Peran Para Rasul

Bila  seorang  tuan  menghukum pelayannya  sebelum memberitahu  apa  yang  disukai dan  tidak  disukainya,  maka tindakan itu jelas tidak benar dan tidak adil. Begitulah juga gambaran  hubungan  Tuhan dengan hamba-hambaNya. Bila Tuhan menghukum kita  (karena Ia berhak berbuat demikian) tanpa lebih  dulu memberikan  bimbingan,  maka itu akan membatalkan  sebutannya sebagai Yang Mahaadil.  Manusia tentu akan memprotes:      “Kami tidak  diberi tahu mana yang benar  dan salah,  mengapa   tiba tiba kami disalahkan?”

Karena   itulah  Allah mengutus para  rasul  untuk memimpin  kita,   sehingga kita tak punya lagi  dalih     untuk memprotes.

Firmannya dalam Al-Quran:

Bila  Allah mengazab mereka sebagai hukuman sebelum  mengutus rasul,  mereka tentu akan mengajukan bantahan: “Wahai  Tuhan, mengapa engkau tidak mengirim rasul kepada kami sehingga kami dapat   mengikuti   perintah-perintahmu,  agar   kami tidak menderita malu seperti sekarang ini.”

Firmannya pula:

Kami tidak menghukum suatu kaum sebelum kami mengutus seorang rasul kepada mereka.”[1]

Para  rasul diutus bukan hanya untuk berperan sebagai  utusan. Mereka adalah para duta Allah. Siapa pun  yang menjauhkan  diri  dari mereka berarti menjauhkan diri dari  Allah, dan  barangsiapa yang  mendekatkan   diri   kepada   mereka berarti  mendekatkan   diri  kepada  Allah.  Kepatuhan   dan kesetiaan   terhadap  rasul berarti kepatuhan  dan  kesetiaan terhadap Allah.  Sebaliknya, pembangkangan terhadap  mereka berarti pembangkangan  terhadap Allah.

Seseorang bisa  setia terhadap rajanya,  tapi  bila  ia  menolak  patuh  terhadap pejabat yang  telah   dipilih   raja,  berarti   ia  menolak perintah  rajanya  sendiri, karena kepatuhan kepada sang pejabat sama artinya dengan   ke patuhan yang ditujukan langsung kepada sang raja. Ini digambarkan dengan baik oleh Imam Razi:

Orang yang menolak nabi dan rasul Allah

tetap tinggal dalam kemalangan

karena terhalang untuk mengenal Allah.

Ambil  contoh orang-orang Kristen.  Mereka melakukan  kesalahan  dengan tidak menyadari peran Nabi Isa. Ini  menyebabkan  mereka  bingung tentang Tuhan,  dan dalam  konsep  bahwa Tuhan  itu  satu tapi tiga, tiga tapi satu.  Sejarah  menjadi saksi  bahwa bila manusia melupakan ajaran rasul, atau melupakan status rasul,  maka mereka diputuskan dari kenyataan oleh filsafat-filsafat dan konsep-konsep tanpa dasar. Ajaran rasul adalah  landasan  tempat tegaknya bangunan  keagamaan.  Ambil satu   tiang, maka bangunan itu akan miring. Goncang  fondasinya,  maka seluruh bangunan bergoyang.


[1] Surat Al-Isra ayat 15.  (AH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: