Kausar Niazi (3): Bisakah Perahu Kertas Menyeberangi Lautan?

UNDER WATER

Bila dicari petunjuk dari akal manusia dalam batas-batas yang  ditentukan sang Pencipta,  niscara tak akan timbul masalah-masalah rumit,  dan pengakuan tentang adanya Tuhan akan tampil  sendiri sebagai  suara naluri. Ibnu Abbas menyimpulkan  bahwa  dalam keterbatasan  akal manusia sekalipun,  dapat dipahami  bahwa  rangkaian penciptaan harus berakhir pada sang Pencipta.  Dia yang tidak punya  pendahulu dan tidak bisa digantikan adalah Tuhan  yang pertama dan terakhir.  Jadi,  mempersoalkan  dan mencari pencipta dari sang Pencipta jelas merupakan tindakan yang  bertentangan dengan akal. Hakikatnya,  akal  berfungsi dengan benar pada saat ia menyadari keterbatasannya, dan menyerah kepada yang Mahakuasa, yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal untuk memahami.  Hal ini digambarkan Iqbal  dengan sangat baik:

“Dalam kerumitan Alam Semesta, sang akal tersesat

Ia hanya bisa mencapai tujuan melalui ajaran Tuhan.

Tanpa Tuhan, bagaimana sang akal yang malang

mampu mencapai tujuan?

Bagaimana perahu kertas bisa menyeberangi lautan?”

Bila akal tidak melanggar perbatasan,  ia akan  menyadari bahwa  bagian dari alam ini menjadi saksi kebenaran Tuhan.

Seorang  pemuja  berhala bertanya kepada  Imam  Syafi’i, “Apakah  yang  menjadi  bukti bahwa Allah  itu  ada?”

Sambil menunjuk sebatang pohon, sang Imam menyahut, “Lihat pohon murbai  itu.”

Sang pemuja berhala berteriak keheranan.  “Ada apa di pohon itu?” Imam Syafi’i  berkata, “Perhatikanlah  daunnya.  Daun-daun itu tampak tidak berarti.  Tapi bila  orang menyadari  manfaatnya, ia bisa pingsan karena takjub.  Ketika daun itu dimakan rusa, ia berubah menjadi tanduk. Ketika  dimakan  lebah, ia berubah menjadi madu. Ketika  disantap  ulat sutra, ia berubah jadi sutra.  Masih daun itu pula, bila  di-makan kambing, berubah jadi tahi kambing. Mampukah akal  membayangkan, tanpa bantuan sang Pencipta, bahwa daun-daun  yang ‘tak berarti’ itu ternyata mengandung berbagai nilai?”

Dengan caranya yang istimewa itu Imam Syafi’i telah menjelaskan ajaran Tauhid. Semakin dalam orang merenungkan  rahasia-rahasia  alam yang menakjubkan, akan semakin cepat  ia mengakui kehinaannya di hadapan Allah.

Orang-orang yang terpesona  pada keterangan para ilmuwan sebaiknya bertanya  kepada  mereka: ada apa di balik segala keajaiban ini?  Mereka akan  mengatakan bahwa penyebab terang bumi ini,  bulan  dan matahari,   masing-masing   mempunyai  jarak   240.000   dan 99.300.000  mil dari bumi. Sedangkan bintang-bintang  meman-carkan  cahaya  kepada kita dari jarak empat seperempat  tahun; padahal kecepatan cahaya per detik adalah l86 mil.

Itu baru bintang-bintang yang terdekat dari matahari dan  bulan.

Ilmu pengetahuan mengungkapkan tentang bintang-bintang  lain yang membutuhkan waktu jutaan tahun hingga cahayanya  mencapai kita, dan masih banyak lagi bintang yang hingga kini cahayanya  belum sampai pada kita.

Keajaiban alam semesta  selamanya menjadi pangkal ketakjuban manusia, yang tidak  bisa berbuat lain kecuali menundukkan diri dalam kepatuhan di hadapan Allah, sambil secara tak sadar bergumam:

Mahaagung Allah, sang Pencipta tiada tara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: