Kebenaran Abadi Para Rasul

Nabi Musa dalam khayalan orang Kristen (Barat).

Nabi Musa dalam khayalan orang Kristen (Barat).

Para rasul yang ditugaskan Allah menunjukkan jalan  yang benar   adalah pribadi-pribadi yang tiada tanding.  Bahkan  musuh-musuh  mereka pun terpaksa mengakui kekaguman mereka  terhadap kasalihan para rasul itu.

Bagi orang beriman, merenungkan kisah rasul pasti akan menambah iman.

Ada kisah  yang menarik sehubungan dengan nabi Muhammad saw.  Suatu hari  Abu Sufyan  pergi ke istana Bizantium untuk minta bantuan  kaisar memerangi Muhammad.  Namun dalam keadaan kritis demikian  pun Abu  Sufyan tetap mengakui ketulusan dan kejujuran  Muhammad.

Sang  kaisar Bizantium bertanya kepada Abu Sufyan, “Pernahkah ia  berdusta?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Sang kaisar lalu berteriak  keras, “Dia yang tidak pernah  berdusta  terhadap manusia, bagaimana mungkin berdusta tentang Tuhan?”

Apakah  keuntungan pribadi yang akan didapat para  rasul dengan mengabarkan tentang kehidupan akhirat?  Mencari  penghormatan  dan gengsikah mereka? Itu semua sudah mereka  dapatkan  sebelum mereka menjadi rasul. Mereka sudah dikenal  sebagai  orang-orang terhormat, dipercayai, dan patut diteladani. Namun setelah  menjadi rasul, ajaran-ajaran  mereka  bahkan menyebabkan  mereka terjerumus ke dalam kesulitan   tiada akhir.   Beberapa dia antara mereka harus menderita pemenggalan kepala,  yang lainnya disingkirkan ke negeri  orang,  banyak yang  dibunuh, dan beberapa lagi dibunuh sebelum tugas mereka teselesaikan.

Namun betapapun siksaan mendera,  mereka   maju terus membawa risalah untuk mengajak manusia menjalankan kebenaran.

Orang menawarkan godaan berupa kekayaan, emas, wanita-wanita  cantik,  bahkan mahkota  kekuasaan,  namun itu semua mereka abaikan. Mereka tulus, tidak mementingkan   diri sendiri, berjiwa murni, sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa   mereka adalah para utusan Allah yang membawa   kebenaran.

Yang  menarik, para rasul yang jumlahnya  124.000  orang itu  tidak dilahirkan dalam masa tertentu. Mereka  ditugaskan di  berbagai negeri, namun dari Adam hingga Muhammad,  tidak ada  perbedaan atau perselisihan dalam segi risalah.  Konsistensi missi mereka sangat menakjubkan, apalagi bila  diingat betapa  banyaknya ideologi manusia yang berubah-ubah  seiring perubahan  zaman.

Pada suatu ketika para ilmuwan  mempecayai teori evolusi. Kini kebanyakan di antara mereka  mempercayai teori yang lain. Tapi konsep-konsep yang  dida’wahkan    para rasul Allah tentang Keesaan Tuhan, Kerasulan,  Kebangkitan, dan malaikat, tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Dalam  kehidupan sehari-hari bila ada orang  mengumumkan dengan sepenuh keyakinan, kita akan mempercayai  kata-katanya. Sebaliknya,  ada  124.000  orang yang  mempunyai  kepribadian tulus, yang  mengabarkan  landasan  kebenaran  yang   saling berjalin   tiada  putusnya,  tapi  kita  tidak   mau  segera mempercayai mereka.

Begitulah kenyataannya.

Kata-kata   sudah kehilangan kekuatannya untuk mengungkapkan hal ini.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Kebenaran Abadi Para Rasul”
  1. rika says:

    quote : Yang menarik, para rasul yang jumlahnya 124.000 orang …

    ini ada landasannya pak klo jumlahnya emang segitu? dah prnh ada yang meneliti ttg ini pak?

    inget inget lupa, tlg koreksi pak klo salah, waktu itu kan pernah kita bahas rosul itu adalah penyampai risalah berarti setiap orang yg menyampaikan risalah (ajaran Allah) adalah rosul jg, nah klo jumlahnya terbatas 124 ribu aja, berarti apakah ini yg menerima langsung dari Allah? tolong dilurusin pikiran ini jikalau bengkok..

  2. Ahmad Haes says:

    Kalau tak salah, menurut sebuah hadis (insyaAllah nanti saya carikan), jumlah rasul ada 313, sedangkan jumlah nabi adalah seperti yang ditulis Kausar Niazi itu. Jadi, di sini dia keliru. Hadis ini, antara lain, menyiratkan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.

    Tapi coba perhatikan, misalnya, surat Al-Ahzab ayat 45, dan bandingkan dengan ayat 56-57 surat itu. Lalu perhatikan pula surat Ali ‘Imran ayat 83-85 dan An-Nisa ayat 163-164, yang memuat kata “al-asbath” (= pelanjut).

    Selain itu, ingat juga bahwa saya pernah menguraikan tentang perbedaan antara “rasul formal” (yang dalam surat An-Nisa ayat 164 dikatakan bahwa di antara mereka ada yang dikisahkan dan ada yang tidak dikisahkan dalam Al-Quran) dan “rasul funsional”, yaitu siapa pun yang menjadi pelanjut perjuangan (da’wah) mereka.

    Jadi, memang benar bahwa rasul adalah pembawa/penyampai risalah. Dalam bahasa Arab risalah bisa berarti surat. Dus, tukang pos juga bisa disebut rasul.
    Tapi rasul dalam konteks wahyu adalah orang yang (secara formal) dipilih Allah membawa risalah-(ajaran)-Nya dan sekaligus menjadi “uswah hasanah” dalam penerapan ajaranNya (Al-Ahzab ayat21).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: