Organisasi Terbuka

Atau sebaliknya: wadahi golput?

Atau sebaliknya: wadahi golput?

Saya pernah ngobrol dengan seorang da’i, yang menolak jadi politisi. Mengapa?

“Saya adalah da’i. Saya tidak meragukan pentingnya pekerjaanku itu bagi bangsa dan negara,” katanya.

“Karena itu anda tidak tertarik dengan politik?” saya berusaha menegaskan.”

“Bila anda tanya minat saya pada politik, sebenarnya saya pernah terjun ke dunia politik, tapi hanya sebentar!” katanya.

“O, ya? Bagaimana ceritanya?”

“Saya pernah diajak teman bergabung dengan sebuah parpol Islam yang gurem, karena Saya dinilainya potensial untuk membantu perkembangan parpol itu. Ya, tentu saja saya bisa menjadi juru kampanye (jurkam), baik secara lisan maupun lewat tulisan. Tapi, pada saat parpol itu hendak melakukan pendaftaran ke Departemen Kehakiman, saya sudah merasakan adanya suatu ganjalan di hati. Karena saya tidak punya gelar kesarjanaan dari sekolah umum, ketua parpol kemudian menggunakan ‘gelar keagamaan’ untuk mengatrol saya. Di depan nama saya dituliskan sebutan ustadz. Saya menerimanya dengan berat hati.”

“Mengapa?”

“Karena, meski kegiatan saya sehari-hari tak lepas dari da’wah, saya belum pernah menyebut diri sebagai ustadz, dan selalu melarang orang untuk menggunakan sebutan itu kepada saya. Bukan apa-apa. Saya menghormati gelar itu, yang di negeri asalnya digunakan untuk menyebut guru besar. Sementara di negeri kita, orang yang hanya mengajar alif-ba-ta saja sudah dipanggil ustadz.”

“Tapi, bukankah arti kata ustadz itu secara umum berarti guru?”

“Benar. Tapi, penyebutan diri saya sebagai ustadz hanya untuk tujuan formalitas. Bagi saya, itu sudah merupakan kebohongan yang menggelisahkan. Tapi, karena sudah terlanjur masuk parpol, bahkan menjadi wakil sekjen, saya terpaksa harus menerima; itu pun dengan pemikiran bahwa bangsa ini memang masih terlalu gandrung pada ukuran-ukuran formal dalam menerima dan menghargai orang. Sementara saya cukup percaya bahwa saya memang mempunyai sesuatu untuk saya berikan pada bangsa, walau saya bukan ‘orang sekolahan’.”

“Contohnya?”

“Sebagai da’i, apa menurut anda saya tidak berguna untuk bangsa ini? Sebagai da’i, saya juga bukan da’i kelas ‘kacangan’. Kalau lah nama saya tidak kurang dikenal da’i lain, hal itu terjadi karena saya memang mempunyai idealisme yang berbeda dengan mereka.”

“Bisa anda jelaskan di mana persisnya letak perbedaan itu?”

“Dalam da’wah, misalnya, saya lebih memilih untuk melakukan pembinaan intensif dalam kelompok-kelompok kecil, tinimbang melakukan ceramah-ceramah umum atau tabligh akbar. Dengan kata lain, saya lebih suka melihat tumbuhnya kader-kader, daripada menebar senyum di tengah para fans.”

“Kalau begitu, mengapa anda bisa terpancing masuk parpol?”

“Sebenarnya, saya masuk parpol juga karena teman saya memberikan gambaran bahwa parpol yang dibentuknya akan menjadi sarana pengembangan da’wah. Karena saya senang bila da’wah berkembang, yaa saya mendukung.”

“Kemudian…”

“Tapi, dari hari ke hari, saya merasa bahwa dalam berpolitik ternyata saya seperti terus diseret untuk hanyut ke dalam arus sungai kebohongan.

Ketika teman saya, sang ketua parpol, memberikan pengarahan kepada para wakil ketua dan sekjen, misalnya, jelas sekali ia mengajarkan kepada kami agar kami berbicara dalam satu bahasa, yakni bahasa bohong. Jelasnya, kami tidak boleh bicara apa adanya tentang parpol kami. Walaupun parpol kami kecil, gurem, tak punya donatur yang bonafide, kami harus mengatakan bahwa parpol kami besar, kaya, dan banyak orang-orang penting yang menjadi pendukung.”

“Menurut anda, untuk apa kebohongan-kebohongan itu dilakukan?”

“Tentu untuk menarik massa. Pendeknya, kalau sudah bicara mencari dukungan massa, flatform partai menjadi tidak penting. Mencari massa sebanyak-banyaknya menjadi tujuan utama, dan karena itu segala cara menjadi halal dilakukan. Ya, slogan Komunis, the end justifies the means (tujuan menghalalkan cara), kenyataannya menjadi pedoman gerak semua parpol; terlepas apakah mereka menyadari atau tidak.”

“Dan itu membuat anda tak betah berlama-lama dalam parpol?”

“Ya. Hanya beberapa bulan, saya keluar.”

“Selanjutnya, apa penilaian anda terhadap parpol secara keseluruhan?”

“Sebagai sebentuk supra struktur, saya melihat parpol secara umum adalah supra struktur yang bobrok, karena nilai-nilai moral luhur  tidak dicoba dijadikan soko guru di dalamnya.”

“Mungkin karena itulah sekarang banyak yang memilih golput ya?”

“Sangat mungkin! Walau banyak juga yang terpaksa golput (tidak memilih) karena soal administrasi kan?”

“Karena keluar dari parpol, anda gagal jadi politisi. Padahal, sebelumnya, sempat tidak anda berkhayal jadi anggota DPR?”

“Ya, tentu saja. Saya sempat juga berkhayal jadi anggota DPR, bahkan jadi presiden, karena saya merasa punya visi besar untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Tapi, apakah benar bahwa menjadi anggota parpol adalah satu-satunya jalan untuk menjadi politisi?”

“Ya. Itu kan prosedur demokrasi.”

“Tapi, nyatanya, Nurcholis Madjid bisa masuk dari jalur lain.”

“Mungkin karena dia sudah terlanjur punya nama besar, bahkan disebut-sebut sebagai guru bangsa.”

“Ya. Dan, bagi saya, tampilnya Nurcholis Madjid sebagai politisi dari jalur non-partai adalah preseden yang baik. Sayang, ia hanya pejuang yang canggung!”

“Maksud anda?”

“… karena ia tetap mengakui dominasi parpol dalam perpolitikan. Ia masih menggunakan Golkar sebagai kendaraan kan? Orang yang dianggap tokoh pembaharu ini agaknya kurang percaya pada kemampuannya untuk melakukan pembaruan atau perubahan.”

“Saya, kira Nurcholis pun, faktanya, harus mengakui prosedur yang berlaku dalam perpolitikan yang berjalan.”

“Ya! Tapi, andai saya jadi Nurcholis, saya akan menggalang dukungan (untuk jadi presiden) tanpa melirik parpol. Mungkin akan ditertawakan. Tapi, bukankah sudah banyak orang (rakyat) yang muak pada parpol? Mungkin jumlahnya sedikit. Tapi, bila bisa menggalang mereka untuk bersatu membangun sebuah organisasi (supra struktur) non-parpol, yang mendukung saya menjadi (calon) presiden, tidak hebatkah itu?”

“Hebat! Tapi anda bisa dianggap menggalang massa untuk jadi golput!”

“O, tidak. Saya malah berpikir sebaliknya. Maksud saya, bila begitu banyak orang yang ingin jadi golput, bukankah mereka juga membutuhkan wadah? Bukankah mereka bisa ditampung dalam sebuah organisasi non-parpol?”

“Maksud anda organisasi seperti apa?”

“Organisasi yang saya maksud akan saya bangun dengan visi akademis, yaitu menampilkan manusia-manusia intelek yang mumpuni pada masing-masing bidang, tanpa mempedulikan warna kulit, kesukuan, dan agama. Yang penting, semua punya komitmen untuk bekerja maksimal sesuai keahlian setiap orang, dan itu harus mereka buktikan dengan prestasi.

Berdasar keahlian dan prestasi, setiap orang dipilih menjadi pejabat struktural organisasi. Dengan demikian, dalam organisasi saya akan ada kumpulan para ahli tatanegara,  hukum, akonomi, teknologi, seni, dan seterusnya, termasuk ahli olahraga dan bela diri. Dengan demikian, bila saya jadi presiden, saya tak akan mengalami kesulitan memilih menteri.”

“Tampaknya, organisasi anda itu akan menjadi organisasi yang terbuka ya?”

“Ya.Dengan ‘flatform’ demikian, jelas organisasi saya merupakan organisasi terbuka. Maksud saya, bila saya jadi presiden, saya juga tak akan keberatan mengangkat para  pakar pada berbagai bidang untuk menjadi menteri dan pejabat lain, walau mereka bukan anggota organisasi saya. Yang penting, mereka berprestasi, punya dedikasi, dan bermoral luhur.”

Saya menulis obrolan ini (yang berlangsung di tahun 2004) beberapa tahun setelah teman ngobrol saya itu wafat. Saya menyesal sekali karena sangat terlambat mengetahui kepulangannya ke alam baka. Tapi, saya harap, sekarang dia sudah tenteram. Tidak harus lagi pusing mengurusi da’wah dan politik, yang keduanya merupakan masalah berat.

Advertisements
Comments
One Response to “Organisasi Terbuka”
  1. AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0 ( Freeware )

    Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
    Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
    Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
    Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: