Jalan Keselamatan

Bisakah anda melihat apa yang ada dan terjadi di balik bukit? Mengapa anda membelakanginya dan tak mau mendengar peringatan dari orang yang berdiri di atas sana?

Bisakah anda melihat apa yang ada dan terjadi di balik bukit? Mengapa anda membelakanginya dan tak mau mendengar peringatan dari orang yang berdiri di atas sana?

Pembuktian bahwa para rasul mendapatkan pengetahuan  secara    langsung  dari   Tuhan   diterangkan Rasulullah melalui  salah  satu episode sejarahnya. Di  Arab, bila seseorang  ingin mengabarkan tentang kemunculan  suatu bahaya  maka  biasanya   ia akan mendaki  suatu  tempat  yang tinggi,  lalu berteriak, “Yaa qaum!”

Karena takut  bahaya, orang segera berlarian  mengerumuninya.

Rasulullah sendiri suatu ketika  memanfaatkan  cara ini untuk mengabarkan risalahnya.

Ia mendaki bukit Safa, lalu dari puncaknya ia  berteriak memanggil  penduduk  Makkah. Mereka yang  mendengar,   segera berlarian  ke Bukit Safa. Setelah berkumpul,  mereka  merasa bahwa  sebuah peristiwa besar akan terjadi, karena yang   mereka    hadapi adalah seorang pria yang sudah termashur ketulusan dan kejujurannya.

Rasulullah kemudian  berkata,  “Hai kaum! bagaimanakah pandangan kalian tentang diriku?”

Mereka menjawab, “Kami memandangmu sebagai orang yang jujur  dan  dapat  dipercaya.  Dalam kesalihan, kami tahu tidak  ada  orang yang melebihi dirimu.”

Kata Rasulullah selanjutnya, “Bila kukatakan pada kalian bahwa di balik bukit ini ada pasukan musuh yang siap   menyerang setiap saat, percayakah kalian?”

Orang-orang Quraisy Makkah sadar bahwa orang yang sedang berbicara dengan mereka itu tak pernah berdusta,  dan ia kini berdiri   di puncak bukit, sehingga bisa melihat ke segala  arah,  sedangkan mereka ada di kaki bukit, sehingga tidak bisa melihat   keadaan  di balik bukit. Maka mereka  pun  berkata, “Hai Muhammad, tentu saja kami akan percaya kata-katamu.”

Dengan demikian, status Muhammad diakui mereka.  Ia  pun mengabarkan bahaya yang akan menimpa para pendengarnya,   dan mengingatkan akan hukuman Allah.

Mahaagung Allah!  Itu sebuah gambaran yang memikat  tentang  keunggulan para rasul. Orang-orang kebanyakan berkumpul dikaki bukit. Di hadapan mereka berdiri  bukit  kehidupan. Betapa  pun besarnya rasa penasaran mereka untuk melihat   sesuatu yang terdapat di  balik bukit itu, mereka tidak bisa melihat.  Mereka hanya bisa melihat segala yang ada di  sisi mereka.  Sementara sang rasul berdiri di tempat yang   paling strategis, sehingga ia bisa bebas melihat ke segala sisi.  Ia mengetahui  rahasia kehidupan kini dan nanti,  sementara   ke pribadiannya bersih dari segala noda.

Jadi,  jalan manakah yang aman bagi kita?  Akankah  kita biarkan  khayalan kita berusaha menduga-duga apa yang   terdapat  di balik bukit, atau dengan sikap bijak kita mempercayai manusia-manusia  agung  yang berdiri di  puncak,  yang   bisa melihat ke segala arah?

Renungkan, dan putuskan.

Advertisements
Comments
5 Responses to “Jalan Keselamatan”
  1. reza says:

    hm..bright notes..!

    bang..kalo ada org yg percaya sama org yg berdiri di atas bukit itu, lantas ikut naik ke atas bukit itu? gimana?

    (kata Rasul: ” Lo ngapain ikut-ikut naik!!? Lo gak percaya ma gw?? hah!?)

    kaya ada overlaping tengtang siapa dulu yg harus diimani??

    please banget penjelasannya bang..

  2. reza says:

    saya keliru ya bang nanya gitu?

  3. Ahmad Haes says:

    Maaf, baru baca pertanyaan kamu!
    Ya, jelas pertanyaan kamu itu keliru!
    Selain itu, kamu kok jadi keliatan seperti ga ngerti analogi.
    Analogi itu kan biasanya dibikin utk ‘mengkonkretkan’ yang abstrak.
    Yang saya maksud abstrak itu adalah posisi atau tingkat pengetahuan rasul yang jauh di atas manusia biasa. Dalam analogi, posisi beliau dan posisi awam digambarkan (dikonkretkan) seperti orang yang berdiri di atas bukit dan orang-orang yang hanya berdiri di bawahnya.
    Secara fisik, dan itu memang ada catatan sejarahnya, bisa saja mereka yang ada di bawah ikut naik ke atas bukit. Dan seandainya orang2 Quraisy waktu itu ikut naik ke bukit, mereka tidak akan melihat “pasukan musuh” yang dikatakan beliau, karena beliau juga hanya membuat pengandaian. Pesan sebenarnya yang hendak beliau sampaikan adalah wahyu.
    Nah, kalau kamu bilang “ingin ikut naik”, maksudnya apa?
    Mau sama-sama menempati posisi rasul yang dapat wahyu Allah melalui Jibril, atau mau menerima wahyu yang ditawarkan Nabi Muhammad?
    Bila pilih yang kedua, tentu saja (logikanya), asal punya kesungguhan yang sama dengan Nabi Muhammad dalam menerima (mempelajari dan menerapkan) wahyu, kamu akan relatif sama (penguasaan ilmu dan akhlaknya) dengan beliau.
    Tapi, bila memilih yang pertama, kamu bakal jadi kembaran Mosaddeq!

  4. reza says:

    maksud saya (yg kedua)

    sungguh,memang bukan menjadi rasul, tapi ikut membuktikan ada apa dibalik bukit tsb..itu juga bukti kesungguhan kita bukan? atau kita hanya sekedar nunggu di balik bukit?

    kalo istri saya bilang gini bang..”yg bicara ialah rasul seorang mulia..knapa harus ikut naik? any reason?

    thanx bang cukup jelas

  5. Ahmad Haes says:

    Sebenarnya, wahyu memang diturunkan (= diajarkan) untuk mengangkat derajat manusia. Memindahkannya dari ‘posisi’ zhulumat (gelap; bodoh; terpuruk) ke posisi nur (terang; pintar; mulia). Dalam konteks ini, antara manusia biasa dengan para rasul adalah sama. Sama-sama dimuliakan Allah melalui wahyuNya. Nilai lebih para rasul ‘hanya’ terletak pada ‘posisi formal’ mereka sebagai petugas. Perkataan Nabi Muhammad yang sering diulang-ulang, bahwa beliau adalah hamba Allah dan rasulNya memberikan gambaran yang jelas tentang persamaan dan perbedaan antara rasul Allah dengan manusia lainnya. Posisi beliau sebagai hamba ditawarkan Allah (lewat wahyu!) kepada semua orang. Tapi posisi sebagai rasul hanya diberikan berdasar hak istimewa (prerogatif) Allah (… ana-khtartuka fa-stami lima yuha; s 20: 13). Dengan kata lain, posisi sebagai hamba bersifat terbuka, sedangkan posisi sebagai rasul bersifat tertutup. Siapa pun, sebelum kehidupan ini berakhir, bisa ‘melamar’ jadi hamba Allah. Tapi tak ada lowongan untuk menjadi rasul. Kecuali bila hanya ingin menjadi “rasul fungsional”, yang dalam hadits disebut waratsatul-anbiya’ itu lho! (para pelanjut tugas nabi-nabi!).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: