Kausar Niazi (5): Ciri-ciri Keesaan Allah

JAM2Bila  kita perhatikan seperangkat jam,  kita  akan  tahu bahwa di dalamnya terdapat sejumlah peralatan besar dan  kecil, yang semua  bekerja dalam keselarasan. Kita takjub pada susunannya  yang  rumit,  pada kecerdikan  pembuatnya.  Kita mengagumi sang pembuat jam  sebagai orang yang pasti  sangat pintar. Bila pandangan kita alihkan pada keajaiban alam, kita  menyadari bahwa Zat yang  menciptakan keajaiban itu  tak mungkin  buta, tuli, atau bisu, tapi amat  sangat  sempurna.

Tentang  sifat-sifat Allah, Imam Malik  memberikan  gambaran yang  jitu:

“Tidak terhitung banyaknya manusia  yang  telah menghuni  dunia ini sejak awal penciptaannya,  tapi  anehnya tidak ada wajah-wajah sama. Wajah manusia, dengan bibir, pipi, mata, dan giginya  adalah benda-benda kecil.  Tapi  sang Pencipta yang mahacerdik itu mampu memberikan ciri-ciri khas pada  setiap wajah.  Kemampuan dan kecakapan  sang  Pencipta itu hampir tidak bisa diukur oleh kecerdasan manusia, kecua­li bila Dia sendiri yang mengungkapkan.”

Beberapa  agama  dan filsafat mengakui adanya  dewa  yang mereka anggap tidak bertanggungjawab terhadap peredaran  alam semesta.  Menurut  mereka sang dewa ini  telah  mendelegasikan kekuasaannya  kepada dewa-dewa kesayangannya, atau  dewa-dewa kecil  ciptaannya, untuk memelihara dunia.  Sebaliknya  Islam mengajarkan bahwa bagian terkecil dari alam, hingga  matahari yang  terang benderang, adalah saksi-saksi bagi  keesaan  Allah.

“Tembuslah jantung suatu partikel; maka anda  akan  menemukan  di dalamnya darah  yang sama dengan darah yang  membentuk inti matahari.”

Tidak bisa diragukan bahwa Allah sendirilah yang  menga­tur  dunia ini. Dunia ini adalah ‘budak’ bagi  kehendak  dan perintahNya. Bila tidak demikian, bagaimana orang bisa  menjelaskan  kerjasama antar segala unsur?  Bagaimana  matahari terbit  dan terbenam; siang berganti malam;  bagaimana  cara kerja angin, cuaca, dan halilintar; bagaimana timbulnya  musim   panen, dan pemandangan-pemandangan lain  yang  membuat kita dipenuhi dengan berbagai rasa heran dan kagum?

Kita  tidak bisa melihat Allah, tapi kita merasakan  kasihNya,  bukti kehadiranNnya, serta berbagai pernyataan  kekuasaanNya. KebijaksanaanNya membuat kita kagum. Kita  memu­jaNya bukan semata-mata karena takut, tapi karena kita yakin akan  sifat-sifatNya seperti yang digambarkan Al-Quran.  Keyakinan itu akan menambahkan  kedalaman dan dimensi hubungan kita dengan Allah, menumbuhkan dalam jiwa kita perasaan  takut dan sekaligus cinta kepadaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: