorang  rasul dari saudara  mereka yang mencintai kalian, yang akan menyuarakan kata­-kataku  melalui mulutnya, dan akan mengatakan  kepada  mereka segala yang kuperintahkan kepadanya.

Dalam Bibel Johanes pun dikatakan:

Tapi  bila  pembawa kabar gembira itu datang, yang akan  kuutus kepadamu  dari Bapak, yaitu Ruh kebenaran yang  berasal  dari Bapak itu, ia akan menjadi saksi bagiku. (15: 26)

Kemudian kajilah syair di bawah ini, dan perhatikan  betapa  kedatangan Nabi Muhammad telah diramalkan dengan  berbagai gambaran:

Jehovah datang dari Sinai

Dan muncul dari Seir di hadapan mereka

Dia  memancarkan  sinar ke depan dari gunung  Paran

Dan  dia datang bersama seribu orang suci

Dan di tangan  kanannya tergenggam hukum

yang berkilau, untuk mereka.


[1] Kita  perlu hati-hati dalam soal ini. “Hukum  Musa”  atau “Hukum  Isa”  dalam pemahaman banyak orang adalah  dua  jenis hukum yang berbeda, dan keduanya berbeda pula  dengan  hukum yang dibawa Nabi Muhammad. Jadi mereka menganggap bahwa  pada saat ini ada tiga hukum Allah yang masih berlaku, dan  sebelumnya banyak hukum Allah yang pernah berlaku, sebanyak   jum lah  para rasul. Tapi Quran menegaskan bahwa hukum (baca:   agama) Allah cuma satu, dan tidak pernah berubah  sejak  Adam hingga Muhammad. Tapi kemudian manusia-manusia berhati bengkok melakukan perubahan atau pencemaran. Karena itulah  Allah mengutus banyak rasul secara bergiliran, yang semua  (kecuali rasul  pertama) berperan sebagai ‘pengulang’ ajaran yang   dibawa  rasul terdahulu. Perhatikanlah surat An-Nisa ayat  163, dsb. (AH)

[2] Ingat bahwa kitab Perjanjian Lama tidak sama dengan Taurat yang  diterima Musa dari Allah. Di satu sisi, Hadis ini  juga memberikan  gambaran tentang pengertian surat Ali Imran  ayat 81 yang tersebut di atas.

[3] Entah dalam surat apa terdapat ayat ini.  Penulis  banyak mengutip  ayat-ayat Quran dengan hanya mengajukan  terjemahannya, tanpa menyebut nama surat dan nomor ayat. (AH)

[4] Surat Ar-Ra’du ayat 43.  (AH)

[5] Bila mereka mau. (AH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: