Satu Tuhan, Satu Sistem

Allah yang mampu 'memayungi' gunung dengan awan, apakah Ia tak mampu 'memayungi' manusia dengan wahyuNya? (Jawabannya ada pada hati manusia!).

Allah yang mampu 'memayungi' gunung dengan awan, apakah Ia tak mampu 'memayungi' manusia dengan wahyuNya? (Jawabannya ada pada hati manusia!).

Dunia  saat ini terbagi-bagi karena perbedaan warna  kulit,  ras,  dan kebangsaan.  Bahkan di Eropa pun kerusuhan-kerusuhan karena perbedaan warna kulit sering terjadi. Tapi  di atas dasar-dasar “kemanusiaan kolektif”  sesuai  ajaran Tauhid,  suatu tata dunia yang murni dan bebas diskriminasi bisa ditegakkan. 

Hal itu menjadi mungkin karena prinsip  yang  di tegaskan oleh Rasulullah:

Kalian  semua  berasal  dari Adam, dan Adam  diciptakan  dari tanah. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non-Arab,  dan begitu  juga sebaliknya.  Sesungguhnya yang lebih mulia  dari yang lain dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang lebih bertakwa.[1]

Bila masyarakat dibangun berdasarkan prinsip mulia  itu, setiap  orang akan senang menjalankan kebenaran dalam   hidup mereka.  Tidak akan ada monopoli oleh  suatu keluarga  atau kelompok. Para pengabdi Tauhid akan berbagi rata dalam soal kekuasaan  dan kewenangan.

Dalam  masyarakat demikian,  pemerintahan  tidak akan dijalankan berdasar pola  monarki            tapi secara  demokratis.  Bilal dari Abesinia, Suhaib  dari   Romawi, Salman dari Persia, dam Faruq atau Siddiq dari  Arab, semua akan mempunyai hak-hak yang sama.  Berbagai  rintangan geografis atau  perbedaan  rasial tidak akan  muncul  ke  permukaan.  Lengkingan seorang wanita  India yang tertekan  akan terdengar  oleh pemerintah Arabia.  Kemanusiaan  akan   dihargai.   Pemerintah dan yang diperintah, tuan dan pelayan, akan saling mencintai sebagai saudara.

Marilah  kita kutip suatu peristiwa. Seorang putra  Amru bin Al-Ash,  pemimpin Mesir, suatu ketika  mendera  seorang penduduk Mesir tanpa alasan yang jelas. Ketika kejadian  itu dilaporkan kepada Amr, ia menyuruh warga Mesir itu  melakukan pembalasan sendiri kepada sang putra.  Ia berkata  kepada  putranya,  “Sejak kapan kauperlakukan rakyat sebagai budak sedangkan mereka dilahirkan oleh ibu mereka sebagai anak yang merdeka?”

Untuk men

gakhiri konflik rasial dan berbagai konflik lain,  para filsuf Barat mengangan-angankan berdirinya  pemerintahan dunia. Tapi itu tak akan terwujud, kecuali bila dunia sudi  mengambil konsep Tauhid dan kesatuan umat manusia yang revolusioner itu. Tauhid menyediakan pedoman-pedoman   untuk kebersamaan  hidup, dan semua orang yang meyakininya  menganggap  diri mereka  sebagai para anggota suatu persaudaraan  dunia.

Tujuan dan sasaran kita,

metode dan cara berpikir kita

semua sama.

Karena   ajaran   seperti   itulah

kita   menjadi   saudara.

Kita mempunyai   satu  lisan,

satu  pikiran,

dan     satu  badan.


[1] Cuplikan dari khotbah Rasulullah dalam  Haji  Wada. (AH)

Comments
One Response to “Satu Tuhan, Satu Sistem”
  1. reza says:

    Bilal dari Abesinia, Suhaib dari Romawi, Salman dari Persia, dam Faruq atau Siddiq dari Arab, semua akan mempunyai hak-hak yang sama.

    sukurin lo indonesia gak ada..hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: