Salahkah Bila Saya Pasrah?

"Ibu dan Anak". Gambar dipinjam dari ansar63.wordpress.com

"Ibu dan Anak". Gambar dipinjam dari ansar63.wordpress.com

Islam secara harfiah, antara lain, berarti kepasrahan, tepatnya kepasrahan terhadap Allah. Sedangkan muslim (lelaki) dan muslimah (wanita), yang merupakan pelaku dari  Islam, berarti   orang  yang pasrah.

Jadi, tak ada kesalahan pada seorang muslim/muslimah yang pasrah. Ia justru telah bersikap amat benar.

Tapi, bagaimana maksudnya?

Mari kita lihat orang yang membuat antrian panjang di sebuah bank internasional, atau di depan anjungan martabak Medan di pekan raya Jakarta, atau di mana pun orang patuh mengantri.

Atau, lihatlah juga aneka kendaraan yang berderet berhenti di depan lampu merah.

Apa yang sedang mereka lakukan?

Mereka sedang memamerkan kepasrahan. Mereka sedang melakukan apa yang disebut kepatuhan pada peraturan yang sudah disepakati untuk diberlakukan.

itulah arti pasrah yang sebenarnya. Tunduk patuh pada peraturan yang sudah disepakati untuk diberlakukan.

Dan, seorang muslim/muslimah pastilah tahu betul bahwa Islam itu adalah sebuah peraturan dari Tuhannya. Sebuah penata hidup yang disepakati untuk diberlakukan dalam hidupnya bersama saudara-saudaranya seiman.

Tapi, mengapa masih ada yang berkirim SMS seperti ini:

sy bingung batasan antara berpasrah kepada Allah dn kurang perhitungan. mksd sy ada org2 yg klo dilihat brdsrkan hitung2an  pendptan sptnya ga ckp, tp keliatn baik2 sj. Tp ada or yg betul2 susah d kondisi yg sama. Sbanarnya org2 yg cm berserah diri sj, sdhlah trserah Allah sj, itu org yg kurang perhitungan ato emang org2 yg pasrah?

SMS ini dari seorang ibu muda. Sudah lama, dan berkali-kali, ia minta pendapat saya tentang bagaimana bila ia berhenti bekerja. Saya bilang, pikirkanlah dulu matang-matang. Saya mungkin lebih tahu sedikit tentang agama, tapi andalah yang lebih mengerti kehidupan anda sendiri.

Ibu muda ini berjilbab dan termasuk wanita langka dalam jenisnya (duh!), karena ia tampak bersemangat untuk mendalami agama, dan tentu punya gairah besar untuk menjalankan agama dengan sebaik-baiknya.

Tapi di satu sisi – dan ini adalah masalah umum serta klasik bangsa kita! – kehidupan ekonominya hanyalah termasuk sedang-sedang saja. Atau, mungkin saja, ia malah merasa masih serba kurang. Karena itulah, ia bekerja, bersama suaminya.

Tapi, belakangan ia  merasa bahwa terjun ke dunia kerja adalah pilihan yang salah, atau setidaknya ia merasa kurang pas.

Ia merasa telah mengabaikan dua anaknya, yang selalu ia titipkan kepada ibunya.

Setiap hari ia berangkat kerja selagi mereka masih tidur, atau berangkat diiringi jeritan si kecil yang sering terus mengganggunya di tempat kerja. Membuatnya sedih dan gelisah. Lebih-lebih bila ia terpaksa harus pulang setelah larut malam!

Kadang ia juga cemas bila anak-anaknya akan tumbuh tidak seperti yang diharapkannya, karena ia tidak bisa membimbing dan mengawasi mereka!

Itulah sebabnya belakangan ia berpikir untuk berhenti bekerja, dan suaminya juga sebenarnya mendukung untuk itu.

Tapi, bagaimana dengan masalah ekonominya?

“Bila saya menjadi orang rumahan, menjaga anak-anak, dan hidup hanya dengan mengandalkan penghasilan suami, lalu suatu saat kami menghadapi masalah karena kekurangan uang, apakah tindakan saya keluar kerja itu bukan berarti salah perhitungan?” katanya suatu hari.

Bila  yang dimaksud adalah perhitungan ekonomi semata, tentulah dia salah karena telah mengabaikan kekurangan keuangan di satu sisi, dan melemparkan pekerjaan yang bisa menutup kekurangan itu. Tapi, bukankah dunia kerja itu selama ini (5 tahun atau lebih) telah memisahkannya dari anak-anaknya?

Bagaimana pun, hidup adalah pilihan, dan di situ berlaku dalil: pilih satu, tinggalkan yang lain. Karena, kata Allah, Ia tidak menciptakan dua hati dalam satu rongga dada. Apakah sebenarnya yang ingin anda pilih, anak-anak (keluarga) atau pekerjaan (uang)?

Pertanyaan itu memang sering menjadi berat ketika jatuh pada wanita, apalagi bila ia berpendidikan tinggi (sarjana). Mengapa?

Pertama, begitu lulus sekolah (kuliah), biasanya ia sudah menanggung beban dari orangtua yang menyekolahkan. Kamu berpendidikan tinggi, sudah dibiayai begitu banyak, kenapa tidak bekerja?

Dan, bila ia menambil satu bidang studi dengan sepenuh hati, bukankah itu dilakukannya karena ia ingin berkarier?

Dan lagi, mengapa jadi wanita itu harus tinggal di rumah, mengabdi pada suami dan anak-anak?

Itulah, antara lain, setumpuk masalah yang harus dihadapi wanita. Dan itulah – jujur saja! – yang sering dijadikan peluru untuk menyalahkan Islam! Mengapa? Karena Islam menyebut lelaki sebagai qawwamuna ‘ala-nisa, pemimpin bagi wanita, dan itu berarti menempatkan wanita sebagai manusia kelas dua, dan selanjutnya mengharuskan wanita (istri) menjadi makhluk rumahan saja. Memenjarakan wanita di dalam rumah!

Tapi, sadarkah kita bahwa setumpuk masalah itu sebenarnya adalah sampah dari pemikiran moderen yang menghendaki manusia menjadi budak dunia dan membangkang penciptanya?

[BERSAMBUNG]

Advertisements
Comments
14 Responses to “Salahkah Bila Saya Pasrah?”
  1. reza says:

    nyambung kmana nih bang..

    yaah..jadi ikutan curhat deh..
    istri saya diposisi ibu itu sekarang bang, jangan2 itu sms istri saya bukan? ahahaha

    btw bole ikutan curhat gak nih?

  2. Ahmad Haes says:

    Tafaddhal! Mo curhat mo curtung terserah! he he…!

  3. rika says:

    pake acara bersambung lagi pak.. emange tempat buat postingnya ga cukup.. ya laen panjang-panjang tuh artikelnya.. plis deh! ini ada udang di balik bakwan apa udah keburu ngantuk nerusinnya 😛

  4. rika says:

    oh iya, btw, bacanya mau nangis bombay neh…. kisah nyata ya pak? hahahahahahahaha

  5. Ahmad Haes says:

    Sabar, sabar! Lagi belajar bikin skenario sinetron nih. Jadi, biar sebenarnya bisa sekali tamat, klo penonton kliatan penasaran, naa itu tandanya cerita bisa diulur-ulur. Dan itu berarti iklan toh? Ah kamu! Kaya’ ga ngerti aza!

  6. fina says:

    Duh…bersambung yah!…..*membaca blog ini sambil buat tagihan sewa*

  7. rika says:

    oh iya pak, tulisan di atas, klo sekalian di hubungin dg hadist yang “Allah mengikuti prasangka hamba-Nya” gimana..

  8. Ahmad Haes says:

    Hadis itu perlu dipertanyakan; karena Allah tidak mungkin mengikuti siapa2.

  9. rika says:

    belom ada lg nih lanjutannya?

  10. Ahmad Haes says:

    Masalah ini menyangkut pemahaman ajaran Islam secara utuh. Saya harus berpikir keras untuk menuangkannya dalam tulisan sederhana. Sabar ya Bu? Atau mau ngelanjutin sendiri? He he…

  11. rika says:

    kekekeke.. sy ngikutin hadist “serahkanlah urusan kepada ahlinya..” daripada nanti jadi hancur hehehehe… *besok ya pak? ups! kaburrrrrrr….*

  12. anton saputra says:

    bg haes..kata Allah; tidak menciptakan dua hati dalam satu rongga, ayat apa ya bg?emang ada? bg, mhn bantu sy, perkuat prinsip sy tentang dalil larangan ber’KKN’ ria dalam sebuah sistem kehidupan. tlg ya bg..surat apa dan ayat berapa bg? maaf ya bg..tp sy bertrmksh jk abg sudi menjawab disela2 kesibukan abg. wassalam

  13. Ahmad Haes says:

    Mohon maaf saya baru menjawab pertanyaan anda! Maklum, banyak pekerjaan, jadi lupa.
    1. Surat Al-Ahzab ayat 4.
    2. Al-Quran secara keseluruhan melarang kita melakukan KKN.

  14. anton saputra says:

    terimakasih bang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: