Kausar Niazi (7): Mencintai Allah

BUMI5Ajaran-ajaran duniawi hanya membutuhkan apresiasi  inte­lektual,  dan orang bisa menjadi komunis atau sosialis  jika cukup  mempunyai keyakinan intelektual. Tapi doktrin  Tauhid Islam memerintahkan keyakinan lebih dalam yang meresap  pada setiap saraf manusia, sehingga mempertinggi kesadarannya. Iman  seorang muslim belum sempurna sebelum iman itu  menjadi motivasi hidupnya.

Dalam Shahih Bukhari, Abdullah bin mas’ud mengatakan  bahwa keyakinan adalah  jiwa kepatuhan.  Islam menghendaki agar orang membangun ketaatan berdasarkan  iman, bukan argumentasi. Syeikh Abdul Wahab  Sya’rani  mengatakan bahwa   iman   yang  muncul  dari  pemikiran   tidak   dapat diandalkan,[1] karena  ia akan terus  memberontak  di  sekitar argumen.

Iman dari seorang tukang debat (debator)  tak  akan pernah bebas dari bahaya. Iman kepada suatu doktrin  bukanlah hanya  menonjolkan  segi  intelektual,  tapi  juga  asimilasi (perpaduan) mental dengan doktrin itu. Iman  seperti  itulah yang  menjelma menjadi cinta yang berlimpah kepada Allah  dan kepada sesama makhluk. Dalam Al-Quran dikatakan bahwa  orang-orang beriman mempunyai sejumlah tanda. Salah satu di antara­nya  adalah menjadi pusat perhatian karena  kecintaan  mereka kepada Allah.

Ada orang yang beranggapan bahwa mencintai Allah  berarti harus menjauhi segala sesuatu, hanya memuja Allah dengan  menyingkirkan  segala tanggung-jawab duniawi,  menjauhkan  diri dari  istri dan anak. Ini bukan mencintai Allah  tapi  menen­tangNya, dan mengundang murkaNya.

Islam tidak melarang  cinta kepada  keluarga, tidak mengharuskan kita keluar  dari tanggung-jawab  duniawi.  Imam  Ibnu Taimiyyah  mengatakan  bahwa tugas para rasul bukanlah untuk mengubah fitrah manusia,  tapi untuk mengarahkan agar hidup manusia mempunyai arti.  Menjelmakan  kecintaan terhadap Allah dengan  mengabaikan  diri, jelas mengarah  pada tindakan melawan naluri.

Memang  benar bahwa cinta kepada Allah membutuhkan tindakan menjauhkan  diri  dari dunia, tapi bukan dengan mengabaikan  hak-hak istri  dan  anak. Bukan mengingkari fitrah[2] kita sebagai  manusia. Bila kita harus memilih antara mencintai Allah dan dunia, maka dalam pilihan itu ada sejumlah pengecualian. Bila demi  cinta  kepada  Allah memang diperlukan pengorbanan kehidupan,  maka itu harus dilakukan tanpa ragu, dan dalam melakukan  tindakan itu hendaknya kita berpikir:

Aku tinggalkan kehidupan; itu adalah anugerahNya.

Kenyataannya masih saja hutangku tak terlunaskan.


[1] Bukan berarti bahwa agama (Islam) harus diterima tanpa  melibatkan pikiran. “Iman yang muncul dari pikiran” harus dipaha­mi  sebagai  suatu bentuk kreatifitas dalam  mengakui  adanya Allah  berdasarkan pertimbangan logis, tapi bersamaan  dengan itu  menolak bahwa Allah menurunkan wahyu. Orang seperti  ini biasanya  cenderung  menciptakan agama sendiri,  agama  otak. (AH)

[2] Fitrah secara harfiah antara lain berarti ciptaan, sama  dengan  makhluk (makhluq). Pengertian lain dari  fitrah  adalah konsep penciptaan. Inilah yang sering kita kaitkan dengan manusia,  melahirkan istilah “fitrah manusia”. Banyak orang  men­gaitkan fitrah manusia dengan kebutuhan fisik dan  psikologis manusia,  seperti kebutuhan manusia untuk makan, minum,  berpakaian,  bertempat tinggal, berpasangan, dan  bermasyarakat. _Ini bukan persepsi yang salah. Tapi bila kita perhatikan Quran,  antara lain surat Ar-Rum ayat 30, pengertian fitrah  manusia jelas tidak terpisahkan dari fungsi agama (Islam).  Dalam ayat tersebut ditegaskan agar manusia membentuk pandangan hidup  berdasar agama Allah, yang telah dirancang sesuai  dengan  konsep penciptaan (fitrah) manusia. Jadi  antara  Islam dan  manusia sebenarnya tidak perlu ada pertentangan,  karena Islamlah  jodoh  manusia. Dengan beragama Islam,  kita  tidak perlu  takut bahwa kebutuhan manusiawi kita  akan  dikurangi. Cuma masalahnya mungkin nafsu kita yang selalu meminta lebih. (AH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: