Shalat Demi Kesehatan Lahir & Batin

IN4Sekitar 20 tahun lalu, dalam kelompok diskusi yang pesertanya terdiri dari mahasiswa berbagai fakultas, jurusan, dan universitas, muncul satu pertanyaan, kenapa gerakan shalat sedemikian rupa? Pertanyaan berlanjut lagi, jika memang Allah menurunkan Al Qur’an untuk orang-orang yang berpikir, penjelasan logis dan rasional yang bagaimana dan seperti apa yang dapat kita peroleh dengan gerakan shalat yang khusus itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, nara sumber merujuk beberapa buku tentang shalat. Tetapi, sukar diterima, kenapa penyataan Allahu Akbar diikuti dengan gerakan mengangkat tangan seperti menyerah? Kenapa tidak cukup hanya menunjukkan bahwa dengan gerakan itu sesungguhnya merupakan cerminan sikap dan pandangan yang menyerah, lalu, apa artinya bagi tubuh? Kemudian, setelah tangan beersedekap dengan posisi di antara dada dan perut, kenapa gerakan rukuknya seperti membungkuk sehingga tubuh membentuk huruf L terbalik? Dan seterusnya sehingga dudup pada tahyat akhir.

MUKZIZAT.Mundur lagi selangkah, kenapa wudhu diikuti dengan gerak mencuci bagian tubuh tertentu, dan kenapa tidak mandi saja. Kalau memang wudhu adalah proses penyucian tubuh dari kotoran, kenapa tubuh yang sudah bersih dari kotoran pun karena mandi tetap diwajibkan wudhu? Berlanjut lagi pertanyaan, apa maksud dan tujuan tayamum jika hendak berwudhu tapi air tidak ada? Apakah debu, atau permukaan tanah dapat menyucikan kotoran? Apa yang sebenarnya disucikan oleh wudhu atau tayamum itu?

Beberapa pertanyaan di atas dapat dijawab dengan fikih, sekumpulan pendapat dari kalangan ahli hukum (Fuqaha). Tetapi pendapat-pendapat itu tetap saja mengundang pertanyaan lanjutan. Kebanyakan umat Islam kemudian lebih suka mematuhi (atho’na) pendapat itu tanpa hasrat bertanya atau mengkaji lebih dalam lagi. Bahkan, dalam gerakan shalat sejak takbiratul ihram sampai salam penutup dengan gerakan menengok ke kanan dan ke kiri, kita mencoba cari jawabnya dengan menghubungkan antara makna bacaan dengan gerakannya. Kita nyaris mengabaikan, adakah gerakan shalat itu merupakan gerakan olah tubuh? Kenapa gerakan shalat itu serempak dengan proses kognisi dan afeksi melalui bacaan yang dilantunkan dengan volume cukup terdengar telinga sendiri pada shalat zhuhur dan ashar, pada raka’at ketiga pada shalat maghrib, atau rakaat ketika dan keempat pada shalat isya?

Belum lagi jawaban diperoleh, daftar pertanyaan beertambah lagi. Kenapa shalat disebut sebagai pilar sikap dan pandangan hidup, dapat mencegah perilaku keji dan munkar? Pada shalat ashar, misalnya, kenapa kita dilarang keras meninggalkannya? Kenapa ciri orang munafik terlihat pada seringnya meninggalkan shalat isya dan subuh? Juga, kenapa damai dan harmonisnya umat Islam bisa dilihat dari kualitas dan kuantitas shalat subuh berjamaah?

Bulan Juni 2002, saya harus masuk sebuah rumah sakit di kawasan jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Diaganosa dokter menyatakan, dalam aktivitas yang tinggi, otak saya kekurangan oksigen sehingga sering pusing dan tubuh kurang gizi. Setelah hari ke lima di rumah sakit,  saya diperkenankan pulang. Tetapi, saya tetap merasakan ada sesuatu yang kuran enak dalam tubuh. Atas saran anggota keluarga, saya kemudian dipijat getar saraf. Teridentifikasi saya mendapat vertigo. Setelah dua kali pijat, pusing karena vertigo hilang.

Pengetahuan dan pengalaman di atas membawa saya pada satu kesimpulan, hidup itu bergerak. Dan, yang disebut dengan bergerak bukan saja mencakup benda padat atau cair, melainkan juga benda gas. Dengan demikian, kehidupan ditandai dengan bergeraknya butuh dan bekerjanya pemikirean. Gerak tubuh tentu saja dilandasi oleh kemauan, terstruktur dalam pikiran, lalu disalurkan ke anggota tubuh, kemudian tubuh bergerak. Sebaliknya, anggota tubuh menginformasikan kepada otak tentang sesuatu yang dirasakan dan dilihatnya. Otak dengan didukung jari-ngan saraf menerjemahkan, menyimpulkan, atau memutuskan apakah perlu atau tidak perlu melakukan sesuatu? Dengan demikian, dalam tubuh yang sehat ada persaingan kemauan. Kalau pun ada perbedaan atau bahkan pertentangan antara pikiran dan perasaan, lalu sesekali seseorang tampil mengikuti rasanya, dan dalam kesempatan lain tampil dengan pikirannya, itulah yang disebut dengan kepribadian ganda.

Islam mengajar suatu sistem kehidupan yang sangat konsepsional terkelola. Pagi hari, saat subuh, kita diminta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang akan berjalan sampai ashar. Padahal, sebelum subuh kita dianjurkan melakukan pembelajaran Al Qur’an, dalam pengertian, belajar ilmu pengetahuan dalam bidang yang kita minati, minimal tiga jam atau empat jam tiga puluh menit, atau bahkan enam jam. Setelah pembelajaran itu, kitga shalat tahajud.

Beberapa saat setelah matahari terbit,  dianjurkan lagi shalat dhuha. Tujuannya, pernyataan sikap dan pandangan hidup bahwa kita siap menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaranNya. Lalu, kita mengevaluasi dan mempersiapkannya kembali dalam shalat zhuhur. Kemudian, satu hari penuh tadi kita evaluasi dalam shalat ashar. Kenapa waktu shalat ashar diidentifikasi dalam bayang-bayang badan dari sorot matahari sepanjang? Jawabnya, ashar adalah waktu pergantian Malaikat yang mencatat. Dalam pergantian itu terjadi serah terima pencatatan. Agar pencatatan itu baik, evaluasinya juga harus dilakukan oleh sosok yang diamati.

Kalau kehidupan itu telah dijalani dengan sebaik-baiknya, kita kembali masuk ke dalam gelap. Transisi wak-tu siang ke malam adalah maghrib, dan potensi ancaman mulai meningkat. Allah mengajarkan, perkuat diri dengan shalat maghrib agar potensi ancaman itu berubah menjadi suatu kekuatan. Lalu, shalat isya dengan maksud mengevaluasi kehidupan yang menghasilkan bahwa apa dan bagaimana yang telah kita laksanakan sejak panggi hingga ashar tadi sesuai dengan ajaranNya.

Dengan model perencanaan kehidupan dan evaluasi harian yang demikian, terjadi pula siklus mingguan, yakni shalat Jumat. Siklus tahunannya, terjadi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Semua itu menggambarkan shalat dengan gerakan berpola tertentu dan bacaan teruji merupakan sistem pembinaan kehidupan berlandaskan sikap dan pandangan hidup menurut ajaran Allah.

Jika hal itu tidak dilakukan, yang terjadi adalah tubuh tetap tunduk pada ajaranNya, dan pemikiran pemilik tubuh itu mengabaikan atau mungkin  menentangnya.

Dengan sudut pandang ini, buku ini bermaksud membuktikan, ikuti ajaranNya dengan ganjaran sehat atau sakit karena mengabaikan atau menentangnya. Entah sakit secara fisik atau sakit secara psikologis. Pilihan pada kita, dan itulah ikhtiar.▲

[Diambil dari kata pengantar Ichsanuddin Noorsy untuk buku Mukjizat Gerakan Shalat ].

Comments
One Response to “Shalat Demi Kesehatan Lahir & Batin”
  1. I really enjoyed the article. It’s always nice when you find something that is not only informative but entertaining. Excellent!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: