Kausar Niazi (1): Setiap Rasul Memaklumkan Keesaan Allah

Buku Kausar Niazi, Bab 1, tentang “Keesaan Tuhan”

Jagat raya yang tertata sempurna. Mustahil tiada pencipta.

Jagat raya yang tertata sempurna. Mustahil tiada pencipta.

Setiap rasul sebelum rasul terakhir, Muhammad saw,  pada dasarnya mengajak manusia untuk  “mengabdi kepada Tuhan yang sebenarnya.”  Inilah inti pesan setiap rasul  Allah.  Yusuf, ketika dalam penjara, berkata kepada para penghuni  penjara, “Bisakah tuhan-tuhan palsu yang banyak itu mengungguli Tuhan tunggal yang mahakuasa?”  Syuaib dan Hud mengawali da’wahnya dengan mengatakan, “Mengabdilah kepada Allah, jangan  kepada yang  lain.”  Nabi Nuh pun memberi  peringatan tegas  kepada umatnya:

“Takutlah kalian kepada Allah. Hanya dia yang harus kalian puja dan patuhi.”

Dengan demikian,  jelaslah bahwa da’wah umum para  rasul adalah  kebenaran abadi yang menerangi jiwa mereka, dan  karena  itu memancar ke dalam jiwa manusia.  Di setiap  zaman, konsep tentang Tuhan lebih banyak disambut daripada ditolak.

Bila orang sakit mengatakan pahit pada makanan yang  sebenarnya lezat, itu karena lidahnya yang merasakan  demikian.

Bukan  makanan itu yang tidak enak,  tapi dialah  yang  tidak dapat mengecap rasa yang sebenarnya.  Persis seperti  itulah, di setiap zaman, orang-orang yang sakit secara spiritual  telah  menolak eksistensi Tuhan.  Namun cacad mereka itu  tidak dapat  mengubah kebenaran Tauhid yang memang tidak  bisa  dibantah.

Ajaran tentang keesaan  Tuhan dirasakan oleh naluri  manusia,  dan ini ditegaskan dengan suatu contoh dalam Al-Quran. Ketika Tuhan menciptakan manusia, pertanyaan yang pertama diajukan kepada manusia adalah: “Bukankah Aku ini  penciptamu?”[1] Dan manusia pun menjawab: “Benar.  Engkau  pencipta kami. Kami menjadi saksi.” Al-Quran menegaskan bahwa  perjanjian  itu dilakukan dengan  manusia agar kelak manusia  tidak mengingkari  kesaksian mereka akan kebenaran.  Dalam  jawaban yang diberikan manusia tersebut tercakup ajaran agung tentang keesaan  Tuhan, yang kita akui secara naluri  menjadi  bagian dari  syahadat  kita. Para rasul sebagai  Reformer  (pembaru, atau pelurus) mendakwahkan doktrin ini, yang sebenarnya sudah menjadi kesepakatan kita dengan Tuhan sejak awal  penciptaan.

Menolak kenyataan itu pada masa hidup kita sekarang  hanyalah berarti mengundang kerusakan. Kita, kaum muslimin yang  telah meniup terompet seruan  “Dalam hati kami ada kesaksian tentang keesaan Tuhan”,  kenyataannya kadang kita sendiri menyimpang.

“Lupakah kita pada perjanjian naluriah itu?”

Cinta duniakah yang menyebabkan kita lupa Tuhan?


Catatan: Dalam ayat tersebut (Al-A’raf: 172), sebenarnya Allah menggunakan  istilah  Rabb, yang pengertiannya sama  dengan  Sayyid (tuan,  pemimpin) dan Malik (pemilik, penguasa, dsb.),  tapi penulis buku menerjemahkannya sebagai Creator (pencipta), yang dalam bahasa aslinya Al-Khalik. (AH

Comments
2 Responses to “Kausar Niazi (1): Setiap Rasul Memaklumkan Keesaan Allah”
  1. reza says:

    saya pernah main catur dgn seorang kawan, dia sering kalah.
    kesekian kalinya dia main catur lagi dgn saya..tapi tidak duduk di kursinya tapi dia berada dekat kursiku sambil melihat tatanan bidak caturku..lantas main lagi..dia sudah tahu gerak permainanku..selamat..

    apakah kebenaran cuma ada di satu sisi?

  2. Ahmad Haes says:

    Kalau yang kamu maksud “sisi” itu adalah “sudut pandang” atau “metode” dalam arti “scientific approach”, maka benarlah kata orang selama ini bahwa “kebenaran itu relatif”. Saya setuju dengan ‘dalil’ itu. Kebenaran memang relatif alias “tergantung” atau “berhubungan dengan…”; yaitu tergantung pada narasumbernya berikut sudut pandangnya. Berdasar itu, saya suka dengan ayat yang berbunyi: “al-haqqu min-rabbika…”; yang saya pahami bahwa kebenaran yang saya terima hanyalah kebenaran yang relatifitasnya atau relasinya mengacu ke Allah, karena hanya Allah yang memiliki otoritas untuk mengklaim dan mampu membuktikan klaimNya. Bila relasinya mengacu ke sebuah buku atau ke seseorang, saya ragu dengan otoritasnya dan kemampuannya membuktikan klaimnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: