Penalaran Imam Ghazali

Mereka  yang disebut kaum intelek menentang ajaran  tentang  Keesaan Tuhan dengan susah-payah. Dengan daya pemahaman yang   terbatas, mereka berusaha mengukur informasi yang      disampaikan  para rasul tentang Dia Yang Tidak  Dikenal. Sang intelek menyerang dengan pemikiran bahwa bila akal tidak bisa menggambarkan,  bagaimana  mungkin  persoalan-persoalan di terangkan dengan wahyu dari langit?

Imam Ghazali  menepis keraguan  ini dengan cara yang hebat.  Ia  memberikan gambaran dengan menyebutkan mimpi. Ketika mata, telinga,  dan indra-indra yang lain tidak berfungsi, dan kita sendiri  tidak  sadar, Peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan  tertentu diperlihatkan kepada kita.  Kita akan menganggap     itu semua tak masuk akal, karena ketika itu pikiran dan perasaan kita tidak bekerja.

Imam  Ghazali mengatakan bahwa dari sudut pandang  intelektual memang ada peluang untuk membantah, tapi  pengalaman membuktikan  bahwa dalam tidurnya orang kadang memimpikan sesuatu     yang kemudian menjadi kenyataan.  Kita mungkin  sering melihat   sesuatu  yang diungkapkan  dengan  lambang-lambang, yang  pengertiannya baru jelas setelah  ditafsirkan. Jadi jelaslah bahwa tidak berfungsinya panca indra bukan  rintangan untuk berlangsungnya komunikasi. Lebih rinci lagi, Imam  Ghazali  mengatakan bahwa kerasulan adalah sebutan untuk situasi kejiwaan yang tidak melibatkan kecerdasan (intelligence)  dan penalaran  (understanding). Kepada sang intelek  kita   hanya bisa mengatakan:

“Bila aku hendak terus terbang walau selapis rambut lagi, cahaya yang memancar akan membakar sayapku.”

Seseorang  dapat  mengatakan bahwa ia  akan  mempercayai kerasulan bila ia sendiri menyaksikan kejadiannya, tapi  Imam Ghazali mengatakan bahwa argumentasi itu sama saja  seperti orang  buta yang mengatakan bahwa ia baru akan percaya   bila ia dapat melihat.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

Tegaskanlah  (Muhammad):  “Aku tidak  mengatakan  bahwa   aku menguasai  perbendaharaan (ilmu) Allah. Aku tidak  mengetahui yang  gaib. Tidak pula kukatakan bahwa aku ini malaikat.  Aku semata-mata hanya mematuhi segala yang diwahyukan  kepadaku.” Tegaskan:  “Samakah  gerangan orang buta  dengan  orang  yang melihat? Tidakkah kalian memikirkan (hal ini)?” (Surat Al-An’am ayat 50)


Comments
One Response to “Penalaran Imam Ghazali”
  1. Machiavelli sejati says:

    ,masalah kopi, ada orang menjawab, kopi yang di depan anda adalah kenyataan, tapi bagi saya bukan kenyataan, karena saya tidak ada di depan anda…

    hehehe…

    jawabnya begini neh, kenyataan itu ada dua macam, kenyataan yang berdasarkan penglihatan, dan kenyataan yang sifatnya ghaib

    kenyataan pertama, bisa diturunkan dalam berbagai kaidah kebenaran lagi yang tiap kaidah bisa diturunkan dalam beberapa kaidah lagi…

    kenyataan kedua, atau kenyataan ghaib, dimana kita bisa meyakini sesuatu walau kita tidak melihatnya….dari kaidah ini bisa diturunkan dalam beberapa kaidah lagi, dari setiap kaidah yang diturunkan terdiri dari beberapa kaidah lagi..

    maka dari itu pantas saja, kalau kaidah kebenaran itu jumlahnya lebih dari 100 buah…hehe…

    tenang pren, kata wong jowo, alon-alon waton klakon silahkan diterjemahkan sendiri, biar usaha gitu loh, kan manusia akan bisa merakan indahnya kebenaran kalau diberikan umpan dan kail bukan makanan fastfood atau langsung jadi…..hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: