Pamer Nyali Pada Thaliban (?)

AS dan sekutunya terus memburu Thaliban. Kisah di bawah ini adalah salah satu episode dari perburuan itu.

Reuters, Jorge Silva, 29 Mei 2009

Masum Ghar, Propinsi Kandahar, Afghanistan

Operasi di Sanjaray.

Bersama tentara Kanada di Kandahar.

Tanggal 16 Mei saya sampai di markas FOB (forward operating base) setelah ikut dalam perjalanan konvoy tank dari bandara Kandahar.

Kami berangkat dari FOB dalam konvoy tank berbeda yang akan melakukan “operasi pembersihan rahasia” di dusun Sanjaray. Satu-satunya syarat bagi saya untuk bisa ikut adalah bahwa saya tidak boleh mengirim foto sebelum operasi berakhir.

Kami mengikuti jejak tank-tank yang tertinggal di gurun pasir yang membara, dikitari gunung-gunung berwarna oranye, hingga kami sampai di sebuah markas darurat milik ANA (Afghan National Police). Dari sini kami bisa melihat Sanjaray dan seluruh lembah.

Tentara Afghan yang bermarkas di sini tidak punya listrik atau air mengalir, dan mereka tidur di atas selimut yang digelar di atas tanah, di bawah bangunan setengah jadi yang belum dipasang jendela. Kami menghabiskan malam dengan tidur di udara terbuka di sisi kendaraan lapis baja.

Pasukan gabungan yang di dalamnya terdapat lebih dari seribu tentara Kanada, AS dan Afghanistan, adalah pasukan pertama yang memasuki wilayah ini, yang diperkirakan dihuni oleh para pejuang Thaliban.

Dini hari tanggal 17, kami sudah beriringan memasuki lembah. Kami melihat matahari terbit dari belakang pegunungan ketika memasuki Sanjaray. Tujuan kami adalah mendaki antara tiga dan empat km setiap hari, sehingga dengan demikian bisa meliput 12 km persegi daerah yang menjadi sasaran inti operasi.

Para tentara mendagi berjam-jam tapi hanya bererak perlahan dengan beban punggung (backpack) seberat 30-40 kilo. Hal lain yang membatasi gerak mereka adalah kerja pembersih ranjau yang membersihkan jalan di depan dengan bantuan anjing.

Jalan-jalan di Sanjaray, dengan suara adzan yang terdengar siang dan  malam, adalah sebuah labyrinth ganjil tanpa garis lurus, terbuat dari batu bata (mud-brick), yang ditepinya terdapat rumah-rumah bundar; yang pintu-pintu dan jendela-jendelanya satu dengan lain tak ada yang berukuran sama. Tak ada pula rumah-rumah yang yang berbentuk sama, tapi semua sama memiliki halaman yang penuh dengan pohon anggur dan ceri. Kebun-kebun mereka padat dengan gandum dan sorgum (sejenis gandum), poppy (opium; candu) dan cannabis (bahan candu dan minuman keras).

Pemandangan di sana-sini mirip seperti yang digambarkan dalam Bibel: sumur-sumur, sungai-sungai kecil, lelaki berjenggot bersama keledai, dan anak-anak berkemeja seperti jubah. Para tentara dengan seragam dan peralatan high tech jelas jadi tampak seperti makhluk angkasa luar.

Pencarian dimulai pada rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang tertulis dalam daftar para tentara. Di sebuah rumah, mereka menemukan bahan pembuat bom (HEDs), dan di rumah lain mereka menangkap tiga pria yang diduga orang Thaliban, tapi mereka tidak membolehkan saya mengambil gambar. Kata mereka, orang-orang itu akan segera dibawa ke Kandahar.

Kami meneruskan pemeriksaan sampai sore, meneliti halaman gedung, halaman rumah, kandang kuda, dapur, dan menginterogasi setiap orang, menanyai keluarga mereka yang tidak hadir. Mereka memotret, naik ke loteng-loteng, melompati tembok, menyeberangi sungai, dan begitu seterusnya. Mereka berkali-kali istirahat di bawah naungan, dan semakin hari larut, mereka merapat ke tembok-tembok untuk melindungi diri (dari kemungkinan diserang Thaliban).

Malam hari, kami menemukan sebuah tempat untuk tidur; sebuah celah di antara pohon-pohon ceri dan sungai, yang di seberangnya terdapat sebuah desa dan kebun-kebun gandum. Sebuah helikopter Chinook mendarat, mengirim makanan dan minuman. Kami minum air masing-masing lima atau enam liter, setelah menempuh hari yang panasnya mencapai 45 derajat Celsius.

Hari berikutnya kami bangun pukul 4 pagi. Dalam beberapa menit, tentara sudah mengemasi perlengkapan tidur  mereka, cuci muka, lalu menelan semacam zat energi, untuk menempuh pendakian 9 jam berikutnya.

Kami menerobos pepohonan, mencari peunungan yang memahkotai lembah sebelah utara. Sejumlah helikopter terbang di atas kepala sepanjang hari ketika kami mendaki berjam-jam bersama satu pleton tentara Afhanistan yang berjalan bersisian dengan kami. Berjam-jam, kami tidak menemukan apa pun atau seorang manusia pun. Sebagian dari kami menyeberangi sungai yang airnya sepinggang lebih, sebagian melalui pipa yang dijadikan jembatan.

Udara panas dan kekuranan air akhir membuat kami berhenti, dan helokopter Chinook memasok kami lagi. Kami siap menginap di satu tempat yang tampak aman, tapi kami dapat perintah untuk tidur tanpa membuka sepatu.

Saya diberi tahu bahwa Thaliban akan menyeran malam itu. Saya yakin bahwa tengah malam saya terbangun karena desingan roket-roket, tapi saya tidak tahu berasal dari arah mana. Seorang sersan menasihati supaya saya jangan khawatir. Bila anda mendengar suara roket, berarti roket itu mengarah ke tempat jauh, katanya, karena roket melesat lebih cepat dari suara.

Roket-roket terus berdesingan, kemudian membersit cahanya yang sengaja ditembakkan ke udara untuk membantu para penembak jitu, dan itu berlanjut sampai menjelang fajar. Baru belakangan saya tahu bahwa roket-roket itu ditembakan oleh pasukan Kanada, dan bahwa kami tidak diserang (oleh Thaliban). Mereka bilang, Thaliban “memutuskan untuk tetap bersembunyi”.

Sebuah Chinook membangunkan kami pada pukul 5 pagi ketika helikopter itu mengirim lagi pasokan; mendarat dekat sekali pada kami, melemparkan handuk-handuk dan karung-karung. Kami siap melakukan pendakian akhir.

Ofsir kedua yang bertugas dalam operasi itu meyakinkan saya bahwa operasi mereka sukses, dengan hasil terbaik berupa tiadanya seorang pun tentara yang terluka. “Kita telah tunjukkan kepada Thaliban bahwa kita bisa datang dan pergi kapan pun kita mau,” tambahnya.

Dan Thaliban ternyata tidak menunjukkan batang hidung mereka.

CATATAN:

  • Satu hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa tulisan ini dibuat seorang wartawan, dan kita merasakan keberpihakan yang begitu kuat. Padahal, katanya, wartawan/pers harus netral.
  • Apa komentar anda?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: