Berpikir

Banyak orang yang berpikir tapi tanpa kerangka.

Waktu kecil (7-9 tahunan), saya dan teman-teman seusia sering membuat layangan dari kertas koran, tanpa kerangka. Tentu hanya bisa membuat dalam ukuran kecil. Dan ketika kami coba menerbangkan, dia tak bisa terbang tinggi. Kalau membuat ukuran besar, coba bayangkan sendiri bagaimana jadinya bila separuh halaman koran diikat benang pada salah satu tepinya. Kami hanya bisa menggeretnya di permukaan tanah! Mengapa? Karena bentuknya tidak aerodynamic. Mungkin.

Dan bila berpikir diibaratkan membuat rumah, saya tak tahu apa jadinya rumah tanpa kerangka. Sebaliknya, banyak juga yang berpikir dengan kerangka yang dibiarkan telanjang, sehingga pikirannya jadi gentayangan seperti hantu jerangkong (tengkorak).

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan, atau setidaknya mendengar istilah kepikiran, untuk menggambarkan keadaan jiwa yang bermasalah. Salah satu contoh kasusnya, saya ambilkan lagi pengalaman di waktu kecil.

Saya pernah tinggal bersama Nenek yang memperlakukan kucing seakan-akan hewan itu anaknya. Setiap hari Nenek selalu membeli ikan untuk kucing-kucingnya, dan di rumah selalu ada besek yang diisi abu dapur tempat sang kucing buang kotoran. Bila ada kucingnya yang mati, Nenek menguburkannya seperti manusia. Menandai kuburannya dengan batu nisan, dan menaburkan bunga di atasnya.

Suatu hari, saya menjumpai seekor kucing yang terikat pada sebatang kayu, dihanyutkan di sungai. Saya, yang waktu itu masih suka mandi di sungai, dengan disemangati Emak di belakang, berusaha menggapainya. Setelah kucing itu bisa saya selamatkan, sambil menangis haru saya berusaha membuka ikatannya, lalu membawanya pulang.

Kemudian, entah berapa lama pikiran saya terganggu terus dengan peristiwa itu. Nasib kucing itu terus kepikiran. Sampai sekarang pun, saya tidak mengerti mengapa ada orang yang begitu tega mengikat kucing sperti itu dan membuangnya ke sungai.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mendengar orang mengaku berpikir, padahal sebenarnya pikirannya sedang terganggu (kepikiran) satu masalah. Kadang seorang istri kepikiran masalah yang hanya bisa dipecahkan lewat proses (misalnya dengan menunggu tanggal gajian!), tapi ia terus juga ‘berpikir’, tanpa sadar bahwa pikirannya tidak produktif, malah hanya mengganggu. Termasuk mengganggu kemesraan hubungannya dengan suami, karena ia terus mengeluh dan merengek-rengek.

Orang yang kepikiran satu masalah kadang melakukan tindakan salah, sehingga masalah baru pun timbul, dan masalah lama jadi semakin parah.

Banyak orang tidak mengerti bahwa berpikir seharusnya merupakan kegiatan memetakan masalah, sehingga tahu bagaimana (cara), dengan apa (alat; sarana), dan kapan (waktu; proses) bisa menyelesaikannya. Dan, tentu saja, banyak orang yang tidak mengerti bahwa setiap masalah dalam hidup ini selalu melibatkan peran Tuhan, peraturanNya, hukum alamNya, situasi dan kondisi lingkungan orang itu, dan peran orang itu sendiri.

Karena ‘kebodohan’ akan hal ini, banyak orang yang kecewa – bahkan sampai menyalahkan Tuhan, ketika merasa doa-doa mereka tidak didengar. Banyak orang yang berpikir (atau kepikiran?) bahwa Tuhan tidak adil karena menempatkan mereka dalam kesulitan, padahal mereka merasa sebagai orang-orang yang taat. “Mengapa saya harus hidup menderita, sedangkan orang kafir diberi segala kesenangan?” rintih seorang di antara mereka.

Memang ada orang bilang bahwa dunia ini panggung sandiwara, tapi tidak sadar bahwa ia menjadi pemain di situ.

Bila ia sadar sebagai anak wayang, dramawan, atau pemain sinetron, maka senang dan sedihnya bukan ditentukan oleh peran dalam cerita yang sedang dilakoni, tapi oleh baik atau buruknya dia bermain. Seniman panggung sejati bahkan sering tidak peduli berapa jumlah honorarium, karena bermain dengan sebaik-baiknya adalah obsesinya, tanggung jawabnya, walau dalam cerita ia cuma menjadi jongos, babu, atau bajingan sekalipun. Bahkan berbagai hambatan manggung pun diterjangnya dengan gagah, karena semboyannya sudah gamblang: the show must go on! Pertunjukan harus berlangsung. Artinya, pertunjukan tidak boleh batal atau menjadi cacat karena kemangkirannya.

Alangkah indahnya dunia ini bila cara berpikir para aktor dan aktris dibawa ke dalam kehidupan beragama. Para aktor dan aktris – dalam konteks sebuah pertunjukan – berpikir dengan kerangka yang jelas. Mereka mengetahui peran atau fungsi skenario, sutradara, pangung atau latar main (setting), dan diri mereka sendiri, yang tidak lain merupakan unsur-unsur pertunjukan. Para aktor dan aktris adalah manusia-manusia yang tahu diri secara proporsional. Tahu persis di mana posisi dan peran mereka dalam sebuah rangkaian cerita.

Sebaliknya, kita sebagai orang beragama, sering lupa posisi dan peran. Padahal, kita tahu bahwa agama adalah peraturan – yaitu semacam skenario – dari Tuhan. Karena tak pernah menyadari agama sebagai skenario, maka kita pun menjalani hidup dengan serba improvisasi, melupakan atau tak mau tahu jalan cerita yang dibuat Tuhan. Hal itulah, kata seorang teman, yang menyebabkan “seru sekalian alam”.

Bagaimana tidak seru bila improvisasi itu dilakukan di berbagai bidang kehidupan, dan bahkan sering menimbulkan benturan antar teman? Celakanya, ketika segala improvisasi itu mendatangkan macam-macam bencana, ternyata kita tidak bisa berimprovisasi walau hanya untuk memetakan masalah. Boro-boro menemukan solusi!

Lebih celaka lagi, yang paling gagap memahami masalah – ternyata – adalah para ahli agama. Mereka berkali-kali melontarkan tuduhan bahwa Tuhan murka, dan menyuruh kita semua bertobat, dengan cara berkumpul di lapangan, pakai seragam putih-putih kalau bisa, lalu – sambil pura-pura menangis – memohon Tuhan memberi ampun dan mengakat segala masalah ke langit.

Wah, masalah itu benar-benar membuat saya garuk-garuk kepala.▲

Comments
5 Responses to “Berpikir”
  1. Nainggolan says:

    Tulisan menarik. Jadi inspirasi. Salam Kenal.

  2. Ahmad Haes says:

    Terimakasih. Mudahah-mudahan melalui blog kita bisa saling mengenal dan bersahabat.

  3. reza says:

    hahaha “seru skalian alam” ..baru denger lagi tuh model terjemahan spt itu.

    bayangkan aja kalo ada sebuah drama atau film yg semua aktris/aktornya improvisasi…untuk apa dibkinin skenario..itu baru kaga seru…..

  4. Ahmad Haes says:

    Gambar anda sudah dihapus. Maaf, waktu itu saya lupa menulis asal pengambilan gambar.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Gambar di ambil dari sini […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: